Jember, Semoga Terus Jembar Pergerakan Ekonominya…

Delapan tahun berlalu, akhirnya kembali menginjak Jember. Kota Karnaval, Kota Santri, Kota Tembakau, Kota Suwar-Suwir.

Kota berpenduduk 330 ribu orang nan tenang. Nyaris tak ada macet di sana. Konon berasal dari legenda Putri Jembersari alias Endang Ratnawati, sosok pemimpin perempuan muda di sebuah desa yang berani melawan kelaliman.

Kabupaten Jember sekarang dipimpin Gus Bupati 38 tahun, Gus Fawait yang mencantumkan nomor kontak bagi warganya untuk ‘Wadul Guse‘ di akun medsosnya.

Di Jember, juga happening Wisata Rembangan, rasakan dinginnya lereng Gunung Argopuro, sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Bung Karno pernah menginap di sana, sehingga kamarnya pun masih dikenang hingga kini.

Universitas Jember juga jadi magnet pendidikan, sehingga kota terbesar di kawasan tapal kuda Jawa Timur ini pun makin heterogen. Eksistensi Universitas Jember ikut mengerek pergerakan ekonomi dan perputaran uang lebih kencang dibanding kabupaten tetangganya.

Akhir tahun lalu, Bandara Notohadinegoro -diambil dari nama bupati pertama Jember yang memerintah 1929-1942- kembali punya pergerakan take off landing regular, baik ke Halim Perdanakusuma, maupun ke Bandara Ngurah Rai.

Maju terus, Jember, sesuai makna ‘jembher‘ atau ‘jembar‘ dalam Bahasa Madura dan Jawa, berarti luas, terbuka, atau terhampar lebar. Tak hanya datarannya di antara pegunungan dan pesisir, tapi juga jembar rezeki serta kemakmurannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.