Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020

Sabang, Masih Ada Asa Tersisa

Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik Perjalanan Koran Tempo Minggu, 20 Februari 2005

Keindahan pantai Pulau Weh masih mempesona.

Monumen kilometer nol batas paling barat Indonesia. Kapan ya bisa ke batas paling timur Indonesia?

Gempa dahsyat 8,9 skala Richter diikuti gelombang tsunami yang meluluhlantakkan wilayah pantai barat Aceh akhir tahun lalu sempat membuat putus arus transportasi dan komunikasi Banda Aceh dengan dunia sekitar. Termasuk dengan Pulau Weh, pulau paling barat di peta Indonesia. Nusa dengan 24 ribu penduduk yang masuk dalam wilayah kota Sabang ini jadi tak jelas kabarnya.

Ketika sebagian besar kota Banda Aceh yang berada di sudut pantai barat Samudra Indonesia hancur lebur, orang pun berpikir, Pulau Weh yang bak noktah kecil di pusaran air besar pasti sudah tamat riwayatnya. Terbayang pula, lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Surarjo bakal direvisi liriknya.

Continue reading “Sabang, Masih Ada Asa Tersisa”

Jurnalisme twitter, bikin wartawan nggak pinter?

Akun TIfatul Sembiring di twitter (gambar milik Politikana.com)

Suatu siang di Istana Negara, berlangsung acara seremonial pelantikan pejabat. Di sela-sela kebosanan acara, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring sibuk mengupdate akun twitter­nya. Menteri kelahiran  Sumatera Barat ini memang gemar berpantun dan memberi siraman rohani secara virtual. Posisi berdiri tidak mengganggu habit Pak Menteri memencet-mencet telepon seluler. Sampai suatu saat, masuk sebuah tweet. Seorang wartawan yang juga meliput acara itu mengirim kicauan ke akunnya, @tifsembiring. “Kok nunduk terus, Pak.. Asyik twitteran ya?” Sontak Tifatul mendongak, mencari siapa gerangan wartawan yang iseng mengirim pesan itu.

Continue reading “Jurnalisme twitter, bikin wartawan nggak pinter?”

THR, dilema menjelang hari raya…

Parcel dari narasumber identik sebagai sogokan.

Setiap mendekati Lebaran, istilah THR menjadi akrab di telinga. Eits, jangan salah, THR yang ini artinya “Tunjangan Hari Raya Keagamaan”, bukan “Taman Hiburan Rakyat”, lho. Ya, maklum saja, di Indonesia, hari raya berarti pengeluaran ekstra berkali-kali lipat. Untuk mudik alias pulang kampung, kue-kue lebaran, baju serta sepatu baru, uang lebaran buat kerabat, dan lain-lain. Masalah ini menjadi sedikit ringan kalau perusahaan menyediakan anggaran khusus berupa “uang THR” atau “gaji ke-13”, tapi bagaimana jika tidak?

Continue reading “THR, dilema menjelang hari raya…”