Tot Ziens, Dankje Well, Holland…

Catatan kenangan dua tahun silam, pelajaran-pelajaran moral dari negeri liberal.

Bumi tiruan di ruang tamu Radio Netherlands. Satu dunia, banyak cerita.

Banyak kesan mendalam selama berpetualang mengikuti pelatihan multimedia 23 hari di Belanda,  baik tentang segala proses kursus (acara dan materinya) maupun tentang Belanda sendiri.

Kisah unik tentang Belanda antara lain dari sisi humanis, betapa pemerintah Belanda menghargai hak asasi para pelacur dalam bekerja di sini. Pelacuran di De Wallen –kawasan lampu merah Amsterdam- menjadi kontradiktif karena pemerintah Belanda melarang keras adanya germo alias mucikari, yang di mana-mana selalu mendapatkan duit lebih banyak daripada pekerja seksnya sendiri. Hampir setiap jam polisi berkeliling gang-gang Red Light Districy untuk mencegah adanya praktek perantara maupun penganiayaan yang menyusahkan para pelacur. Selain itu, WTS di lampu merah memiliki jam kerja yang ketat, sehingga “kesehatan” dan “stamina” kerja mereka terjaga.

Continue reading “Tot Ziens, Dankje Well, Holland…”

Lampu Merah Amsterdam

Catatan kenangan dua tahun silam, berkunjung ke kawasan remang-remang Amsterdam.

Red Light District Amsterdam. Pro-kontra legalisasi pelacuran.

Belum ke Jakarta kalau belum ke Monas, belum ke Surabaya kalau belum ke Suramadu, dan belum ke Yogya kalau belum ke Malioboro. Ungkapan-ungkapan semacam itu seperti menjadi penggalan wajib untuk menunjukkan “bukti” betapa kita telah menginjak sebuah kota, lengkap dengan landmarknya. Begitu pula saat tahu saya berada di Belanda, beberapa kawan menyapa, “Sudah ke Red Light District belum?”

Continue reading “Lampu Merah Amsterdam”