Matematika Ilahi dalam Relasi Yang Tentukan Arah Hidup

GMS Puri 8 Februari 2026 belajar tentang ‘Hikmat dalam Hubungan‘.

Pendeta Jemmy Liman mengajarkan tentang Matematika Illahi dalam hubungan. ‘Divine Connection’ yang diberikan Tuhan akan menentukan arah kita. Di sinilah kita penting untuk memiliki apa itu yang disebut intelejensia rohani.

”Kalau misalnya murid-murid Tuhan dites psikologi, pasti mereka tak lulus. Petrus, orang yang terburu-buru dan berbahaya. Suka berpikir belakangan, jadi kurang hati-hati. Cenderung sombong, dan emosinya tak stabil,“ contohnya.

Selain itu, dengan latar belakang pekerjaan sebagai nelayan, penampilannya tak cocok untuk mendampingi Yesus sebagai penjala manusia. Dengan faktor-faktor itu, jelas Petrus tak akan direkomendasikan.

Sebaliknya dengan Yudas, dengan penampilan yang rapi serta punya skil dalam keuangan, ia akan menghasilkan pendapat ‘very recommended‘ .

”Masalahnya bukan latar belakang itu. Tapi, bagaimana kualitas hubunganmu dengan Tuhan, itu yang akan menentukan,” tegasnya.

Senada dengan itu, ada kalimat terkenal, ”Coba kasih tahu saya siapa lima teman terdekatmu, nanti akan kutunjukkan 5-10 tahun lagi kamu akan jadi seperti apa…”

Karena itu, Amsal 13: 20 menulis, ”Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Ada beberapa message hikmat dipaparkan.

Hikmat membedakan jenis hubungan.

Tidak semua orang yang dekat itu sehat, dan tidak semua orang yang jauh itu salah. Contoh dalam hubungan ini kedekatan Yoab dan Daud serta Barzilai yang dianggap jauh tapi justru menolong Daud dalam kesulitan.

“Hubungan yang baik seperti eskalator atau travelator yang membawa hidup kita naik. Sebaliknya, relasi yang buruk seperti eskalator yang membawa kita turun,” urainya.

Hubungan dengan orang selalu mengerjakan sesuatu pada kita, baik itu positif atau negatif.

Di sini, ia menjelaskan ada empat matematika hubungan.

Pertama, Add. (+). Ada orang-orang yang menambahkan sesuatu dalam hidup Anda, misalnya iman, harapan, kebenaran.

Orang-orang itu punya kemampuan menambahkan perspektif ilahi dalam hidup Anda, meski dunia menciptakan PoV atau sudut pandang.

Kedua, Subtract. (-) Ada orang-orang yang mengurangi hidup Anda. Menghabiskan energi dan menguras damai sejahtera Anda.

Orang-orang seperti ini sering membawa drama dan konflik dalam hidup seputar dirinya, selalu mengeluh dan mencari maasalah.

Ketiga, Multiply (×). Inilah orang-orang yang melipatgandakan apa Tuhan kerjakan. ”Kapasitas Anda akan dienlarge meski kelihatan tak nyaman. Ia akan memperbesar visi dan iman Anda. Awalnya ditarik tapi kemudian dilipatgandakan,” terangnya.

Keempat, Divide  (÷) Pembagi. Orang seperti ini akan mengalihkan perhatian Anda dari tujuan ilahi.

”Coba uji dan pikirkan. Kalau Anda bertemu seseorang, kira-kira iman Anda akan semakin bertambah on fire atau makin terkuras dan menjadi loyo?” tanyanya.

Ada hikmat untuk menjalin hubungan, ada hikmat untuk tahu siapa yang perlu didekatkan dan hikmat berani melepaskan hubungan yang salah.

Dari kisah Abraham yang membawa Lot pergi bersamanya, meski Tuhan berkata, ”Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapamu”. Itulah panggilan ketaatan untuk meninggalkan Haran menuju Kanaan. Meskipun diperintahkan meninggalkan sanak saudara, Lot, keponakannya, ikut dalam perjalanan tersebut, menunjukkan hubungan dekat mereka. 

”Satu persen ketidaktaatan membawa konflik besar, karena Abraham membawa sebagian dari masa lalu yang seharusnya ditinggal,” tukasnya.

Lot diberkati karena punya koneksi atau asosiasi dengan Abraham. ”Lot dalam hidup kita adalah orang-orang egois yang selalu mencari kepentingan sendiri. Yang seperti itu harus kita pisahkan. Anda tak bisa membawa masa lalu ke masa depan yang Tuhan siapkan,” terangnya.

Ditegaskan, masa lalu ya sudah masa lalu. Kalau kita terlalu banyak menoleh ke belakang, kita akan terbentur tak bisa maju.

”Perpisahan bukan kebencian, tapi tindakan hikmat. Hikmat memulihkan masa lalu, karena itu jangan dikendalikan olehnya,” tegasnya.

Akhirnya, dipesankan, masa lalu yang berantakan tak menentukan masa depan yang Tuhan siapkan.

”Tuhan tak mencari orang sempurna tapi mencari orang yang mau dibentuk dalam hubungan yang benar,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.