Suporter Sepakbola Indonesia, Dewasalah!

Pertandingan Arema FC melawan tamunya Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjeng, Malang menyajikan keseruan di lapangan. Arema yang terbenam di dasar klasemen bertekad memetik poin tiga perdana alias kemenangan pertama. Gol demi gol tercipta.

Sontekan Thiago Furtuoso membawa tim ‘Singo Edan’ unggul dulu di menit ke-19. Beda semenit, giliran Persib mengubah papan skor. Ezechiel Ndouasel, striker asal Chad itu bahkan membuat ‘Pangeran Biru’ unggul karena bikin gol lagi di babak kedua, tepatnya menit ke-78. Continue reading “Suporter Sepakbola Indonesia, Dewasalah!”

Indonesia Tanpa One

Sebuah pengalaman kecut nan traumatik saya alami akhir pekan lalu: nyaris ditelanjangi di di kawasan tempat saya tinggal!

 Sabtu, 18 November 2006, pukul 21.00 WIB, saat berjalan kaki kembali masuk ke dalam gang menuju rumah, setelah mengantarkan seorang sahabat mencari taksi, seorang pemuda memepetku ke tembok gang.“Hei, kamu tinggal di mana-mana?” ia bertanya.

Continue reading “Indonesia Tanpa One”

Imagined Persebaya: Bukan Sekadar Sejarah Sepakbola

Persebaya yang dilahirkan 18 Juni 1927 boleh saja (sementara) tiarap, tapi buku ini membuktikan kebesaran perjalanan klub kebanggaan Arek Suroboyo yang fanatisme ‘pemiliknya’ bahkan melebihi hooligan Inggris.  

Buku Imagined Persebaya. Sarat sejarah dan aneka kisah sepak bola.
Buku ‘Imagined Persebaya’. Sarat sejarah dan aneka kisah sepak bola.

Oryza Ardyansyah Wirawan dikaruniai bakat menulis dan memori yang kuat. Selain itu, ia punya kelebihan khusus: menjaga dokumentasi tulisannya agar tak terserak diterbangkan waktu. Maka, lahirlah buku: ‘Imagined Persebaya’ (Persebaya, Bonek, dan Sepakbola Indonesia). Diterbitkan oleh Litera pada 2015, buku 322 halaman membendel 63 tulisan jurnalis yang sehari-hari bekerja di situs Beritajatim.com ini. Dengan kreatif, kumpulan artikel itu dibaginya dalam lima bab bertajuk You Can’t Buy History, Bonek (Bin Chelsea), Rivalitas, Battle of Surabaya, serta Hikayat Sepakbola Indonesia. Di lembar awal masing-masing bab ditandainya dengan lima huruf khusus: B, O, N, E, dan K.

Continue reading “Imagined Persebaya: Bukan Sekadar Sejarah Sepakbola”

Surabaya: Kalah Cacak, Menang Cacak!

 Hari ini kota kelahiran saya berdirgahayu ke-720

Bonek, representasi karakter Arek Suroboyo. Apapun dilakukan, demi tujuan.
Bonek, representasi karakter Arek Suroboyo. Apapun dilakukan, demi tujuan.

Suatu malam, bermotor di kawasan Bundaran Satelit -dulu orang menyebutnya Ngesong, setengah berteriak, saya berucap, “Surabaya, suatu hari saya akan sangat merindukanmu!” Hari ini, kota kelahiran saya itu berulangtahun ke-720. Dari pojok sebuah bangku di Palmerah, Jakarta Barat, malam ini saya menyampaikan rasa kangen nan amat dalam pada Surabaya.

Surabaya adalah sebuah fenomena. Dari kisah heroik 10 November 1945, lahirlah sebuah lecutan semangat, bahwa kita tak boleh menyerah, meski secara segala-galanya kalah. Hanya bersenjatakan bambu runcing dan peralatan perang seadanya, Arek-arek Suroboyo membuat tentara aliansi -kita menyebutnya sekutu- terkencing-kencing. Sepekan sebelumnya, 30 Oktober, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Southern Mallaby tewas dalam sebuah baku tembak.

Continue reading “Surabaya: Kalah Cacak, Menang Cacak!”

“Sepakbola adalah agama saya…”

Di Inggris sudah biasa orang mengakui “football” sebagai agama mereka

Mengunjungi Stadion Arena, markas Ajax Amsterdam. Salah satu kiblat sepakbola Eropa.

Rasanya tidak ada hal lain, di luar agama, yang mampu menyatukan sekelompok manusia dibandingkan fanatisme terhadap tim sepakbola. Itulah yang kita lihat dalam gemerlap pesta bola di Afrika Selatan sepanjang 11 Juni hingga 11 Juli ini.

Sepakbola memang bak punya kuasa magis untuk menimbulkan passion alias gairah tersendiri. Bill Shankly, salah seorang manajer tersukses di Liga Inggris, pernah berkata, “Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it’s much more serious than that.”

Continue reading ““Sepakbola adalah agama saya…””