Dipecatnya Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid hanya dalam waktu tujuh bulan menunjukkan, sepak bola bukan hanya soal taktik. Tapi juga lebih kepada kemampuan ‘man management‘.
Xabier ‘Xabi’ Alonso Olano datang dengan banyak atribusi. Mantan pemain sukses di Madrid. Pelatih berportofolio bagus di Bayer Leverkusen. Tapi, hanya tujuh bulan ia bertahan di Los Galacticos. Padahal, seusai kalah 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol di Arab Saudi, tak ada tanda-tanda Xabi akan melepas jabatan secepat ini.
Usai di-PHK, mantan dirijen permainan Liverpool ini memilih tak menyerang klubnya. Xabi tetap memuji timnya dalam pesan perpisahannya di Instagram sehari setelah kepergiannya.
“Tahap profesional ini berakhir, dan memang tidak berjalan seperti yang kami harapkan. Melatih Real Madrid adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab,” tulis Alonso.
“Saya berterima kasih kepada klub, para pemain, dan terutama para penggemar Madrid atas kepercayaan dan dukungan mereka. Saya pergi dengan rasa hormat, syukur, dan kebanggaan karena telah memberikan yang terbaik.”
Real Madrid sebelumnya harus mengeluarkan dana sekitar 12 hingga 15 juta euro (Rp235 miliar – Rp255 miliar) untuk menebus Xabi Alonso dari Bayer Leverkusen.
Selain itu, gaji Alonso juga tergolong tinggi, yakni berada di kisaran 7 hingga 9 juta euro (Rp137 miliar – Rp176 miliar) per musim. Namun, pemutusan kerja sama itu tidak akan membebani Madrid secara finansial seperti yang dibayangkan.
Dalam kontrak Alonso terdapat klausul khusus yang melindungi klub jika layoff atau pemecatan terjadi pada tahun pertama masa kerja. Klausul itu menyebutkan, apabila Real Madrid memutus kontrak Alonso pada musim pertama, klub hanya wajib membayar gaji satu musim, bukan keseluruhan nilai kontrak tiga tahun.
Selamat jalan Xabi, semoga menemukan pelabuhan baru terbaik kelak. Dalam klub yang lebih menghormati wibawamu…

