Pertama ke GMS Padang. Mendapat pesan tentang warisan iman.
Pendeta Kevin Girsang, gembala GMS Padang membawakan tiga ibadah dalam tema serupa: Warisan Iman. Ibadah jam 9 terkait warisan Hana pada Samuel, berlanjut sesi berikutnya tentang Abraham dan Ishak, serta Paulus dan Timotius.
“Banyak yang Tuhan ingin kerjakan pada kita selaku orangtua atau anak, terutama agar kita mewariskan sesuatu kepada generasi penerus. Konsepnya bak sungai yang terus mengalir dari hulu ke hilir,” katanya.
Mendasarkan Firman Tuhan dari I Samuel 10:11-28, Kevin menekankan, orang bisa melahirkan harta atau aset, tapi yang lebih penting, apakah kita memiliki dan mewariskan warisan iman yang tak lekang oleh waktu dari generasi satu ke generasi berikutnya.
Warisan apa yang didapat Samuel dari ibunya Hana?

Warisan pertama: hati yang berdoa.
Hana berdoa dengan tekun bak prinsip ‘PUSH’. Pray Until Something Happen.
”Doa menjadi desakan Roh sampai Tuhan melakukan sesuatu. Kalau kita punya budaya berdoa, sedikit-sedikit berdoa, kita akan punya satu koneksi dan satu frekuensi yang sama dengan Tuhan,” jelas mantan bankir ini.
Yeremia 33:3 menekankan, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.”
Menurut Kevin, doa yang berdampak adalah doa yang rindu ingin mengetahui jawaban Tuhan atas jalan-jalan dalam hidup ini. Bukan sikap sudah merasa tahu untuk berbagai solusi problema hidup.
Nama Samuel bermakna ’Shema El‘. Shema artinya mendengar, dan El artinya Allah. Maknanya Allah yang mendengar. Ia tahu, Allah itu mendengar.
“Mengapa banyak orang malas berdoa? Karena sadar atau tak sadar, ia tak yakin Allah mendengar dan peduli kepadanya,“ ungkapnya.
Ia menambahkan, untuk mendalami pernyataan agar surga terbuka -sesuai Visi GMS 2026- kita harus merendahkan diri dan berdoa. Mencari wajah Tuhan (hadirat Tuhan), serta berbalik dari jalan yang jahat (bertobat).
”Jatuh cintalah dengan Tuhan setiap hari. Dengan berhenti mencari hadirat Tuhan setiap hari, maka tanpa sadar, orang itu menjauh dari Tuhan,” ingatnya.
Kevin menambahkan, ketika anda tidak suka berdoa, maka anak anda tidak akan peka dengan suara Tuhan dan lebih mendengar bisikan dunia ini.

Warisan kedua: hati hamba.
Hati yang mau berkorban terlihat saat Hana konsisten pada nazarnya, menyerahkan Samuel ke Allah pada umur 4-5 tahun.
Ada ungkapan, ”to receive Jesus cost you nothing, to follow Jesus cost you something, to serve Jesus cost you everything.”
Karena itu ada lagu ’Hidupku bagi KerajaanMu’ dengan lirik, “Emas, perak, dan permata, kenikmatan yang dunia tawarkan, kulepaskan semuanya untuk-Mu. Ku ikut panggilan-Mu.”
”Korban kepada Tuhan adalah apa yang anda berikan pada Tuhan ketika apa yang ada pada Anda sangat terbatas. Tak hanya dana, tapi juga waktu dan tenaga,” jelasnya.
Contoh korban itu, misal saat hati rapuh, tapi tetap melayani dan mendoakan orang lain. Korban diberikan dari keterbatasan, bukan dari kelimpahan. Ia tahu padanya jadwalmu, kalau engkau memberikan apa yang ada padamu.
Mengutip Markus 12:41-44, ia menunjukkan fakta bahwa ’Yesus memperhatikan’ setiap yang kita perbuah.
”Apakah kita punya hati hamba yang bisa kita wariskan buat generasi berikutnya?” tanyanya.

Warisan ketiga: hati yang tidak kompromi dengan dosa.
”Ketika Anda tidak kompromi dengan dosa, Anda akan mewariskan itu pada generasi Anda,” tegasnya.
Tak salah mewariskan yang baik. Karena sebalinya, ada juga yang disebut ‘family sins’. Ada yang atasnya judi, keturunan bawahnya juga penjudi. Atasnya perselingkuhan, generasi bawahnya juga berselingkuh.
“Baik hati yang kompromi maupun yang tidak kompromi diwariskan. It’s not about you only,” tukasnya.
Yesaya 59:2 juga mengingatkan, kalau Anda kompromi, maka doa menjadi penghalang dosamu. Dosa menjadi pemutus sinyal, sehingga kita tak pernah ’connect’ dengan Allah.
“Doa itu tak akan pernah terkirim ketika Anda kompromi dengan dosa,” lanjutnya.
Warisan keempat, yakni hati yang menepati perkataan dan komitmen.

