Dalam kunjungan singkat ke Balikpapan, kota bisnis utama Pulau Kalimantan, bersyukur bisa bertemu kawan-kawan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
Kristy Utami Soebardjo menjadi inisiator pertemuan ini. Perempuan dari orangtua berdarah Semarang dan Kediri itu merupakan Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) pertama GMKI Balikpapan, pada 2011. Ia berpasangan dengan Sonny Sihaloho, sebagai sekretaris cabang. Kini, mereka berpasangan lagi dalam makna lain, menjadi suami isteri nan harmonis.
”Kami sudah pacaran sebelum jadi kecab dan sekcab,” kata Kristy yang malam itu mengemudikan Mitsubishi Expander dengan sangat sigap. Saya jadi minder dengan kemampuan menyetirnya nan sat set. Dari Swissbel Hotel Balikpapan di kawasan Ocean Square, melewati Titik Nol Balikpapan-Samarinda, hingga Kafe 28 di kawasan Muara Rapak.
Di mobil itu ada aktivis-aktivis muda lain. Masih jadi anggota Badan Pengurus Cabang GMKI Balikpapan. Ketua cabangnya Roy Tomi Hermawan, putra daerah Kutai Barat, tepatnya dari Kecamatan Barong Tongkok. Kubar -berjarak sekitar 10 jam dari Balikpapan, terkenal dengan durian dan lai. Lai merupakan kerabat durian dari Kalimantan, namun memiliki kulit duri tumpul (tidak setajam durian), daging buah cenderung oranye/kuning lebih padat dan kering, aromanya tidak menyengat, serta rasanya manis legit dengan sedikit pahit tanpa bau mulut setelahnya, tidak seperti durian yang dagingnya lembek, berbau sangat kuat, dan rasanya bisa pahit-manis karena alkohol, serta daun pohonnya lebih besar.
“Durian dari Kutai Barat memang andalan. Dijual hingga ke Balikpapan, Samarinda dan Banjarmasin. Sayang tahun ini tak semua daerah di Kubar bisa panen durian dengan baik,” kata mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Migas Balikpapan itu.
Ada pula Awen Sanrico Lumban Tobing, Sekretaris Fungsional Kemasyarakatan. Berasal nin jauh dari Siatas Barita, Tapanuli Utara, Awen menempuh pendidikan di program studi Teknologi Listrik jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Balikpapan.
Juga ada Devan Leowinsky Mada, mahasiswa Politeknik Negeri Balikpapan Jurusan Teknik Mesin yang juga Ketua Komisariat GMKI di kampusnya. Devan blasteran Sumba Barat Daya-Manado, besar di Nusa Tenggara Barat, lalu kuliah di Kaltim.

Anggota BPC lain yakni Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan Retno Prastyo. Berasal dari Sukabumi, Retno menempuh pendidikan di Politeknik Alkon Kalimantan.
Selain itu, masih ada Fansrelika Arung. Eks Ketua Bidang Organisasi pada kepengurusan sebelumnya. Pria berdarah Toraja ini pernah dua bulan kerja sebagai teknisi di salah satu vendor perawatan gedung Ibu Kota Nusantara (IKN).
Balikpapan memang bak miniatur nusantara. Selain didominasi warga etnis Dayak, Melayu, Banjar, Bugis, dan Jawa, hampir seluruh suku dari tanah air ada di sini. Pesona ‘kota minyak‘ bak magnet menarik untuk mencari rezeki di sana.
Tak cukup berbincang di salah satu tempat nongkrong kekinian anak muda Balikpapan itu, kami berpindah lokasi. Jam sudah menunjukkan pergantian hari. Melewati jam 12 tengah malam.
Melewati perumahan mewah Grand City Balikpapan atau area Balikpapan Baru milik Sinarmas, kami sampai di kawasan Perumahan Bumi, tepatnya di Jakan Rengganis Belakang 5A No.102, Guung Bahagia, Kecamatan Balikpapan Selatan. Itulah lokasi Student Center (SC) GMKI Balikpapan.
“Sudah lebih tiga periode kepengurusan kami menempati SC di sini. Sewanya Rp 35 juta setahun,“ jelas Roy. Tahun ini, mereka agak ’pusing’. Kalau tahun-tahun sebelumnya mendapat dana hibah untuk organisasi kepemudaan sekitar Rp 50 juta dari Pemerintah Kota Balikpapan, tahun ini anggaran itu dipangkas. Seiring kebijakan pemerintah pusat mengurangi anggaran dana transfer ke daerah.
”Semoga ada solusi untuk bayar kontrak pusat pergerakan kami. Sejauh ini, GAMKI Balikpapan bergerak melalui bazaar dari satu gereja ke gereja lain,” kata lelaki 25 tahun itu.
Di antara pilihan mahasiswa untuk fokus kuliah atau berkegiatan lain sesuai jiwa muda, pilihan anak-anak muda ini masuk organisasi patut diacungi jempol. Dari berorganisasi mereka belajar kepemimpinan, kerja sama, pun bagaimana memecahkan masalah dalam kasus-kasus tertentu.
Anak-anak muda itu tak akan menyesali pilihannya berorganisasi. Karena dari sinilah, pintu menuju banyak jalan kehidupan lain akan terbuka.


