Begitu banyak pilihan kuliner saat masuk teritori Yogyakarta dari arah Prambanan. Akhirnya, kami merapat di Ayam Goreng Candisari, Kalasan.
Perjalanan libur Nataru kali ini sedikit berbeda. Tol dari arah Surakarta sudah hampir tersambung mendekati Ngayogyakarto Hadininigrat. Cuma, perlu penekanan kata ’hampir’. Pemakai jasa tol -yang kira-kira mesti sediakan hampir Rp 700 ribu biaya tol dari Jakarta- masih harus keluar di Gerbang Tol Prambanan. Belum lurus sampai Manisrenggo, Maguwoharjo, UPN, Monjali, Trihanggo, dan bahkan nanti sampai Gamping.

Meski begitu, ini sudah cukup mempermudah. Tak lagi bermacet di Clayton, eh Klaten, dan semakin dekat ke Kota Gudeg. Rasa lapar menyergap setelah terakhir makan siang di rest area Jawa Barat. Masuk sisi Jogja sekitar Prambanan-Kalasan, banyak pilihan ditawarkan. Dari dawet, Sop Ayam Klaten, aneka Rumah Makan Padang dan sejenisnya.
Setelah random melewati berbagai opsi, akhirnya kami berhenti di Ayam Goreng Candisari Kalasan. Bangunan luas, sepertinya rumah warisan. Menunya, tak hanya ayam yang bumbunya meresap sampai tulang. Ada pula ikan nila, udang, pun lobster.

Hanya saja, diperlukan konfirmasi, memicingkan mata, dan cek akhir ke semacam tukang parkir, bahwa bangunan bergaya kuno dengan aneka perabotan -jam, meja, kursi, dan radio antik- itu ternyata buka dan siap melayani pelanggan.
Salah satu konsumen menulis di trip advisor, ”Alternatif makanan ayam goreng selain Ny Suharti, bumbu ayamnya gurih digoreng garing dengan lalapan sayur yang menggoda.”
Silakan ditandai, jika mobil Anda masuk kawasan Jogja dari arah Klaten…





