Jalur sepeda Yogya: Inisiatif yang belum optimal

Yogya punya jalur sepeda dan jalan alternatif khusus bagi bikers. Optimalkah pemanfaatannya?

Jalan alternatif sepeda. Masih banyak belum dimanfaatkan dan diserobot pengendara motor.

Lebih setahun Pemerintah Kota Yogyakarta menunjukkan kepeduliannya bagi pesepeda dengan menyediakan “jalur sepeda” dan jalan alternatif pesepeda. Hampir di setiap ruas jalan strategis kota Yogyakarta terdapat lajur di sebelah kiri yang khusus dikosongkan untuk para pesepeda, serta petunjuk yang mengarahkan pesepeda menuju jalan alternatif. Tapi, apakah kebijakan itu telah efektif?

Continue reading “Jalur sepeda Yogya: Inisiatif yang belum optimal”

#Football Evangelist: Kafe Persib yang numpang Persib

Kecele. Tak ada kesan lain mewakili kata itu.

Menu andalan kafe Persib. Sop buntut Maung Bandung.

Hampir lima bulan tak menyambangi Bandung, malam ini saya berpikir keras tatkala menghabiskan malam di kota yang bulan lalu berhari jadi ke-200 ini. Inilah Parijs van Java, wilayah tetirah warga ibukota yang identik dengan perempuan manis, pusat mode, pepohonan, bandrek, dan warna biru ini. Apalagi ya yang similar dengan kota bertinggi 768 meter di atas permukaan laut dan dihuni 2,3 juta jiwa ini?

Continue reading “#Football Evangelist: Kafe Persib yang numpang Persib”

Jendela Singapura bernama Bintan

 

Pembukaan Tour de Bintan di Simpang Lagoi, Bintan. Jadi hiburan masyarakat.

 

Apa bedanya modus turis mancanegara dan wisataman domestik dalam berwisata? “Orang Indonesia itu, misalnya waktu rekreasinya 24 jam, kalau bisa dia di hotel 4 jam, sementara yang 20 jam jalan-jalan. Beda dengan turis asing, mereka rekreasi untuk mencari ketenangan. Kalau bisa, 24 jam di hotel atau sekitar penginapan saja,” kata Aji, seorang pengusaha penyewaan mobil, rekan seperjalanan dalam ferry dari Batam menuju Bintan.

Continue reading “Jendela Singapura bernama Bintan”

Menghantam Batam

 

Bandara Hang Nadim, pintu gerbang utama Batam. Foto dua tahun silam, akhir 2008.

 

Jum’at, 15 Oktober 2010 tercatat sebagai perjalanan kedua saya menghantamkan kaki di Pulau Batam. Yang pertama akhir 2008, saat menyambangi koresponden CVC di kota berpenduduk sejuta jiwa itu. Hari ini, jejak sepatu kets saya kembali tertera di bandar udara Hang Nadim, meski hanya numpang lewat. Berbeda dengan dua tahun silam yang sempat main-main ke Nagoya -pusat kota Batam- kali ini saya hanya mampir bandara, untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur.

Continue reading “Menghantam Batam”

Sabang, Masih Ada Asa Tersisa

Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 20 Februari 2005

Keindahan pantai Pulau Weh masih mempesona.

Monumen kilometer nol batas paling barat Indonesia. Kapan ya bisa ke batas paling timur Indonesia?

Gempa dahsyat 8,9 skala Richter diikuti gelombang tsunami yang meluluhlantakkan wilayah pantai barat Aceh akhir tahun lalu sempat membuat putus arus transportasi dan komunikasi Banda Aceh dengan dunia sekitar. Termasuk dengan Pulau Weh, pulau paling barat di peta Indonesia. Nusa dengan 24 ribu penduduk yang masuk dalam wilayah kota Sabang ini jadi tak jelas kabarnya.

Ketika sebagian besar kota Banda Aceh yang berada di sudut pantai barat Samudra Indonesia hancur lebur, orang pun berpikir, Pulau Weh yang bak noktah kecil di pusaran air besar pasti sudah tamat riwayatnya. Terbayang pula, lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Surarjo bakal direvisi liriknya.

Continue reading “Sabang, Masih Ada Asa Tersisa”