MRT: Peradaban Baru ala Jokowi, Bukti Indonesia Negara Maju

Ini foto-foto lawas. Pernah mencicipi Metro -sebutan kereta bawah tanah- di Amsterdam, Paris, Washington DC, Moskow dan Saint Petersburg. Juga MRT di Singapura. Juga LRT di Kuala Lumpur dan Bangkok.
 
Tapi, sensasinya luar biasa berbeda. Amat bangga ketika Mass Rapid Transit alias Moda Raya Terpadu itu hadir di negeri sendiri. Perjalanan panjang Jakarta punya MRT dimulai sejak studi dan rintisan pada 1981 yang dengan bantuan JICA dari Jepang melalui project ‘Jakarta Metropolitan Area Transportation’.

Continue reading “MRT: Peradaban Baru ala Jokowi, Bukti Indonesia Negara Maju”

CHECK IN: PLM

Terimakasih Tuhan, untuk kali ketiga bisa mendarat di ‘Bumi Sriwijaya’.

Diberkatilah kota ini, Plembang. Diberkatilah provinsi ini: Sumatera Selatan, yang hidupnya berjalan di bawah kebesaran masa lalu, sebuah kemaharajaan bahari dengan kekuasaan membentang hingga Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera dan sebagian Jawa.

Continue reading “CHECK IN: PLM”

CHECK IN: DPS

Selalu menyenangkan ke BaLi. Provinsi yang kerap diplesetkan sebagai ‘Banyak Libur’ ini masih jadi tulang punggung utama pariwisata Indonesia.

Kehidupan berjalan tenang. Menghormati perbedaan. Pluralisme dan toleransi terhadap penduduk asli maupun pendatang berjalan baik. Dan lihatlah, nuansa religiusnya itu terpancar saat masuk ATM di kawasan Kuta. Setiap mesin ATM, kecuali satu yang sedang ‘out of service’ masing-masing diberi bunga-bunga perlambang doa. Agar hari ini lancar, sehat, semua usaha dan transaksi berjalan sae. Continue reading “CHECK IN: DPS”

CHECK IN: BIK

Biak. Ini nama pulau di atas leher burung Papua yang masuk sebagai satu kabupaten di kawasan Teluk Cenderawasih. Nama bandaranya, Frans Kaisiepo, diambil dari pahlawan nasional yang jadi Gubernur Irian Barat 1964-1973. Anda pasti akrab dengan tokoh ini karena wajahnya ada di lembaran uang Rp 10 ribuan. Frans terlibat dalam Konferensi Malino 1946 mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam Bahasa Biak, artinya ’tanah yang panas’. Belakangan, Bung Karno memanjangkan makna IRIAN sebagai ‘Ikut Republik Indonesia Anti Nederland’. Continue reading “CHECK IN: BIK”

CHECK IN: SUB

Agustus 2001, saya yang kala itu berusia 24 tahun, mengantar Albert Brunoni, seorang sahabat bule Jerman ke Bandara Juanda, di kota tempat saya lahir dan dibesarkan.
 
Saat itu saya bilang, “Bro Albert, saya berkali-kali datang ke bandara ini untuk mengantar atau menjemput seseorang naik atau turun pesawat di kota saya ini. Tapi, sekalipun saya belum pernah merasakan gimana rasanya naik pesawat itu…”

Continue reading “CHECK IN: SUB”