Einzel’s Mini Movie

Saya cuma mau cerita, mini movie ini dibuat pada hari ini oleh anak sulung saya, Mikhael Einzel, 9 tahun, kelas 4 SD dengan perangkat gawai Asus

Raport Biru si Supit Urang

Raport memang bukan semata nilai, tapi setidaknya, sesuai arti katanya, itulah laporan.

Rambut ‘supit urang’ Einzel. Apa ya maknanya?

Pagi tadi, lelaki dengan rambut bak supit udang itu, terjadwal menerima raport. Kelas 1 SD, tapi saya rasa, cukup berat juga materi pelajaraannya. Setidaknya, dibandingkan zamanku dulu.

Cobalah Anda bayangkan itu. Seperti pernah saya tulis di sini. Untuk pelajaran Bahasa Inggris, saya merasa pelajaran yang didapat  Einzel baru saya dapat di level SMP dulu Mulai dari cara menyebut identitas diri, sampai bagaimana menyebut silsilah keluarga, mengenal father, brother, sister, grandmother, dll. Juga mengingat nama-nama mainan yang tak pernah saya bahami apa Bahasa Inggrisnya: ayunan sebagai swing, jungkat-jungkit disebut she saw, atau panjatan besi diingriskan monkey bars.

Continue reading “Raport Biru si Supit Urang”

Bahasa Inggris Tak Lagi Wajib di SD

Apakah belajar bahasa asing bagi anak usia 6 tahun dinilai terlalu membebani?

Hasil UAS Bahasa Inggris Einzel & workbooknya. Excellent.
Hasil UAS Bahasa Inggris Einzel & workbooknya. Excellent.

Coba ingat-ingat, usia berapa anda kali pertama akrab dengan Bahasa Inggris secara serius? Bukan hanya karena kebetulan mendengar lewat film atau lagu dengan bahasa asing kedua yang paling banyak digunakan di dunia itu –setelah bahasa Mandarin, tapi benar-benar menghapal setiap perbendaharaan kata, belajar mengucapkan salam, dan lain-lain.

Saya terkenang, menjadi intim dengan Bahasa Inggris baru saat kelas 6 SD. Saat itu, Bahasa Inggris belum diajarkan di jenjang sekolah dasar. Seorang perempuan yang berbaik hati, kawan dari orangtua kawan saya, menjadi pahlawan masa kecil, karena memberikan kursus Bahasa Inggris secara gratis. Awalnya, lebih kepada pengenalan nama benda secara sederhana, sampai kami mencoba berani bicara in English.

Continue reading “Bahasa Inggris Tak Lagi Wajib di SD”

Einzel dan Monopoli Thomasnya

Bermain monopoli, belajar menjadi investor

Monopoli Junior era kini. Rule of the gamesnya sama.
Monopoli Junior era kini. Rule of the gamesnya sama.

Ingatkah Anda pada permainan “Monopoli Gaya Baru” era 1980-an? Zaman kita masih duduk di bangku SD atau SMP, mungkin. Dari lembar karton monopoli itulah, saya mengenal nama kota Indonesia seperti Bogor, Bandung, Denpasar, Garut, atau Singaraja. 

Juga dari permainan itu, jadi akrab dengan banyak stasiun kereta api, seperti Gambir dan Pasar Senen Jakarta, atau Tawang Semarang. Tentu saja, saat masih bersekolah dasar di Surabaya, saya tak pernah bermimpi bakal menginjakkan kaki beneran di tempat-tempat itu, beberapa belas tahun kemudian.

Continue reading “Einzel dan Monopoli Thomasnya”

Pernikahan kami, setelah lima revolusi…

terus bersyukur, terus membutuhkan keberuntungan

Kalau Anda membaca blog ini pada 19 Agustus 2011, maka pada tanggal yang sama, lima tahun silam, kami –saya dan Celi, isteri saya- tengah berdebar menjalani sebuah ritual penting dalam memulai kehidupan baru bernama pernikahan. Sabtu itu ada dua ritual. Satu prosesi keagamaan, pagi di Kapel Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta, dan satu lagi, bakda tengah hari, jamuan untuk kerabat dan teman di Wisma Kagama, Universitas Gajah Mada.

Continue reading “Pernikahan kami, setelah lima revolusi…”