Ibadah ketiga GMS Puri dilayani Pendeta Arief Wicaksono. Temanya ‘Break The Routine’.
Arief Wicaksono membawakan Firman Tuhan dalam lima sesi ibadah. Masing-masing bertopik ‘Jalan Penyediaan Allah’, ’Antara Kecepatan dan Ketepatan’, ’Break The Routine’, ‘Kuasa Iman yang Hidup’ dan ‘Make It Great’.
Hadir di ibadah ketiga pukul 13.00 WIB dengan topik ‘Break the Routine’, Arief Wicaksono mengingatkan, saat ini, “Banyak orang hidup tak benar-benar hidup. Banyak orang aktif tapi tak produktif. Banyak orang sibuk tapi tak berbuah.”
Dasarnya dari Filipi 1:21-22, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (22) Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.”
Arief menekankan, kita harus bekerja memberi buah. Rutinitas tidak salah, tapi ada yang hilang jika hidup hanya dijalani dengan rutinitas, yakni ’dampak dan pertumbuhan’.
Rutinitas berarti: hal, kegiatan, prosedur yang dilakukan secara tetap, teratur, dan tidak berubah-ubah. Rutinitas tak selamanya buruk, tapi juga punya sisi positif yakni:
- Mengurangi beban kognitif
- Membangun disiplin dan konsistensi
- Memberikan stabilitas dan ketenangan
- Meningkatkan efisiensi
Sebaliknya, bahaya rutinitas yakni:
- Hidup jadi sindrom autopilot
- Kehilangan makna
- Terjebak di zona nyaman
- Menimbulkan kebosanan
- Menciptakan rasa puas diri yang palsu
”Jangan sampai ke gereja tapi kehilangan gereja. Kita harus berbuah, yang dalam Bahasa Yunaninya, ’Karpos Ergou’, yakni buah dari pekerjaan,” kata Arief.
Berbuah yang dimaksud yakni menghasilkan dampak ilahi yang nyata bagi Tuhan dan orang lain. Berbuah pertama adalah karakter yang diubahkan. Kedua, ada dampak yang dihasilkan. Ketiga, bisa menguatkan orang lain.
”Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman.” Filipi 1:25.
Kita harus mengubah rutinitas jadi berdampak, untuk itu ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Pertama, miliki identitas yang benar. Rutinitas yang dilakukan bisa bikin stres karena kita salah menyematkan identitas.
”Jangan taruh identitas pada hal-hal bersifat materi, itu akan membuat kita ’burnout’,” ungkapnya.
Aplikasi praktisnya ada empat.
Pertama, jangan hanya sekadar hidup, sekadar bekerja dan melayani.
Kedua, berhenti mengeluh dengan keadaan hidup kita.
Ketiga, jangan menyerah dengan keadaan kita yang terbatas tetapi tangkap rencana Tuhan dalam hidup kita.
Keempat, pikirkan cara untuk terus berbuah.
Arief mencontohkan sosok Paulus yang mengubah perspektif penjara yang mengungkungnya, dengan menulis surat-surat sehingga Injil bisa disebarkan lebih cepat.
”Ubah diri kita. Hiduplah dalam misi, sehingga hidup tak jadi monoton. Orang yang punya misi hidupnya tidak akan pernah sama, selalu berbeda, sebaliknya hidupnya akan selalu bergairah,” ujar Arief.
Misi itu adalah memberitakan Kristus melalui kehidupan kita. ”Jadi, apapun kondisiinya jadilah berkat,” pungkas Arief.


