Menghantam Batam

 

Bandara Hang Nadim, pintu gerbang utama Batam. Foto dua tahun silam, akhir 2008.

 

Jum’at, 15 Oktober 2010 tercatat sebagai perjalanan kedua saya menghantamkan kaki di Pulau Batam. Yang pertama akhir 2008, saat menyambangi koresponden CVC di kota berpenduduk sejuta jiwa itu. Hari ini, jejak sepatu kets saya kembali tertera di bandar udara Hang Nadim, meski hanya numpang lewat. Berbeda dengan dua tahun silam yang sempat main-main ke Nagoya -pusat kota Batam- kali ini saya hanya mampir bandara, untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur.

Continue reading “Menghantam Batam”

AJI Jakarta sesalkan intervensi pemerintah dan pemilik modal atas redaksi Liputan 6 SCTV

Sigi tersandera, masyarakat dirugikan. Intervensi ruang redaksi melanggar kebebasan pers.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta menyesalkan pelarangan penayangan program investigasi “Sigi” berjudul “Bisnis Seks di Balik Jeruji Penjara” yang disiapkan Redaksi Liputan 6 SCTV untuk ditayangkan pada Rabu (13/10) pukul 23.00 WIB . Program itu gagal tayang menyusul intervensi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang dipimpin politikus Partai Amanat Nasional, Patrialis Akbar, dan manajemen SCTV yang dipimpin Fofo Suriaatmadja.
Continue reading “AJI Jakarta sesalkan intervensi pemerintah dan pemilik modal atas redaksi Liputan 6 SCTV”

Perkenalkan: Jojo dan Sinta endorser KB

 

Cuplikan adegan Jojo-Sinta dalam iklan Genre BKKBN. Ogah kawin muda.

 

Berapa umur Jojo dan Sinta sehingga mereka memutuskan ikut Keluarga Berencana? Tidak usah dipikirkan jawabnya, tapi percaya atau tidak, mereka kini menjadi ikon KB, dalam sebuah iklan keluaran BKKBN, badan yang mengurusi perencanaan keluarga di Indonesia. Duet ‘mendadak tenar’ ini tampil di layar kaca untuk mengingatkan potret keluarga muda yang gagal dalam membina keluarga, akibat membangun rumah-tangga tanpa perencanaan. Sudah pernah lihat tayangannya, kan seperti tertaut di sini, kan…

Continue reading “Perkenalkan: Jojo dan Sinta endorser KB”

Hope: Harapan untuk Indonesia

Pandji, salah seorang penutur dalam "Hope"

Ini film dokumentar keempat yang dibuat sutradara muda Andibachtiar Yusuf dalam bendera Bogalakon Pictures. Sebelumnya Ucup –begitu sapaan penggila bola yang lulusan jurnalistik Universitas Padjajaran ini akrab disapa- telah melahirkan The Jak (2007), The Conductors (2008) dan Romeo Juliet (2009). Rencananya, Hope akan diputar perdana pada Jakarta Internasional Film Festival (JIFFEST) Desember mendatang.

“Indonesia akan begini-begini aja kalo loe cuma bisa protes,” kalimat dari Pandji Pragiwaksono, presenter yang juga dikenal sebagai penyanyi hip-hop itu seperti menjadi kata kunci film berdurasi 76 menit ini.

Continue reading “Hope: Harapan untuk Indonesia”

“Sepakbola adalah agama saya…”

Di Inggris sudah biasa orang mengakui “football” sebagai agama mereka

Mengunjungi Stadion Arena, markas Ajax Amsterdam. Salah satu kiblat sepakbola Eropa.

Rasanya tidak ada hal lain, di luar agama, yang mampu menyatukan sekelompok manusia dibandingkan fanatisme terhadap tim sepakbola. Itulah yang kita lihat dalam gemerlap pesta bola di Afrika Selatan sepanjang 11 Juni hingga 11 Juli ini.

Sepakbola memang bak punya kuasa magis untuk menimbulkan passion alias gairah tersendiri. Bill Shankly, salah seorang manajer tersukses di Liga Inggris, pernah berkata, “Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it’s much more serious than that.”

Continue reading ““Sepakbola adalah agama saya…””

Relawan FPI Tidur di Kuburan

FPITEMPO Interaktif, Jakarta:Front Pembela Islam (FPI) selama ini dikenal sebagai perusak tempat-tempat hiburan yang buka saat bulan puasa. Atau penggerebek tempat-tempat judi. Namun, karena tindakannya dianggap berlebihan, serta melampaui kewenangan, yang datang justru kecaman.

Dalam peristiwa bencana tsunami di Aceh, FPI justru membuahkan hasil yang menggembirakan. Relawan FPI-lah yang menemukan mayat, Jurubicara Polda Aceh, Sayed Husaini, padahal selama ini FPI sering berseberangan dengan polisi. Di Aceh, FPI juga tidak terdengar bentrok dengan relawan lain, baiki sipil, militer maupun asing.

Continue reading “Relawan FPI Tidur di Kuburan”

Setahun Hari Batik Nasional…

 

Himbauan memakai batik di dunia pendidikan, kampus Mercu Buana Meruya.

 

Pekan ini, kita memperingati satu tahun Hari Batik Nasional, setelah pada 2 Oktober 2009 silam Badan PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sosial budaya mengakui batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia.

Setahun berselang dari pengakuan dunia itu, kecintaan dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap batik ternyata tidak berkurang. Di kampus Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta misalnya, mahasiswa disarankan memakai baju batik selama perkuliahan 2 dan 3 Oktober. ”Kami ingin menghargai budaya nasional dan mengangkat batik sebagai warisan kultural yang telah diakui dunia,” kata Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UMB, Heri Budianto.

Continue reading “Setahun Hari Batik Nasional…”

Sabang, Masih Ada Asa Tersisa

Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 20 Februari 2005

Keindahan pantai Pulau Weh masih mempesona.

Monumen kilometer nol batas paling barat Indonesia. Kapan ya bisa ke batas paling timur Indonesia?

Gempa dahsyat 8,9 skala Richter diikuti gelombang tsunami yang meluluhlantakkan wilayah pantai barat Aceh akhir tahun lalu sempat membuat putus arus transportasi dan komunikasi Banda Aceh dengan dunia sekitar. Termasuk dengan Pulau Weh, pulau paling barat di peta Indonesia. Nusa dengan 24 ribu penduduk yang masuk dalam wilayah kota Sabang ini jadi tak jelas kabarnya.

Ketika sebagian besar kota Banda Aceh yang berada di sudut pantai barat Samudra Indonesia hancur lebur, orang pun berpikir, Pulau Weh yang bak noktah kecil di pusaran air besar pasti sudah tamat riwayatnya. Terbayang pula, lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Surarjo bakal direvisi liriknya.

Continue reading “Sabang, Masih Ada Asa Tersisa”

Jurnalisme twitter, bikin wartawan nggak pinter?

Akun TIfatul Sembiring di twitter (gambar milik Politikana.com)

Suatu siang di Istana Negara, berlangsung acara seremonial pelantikan pejabat. Di sela-sela kebosanan acara, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring sibuk mengupdate akun twitter­nya. Menteri kelahiran  Sumatera Barat ini memang gemar berpantun dan memberi siraman rohani secara virtual. Posisi berdiri tidak mengganggu habit Pak Menteri memencet-mencet telepon seluler. Sampai suatu saat, masuk sebuah tweet. Seorang wartawan yang juga meliput acara itu mengirim kicauan ke akunnya, @tifsembiring. “Kok nunduk terus, Pak.. Asyik twitteran ya?” Sontak Tifatul mendongak, mencari siapa gerangan wartawan yang iseng mengirim pesan itu.

Continue reading “Jurnalisme twitter, bikin wartawan nggak pinter?”

THR, dilema menjelang hari raya…

Parcel dari narasumber identik sebagai sogokan.

Setiap mendekati Lebaran, istilah THR menjadi akrab di telinga. Eits, jangan salah, THR yang ini artinya “Tunjangan Hari Raya Keagamaan”, bukan “Taman Hiburan Rakyat”, lho. Ya, maklum saja, di Indonesia, hari raya berarti pengeluaran ekstra berkali-kali lipat. Untuk mudik alias pulang kampung, kue-kue lebaran, baju serta sepatu baru, uang lebaran buat kerabat, dan lain-lain. Masalah ini menjadi sedikit ringan kalau perusahaan menyediakan anggaran khusus berupa “uang THR” atau “gaji ke-13”, tapi bagaimana jika tidak?

Continue reading “THR, dilema menjelang hari raya…”