I Amsterdam

Catatan kenangan dua tahun silam, serba-serbi menginjak Amsterdam.

Metro alias kereta bawah tanah Amsterdam. Pilihan lain transportasi cepat dan teratur..

Hari Minggu pertama di negeri tulip dipayungi cuaca cerah. Sebagian besar dari kami, 18 aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang hendak mengikuti kursus jurnalisme online selama tiga pekan di Radio Netherland Training Centre (RNTC) membulatkan tekad menjelajah ibukota Belanda.

Pelajaran pertama yang harus kami lewati untuk mencapai Amsterdam adalah bagaimana membeli karcis kereta api via mesin pencetak tiket otomatis. Kami pun langsung berakrab dengan mesin pencetak tiket dengan layar sentuh yang menyajikan layanan bilingual: Dutch and English. Pencet-pencet tangan di atas kaca, selesailah masalah. Saya memilih tiket ke Stasiun Amsterdam Central, untuk satu orang bolak-balik (return) pada hari Minggu, 25 April di kelas 2. Total uang koin yang mesti saya masukkan 8 euro 10 sen.

Continue reading “I Amsterdam”

Ternyata Belanda Benar-Benar Ada

Catatan kenangan dua tahun silam, hari pertama menjelajah Eropa.

Landed at Schiphol. One of the busiest airport in Europe.

Rasa lelah selama dua belas setengah jam perjalanan udara mendadak sirna saat roda Boeing 747-400 milik maskapai Malaysia Airlines (MAS) yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Schiphol, Amsterdam pagi tadi. Sebelum mendarat, kapten pilot mengumumkan lewat pengeras suara bahwa penerbangan sejauh 10.500 kilometer dari Kualalumpur ini akan berakhir dengan cuaca cerah di ibukota Belanda. “Suhu udara di luar sekitar enam derajat celcius,” kata pilot Fahri yang -seperti juga penerbangan MAS lainnya- selalu mengawali sapaan kepada penumpang dengan salam, “Tuan-tuan dan puan-puan.”

Continue reading “Ternyata Belanda Benar-Benar Ada”

Sepenggal Senja di Kaki Sulawesi

Dari era revolusi hingga kini membangun diri sebagai kota modern, Makassar tetaplah primadona wisata. Destinasi plesir nomer satu di Indonesia bagian Timur.

Benteng/Fort Rotterdam. Belum ke Makassar kalau belum ke sini.
Benteng/Fort Rotterdam. Belum ke Makassar kalau belum ke sini.

Jarum jam belum menunjukkan pukul lima petang, tapi matahari sudah beranjak ke langit barat. Inilah suasana khas daerah di kawasan Timur Indonesia: mentari terbit lebih pagi, tapi kemudian tenggelam lebih awal, setidaknya bila dibandingkan kota-kota di wilayah lain.

Continue reading “Sepenggal Senja di Kaki Sulawesi”

Jalur sepeda Yogya: Inisiatif yang belum optimal

Yogya punya jalur sepeda dan jalan alternatif khusus bagi bikers. Optimalkah pemanfaatannya?

Jalan alternatif sepeda. Masih banyak belum dimanfaatkan dan diserobot pengendara motor.

Lebih setahun Pemerintah Kota Yogyakarta menunjukkan kepeduliannya bagi pesepeda dengan menyediakan “jalur sepeda” dan jalan alternatif pesepeda. Hampir di setiap ruas jalan strategis kota Yogyakarta terdapat lajur di sebelah kiri yang khusus dikosongkan untuk para pesepeda, serta petunjuk yang mengarahkan pesepeda menuju jalan alternatif. Tapi, apakah kebijakan itu telah efektif?

Continue reading “Jalur sepeda Yogya: Inisiatif yang belum optimal”

#Football Evangelist: Kafe Persib yang numpang Persib

Kecele. Tak ada kesan lain mewakili kata itu.

Menu andalan kafe Persib. Sop buntut Maung Bandung.

Hampir lima bulan tak menyambangi Bandung, malam ini saya berpikir keras tatkala menghabiskan malam di kota yang bulan lalu berhari jadi ke-200 ini. Inilah Parijs van Java, wilayah tetirah warga ibukota yang identik dengan perempuan manis, pusat mode, pepohonan, bandrek, dan warna biru ini. Apalagi ya yang similar dengan kota bertinggi 768 meter di atas permukaan laut dan dihuni 2,3 juta jiwa ini?

Continue reading “#Football Evangelist: Kafe Persib yang numpang Persib”

Jendela Singapura bernama Bintan

 

Pembukaan Tour de Bintan di Simpang Lagoi, Bintan. Jadi hiburan masyarakat.

 

Apa bedanya modus turis mancanegara dan wisataman domestik dalam berwisata? “Orang Indonesia itu, misalnya waktu rekreasinya 24 jam, kalau bisa dia di hotel 4 jam, sementara yang 20 jam jalan-jalan. Beda dengan turis asing, mereka rekreasi untuk mencari ketenangan. Kalau bisa, 24 jam di hotel atau sekitar penginapan saja,” kata Aji, seorang pengusaha penyewaan mobil, rekan seperjalanan dalam ferry dari Batam menuju Bintan.

Continue reading “Jendela Singapura bernama Bintan”

Menghantam Batam

 

Bandara Hang Nadim, pintu gerbang utama Batam. Foto dua tahun silam, akhir 2008.

 

Jum’at, 15 Oktober 2010 tercatat sebagai perjalanan kedua saya menghantamkan kaki di Pulau Batam. Yang pertama akhir 2008, saat menyambangi koresponden CVC di kota berpenduduk sejuta jiwa itu. Hari ini, jejak sepatu kets saya kembali tertera di bandar udara Hang Nadim, meski hanya numpang lewat. Berbeda dengan dua tahun silam yang sempat main-main ke Nagoya -pusat kota Batam- kali ini saya hanya mampir bandara, untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur.

Continue reading “Menghantam Batam”

Sabang, Masih Ada Asa Tersisa

Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 20 Februari 2005

Keindahan pantai Pulau Weh masih mempesona.

Monumen kilometer nol batas paling barat Indonesia. Kapan ya bisa ke batas paling timur Indonesia?

Gempa dahsyat 8,9 skala Richter diikuti gelombang tsunami yang meluluhlantakkan wilayah pantai barat Aceh akhir tahun lalu sempat membuat putus arus transportasi dan komunikasi Banda Aceh dengan dunia sekitar. Termasuk dengan Pulau Weh, pulau paling barat di peta Indonesia. Nusa dengan 24 ribu penduduk yang masuk dalam wilayah kota Sabang ini jadi tak jelas kabarnya.

Ketika sebagian besar kota Banda Aceh yang berada di sudut pantai barat Samudra Indonesia hancur lebur, orang pun berpikir, Pulau Weh yang bak noktah kecil di pusaran air besar pasti sudah tamat riwayatnya. Terbayang pula, lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Surarjo bakal direvisi liriknya.

Continue reading “Sabang, Masih Ada Asa Tersisa”