Terbangun subuh di Aston Jember. Segera tersadar, dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur, ada satu belum pernah terinjak. Bondowoso. Jaraknya hanya 35 km atau tak sampai sejam perjalanan dari Jember.
Sebuah pesanan taksi online berbalas positif. Oke gas. Daihatsu Sigra warna merah melaju ke arah utara kota, melawati kawasan Arjasa dan Kalisat Jember bertemu Pasar Maesan di batas Bondowoso, menyaksikan aroma ayem kabupaten penghasil kopi berpenduduk 775 ribu jiwa bersuhu 26 derajat Celcius di pagi hari.

“Tenang sekali Bondowoso. Mayoritas warganya etnis Madura. Tak sedikit dari mereka bekerja di Jember, pulang pergi setiap hari,” kata Ahmad ‘Jaka’ Zakaria, pengemudi ojek daring yang ramah menemani.
Sejarah Bondowoso berakar dari pembukaan hutan belukar (Wanawasa) oleh Raden Bagus Assra (Ki Ronggo) yang diutus dari Madura, berkembang dari kademangan menjadi kabupaten mandiri pada 17 Agustus 1819.

Jaka, lulusan SMA IPS yang bercita-cita jadi peternak sapi seperti ayahnya, mengajarkan saya bagaimana menyebut Bondowoso dalam dialek Madura.
“Bendebesah.” Beda dengan orang Jawa yang menyebut dengan awalan M: Mbondowoso. Secara etimologi dalam konteks diaspora bahasa Madura-Pandhalungan, ‘Bendebesah’ sering dimaknai sebagai bersama-sama.

Bondowoso di era Belanda adalah ibukota Karasidenan Besuki, yang kemudian mekar menjadi kota-kota lebih lebih besar: Situbondo, Probolinggo, Banyuwangi, dan Jember. Kini, satu-satunya kabupaten di wilayah tapal kuda yang tak memiliki pesisir laut ini bak kota sepi, kota mati, atau kota tua seperti umumnya kota pemerintahan di luar negeri.
Beruntung ada Kawah Ijen sebagai salah satu destinasi wisata favorit Jawa Timur selain Bromo. Juga ada Gunung Raung, gunung berapi aktif setinggi 3.332 m di perbatasan Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember, yang terkenal dengan jalur pendakian ekstrem.

Monumen Gerbong Maut di muka alun-alun dan Kantor Bupati Bondowoso jadi saksi perjuangan warga kota ini melawan Belanda. Dua tahun setelah kemerdekaan, para pejuang menyerang markas Belanda yakni VDMB (Velliglieds Dienst Marinier Brigade). Sayang, serbuan itu gagal, para pemuda terpaksa mundur ke wilayah pegunungan di utara Bondowoso akibat kalah dalam pertempuran.
Kolonial Belanda menangkap mereka yang terlibat dalam organisasi-organisasi pergerakan nasional seperti TRI, laskar dan pergerakan-pergerakan bawah tanah hingga penjara Bondowoso penuh. Para revolusioner akan dipindahkan ke Penjara Bubutan di Surabaya.

Pada 23 November 1947, Belanda mengangkut lebih dari 100 pejuang. Mereka digiring ke Stasiun Bondowoso, tanpa diberi makan minum, seluruh tahanan diperintahkan masuk ke gerbong kereta yang telah disediakan.
Selama perjalanan para tahanan dalam gerbong mulai mengalami kesengsaraan. Gerbong-gerbong yang tertutup rapat, terbuat dari kayu dan seng bergelombang, hanya memungkinkan sedikit oksigen dan menciptakan panas ekstrem.

Ketika kereta berhenti di jalur samping sepanjang perjalanan 16 jam, para tahanan memukul dinding dan berteriak meminta makanan dan air. Tapi, mereka diberitahu bahwa hanya peluru yang tersedia dan tidak akan ada pasokan hingga kereta mencapai Surabaya.
Sampai di Stasiun Wonokromo, dari 100 orang yang diangkut, 46 orang gugur, mati lemas, akibat kehabisan napas, dehidrasi, dan panas yang menyengat.
Diberkatilah Bondowoso, Bendebesah, kota tua yang tak boleh tertinggal digilas sejarah…


