Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020

Resensi Buku: Aku Aktivis Mahasiswa Kristen, Kisah Septianus Hendra Bertarung di Jalanan Kaltim

Perjalanan tiga hari ke Kalimantan Timur menjadi kian bermakna saat di menit-menit akhir jelang boarding ke Jakarta bertemu Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Balikpapan 2023-2025 Septianus Hendra. Pemuda asal Tarakan ini menyerahkan bukunya, ‘Aku Aktivis Mahasiswa Kristen, Iman Idealisme dan Perjuangan di Jalanan‘.

Adalah Ketua GMKI Balikpapan saat ini, Roy Tomi Hermawan, yang memperkenalkan Hendra -begitu sapaan akrab pendahulunya sebagai ‘kecab’ alias ketua cabang itu.

Continue reading “Resensi Buku: Aku Aktivis Mahasiswa Kristen, Kisah Septianus Hendra Bertarung di Jalanan Kaltim”

Si Anak Badai: Tekad Empat Sekawan Melawan Penggusuran Kampung

Buku keduapuluh enam Tere Liye yang saya tamatkan. Style ringan dalam 333 halaman.

Dalam suasana film ’Pesta Babi’ sedang viral, buku cetakan tahun 2021 ini menjadi relevan. Settingnya di sebuah kampung nelayan, yang bakal digusur karena pemerintah pusat hendak membangun program strategis berupa pelabuhan -yang sebenarnya tak terlalu dibutukan penduduk kampung.

Continue reading “Si Anak Badai: Tekad Empat Sekawan Melawan Penggusuran Kampung”

Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur: Yang Liar dan Romantis dari Tere Liye.

Buku keduapuluh lima Tere Liye yang saya tuntaskan. Cerita cinta, ‘lucu-lucuan’, akhirnya pun dibuat menggantung.

Membelinya di Gramedia Duta Mall, Palangka Raya, membawa buku setebal 296 halaman ini terbang kembali ke Jakarta dan lanjut ke Manado, pulang pergi. ’Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur’ ringan, asyik, dan lebih ’liar’. sedikit berbeda dari cerita Tere Liye lainnya.

Continue reading “Cinta Antara Jakarta dan Kuala Lumpur: Yang Liar dan Romantis dari Tere Liye.”

Sendiri dan ‘Lorong Waktu‘

Buku ke-24 Tere Liye yang saya tuntaskan. Berkisah tentang kesendirian seorang lelaki 70 tahun yang shock ditinggal meninggal isteri yang dicintai banyak orang.

Bambang tertegun saat isterinya, Susi, meninggal. Empat anak perempuannya kembali ke rumah dari berbagai penjuru dunia. Keluarga yang sukses, dengan kenangan indah. Dari jatuh bangun gagal berusaha, berakhir sukses sebagai pengusaha teknologi otomatis.

Continue reading “Sendiri dan ‘Lorong Waktu‘”

Kisah Pengawasan Pemilu 2024, Legacy Bawaslu Tamiang di Tangan Jurnalis Senior

Sebuah organisasi dalam periode tertentu sebaiknya memiliki ‘legacy’. Apa yang dihasilkan selama kurun waktu berjalannya kepercayaan diemban. Akan lebih baik jika pencapaian itu didokumentasikan sebagai warisan para penerus kelak.

Bawaslu atau Panitia Pengawas Pemilihan Kabupaten Aceh Tamiang punya banyak kisah pada pelaksanaan Pemilu 2024. Ketua Bawaslu Imran, yang sudah dua periode di lembaga ini, punya gagasan -dan merealisasikannya- dalam buku biru setebal 158 halaman.

Continue reading “Kisah Pengawasan Pemilu 2024, Legacy Bawaslu Tamiang di Tangan Jurnalis Senior”

Tamasya Bola, Menulis Sepak Bola Mengalir ala Darmanto Simapea

Tulisan buku ini mengalir dan kaya referensi. Seperti tulisan Romo Sindhunata di Kompas, atau opini Rob Hughes yang jadi panutannya di tabloid Bola.

Berterima kasih secara khusus untuk Felix Dass yang memberikan bonus tambahan buku ini sebagai paket hadiah tebak skor kemenangan Liverpool. Dengan membaca buku ini, gairah menulis dengan mengalir kembali muncul.

Continue reading “Tamasya Bola, Menulis Sepak Bola Mengalir ala Darmanto Simapea”

Seporsi Mie Ayam Sebelum (Tak Jadi) Mati

Brian Khrisna kembali menghadirkan kisah getir orang terpinggir. Dari sini kita belajar, bagaimana hidup harus disyukuri. Seberapapun kelam itu.

Saya butuh sepanjang perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta ke Yogyakarta International Airport dan hari-hari sesudahnya, untuk menamatkan buku 208 halaman karya Brian Khrisna ini: Sepotong Mie Ayam Sebelum Mati. Di halaman setelah cover saya tulis coretan: ”Begitulah hidup… berani hidup tetap lebih baik daripada berani mati…”

Continue reading “Seporsi Mie Ayam Sebelum (Tak Jadi) Mati”