1st Anniversary GMS Puri: Jangan Abaikan Didikan Tuhan

GMS Puri berhari jadi pertama. Pastor Fuji Harsono berbagi Firman Tuhan. Salah satu sesinya di ibadah pukul 13: Jangan Abaikan Didikan Tuhan.

Minggu, 18 Januari 2026, Pastor Fuji mendasarkan kotbah dari Roma 8:29.

”Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”

”Gol mengikut Yesus adalah transformasi kehidupan. Keserupaan dengan Yesus. Jadi, ke mana arah keserupaan kita?” tegas Pastor Fuji.

Ia menekankan, tema besar kehidupan tak hanya sukses atau kaya. Meski dua hal itu tak salah. ”Saya doakan Anda sukses dan kaya malahan. Tapi, Injil kita adalah Injil Transformasi Kehidupan, bukan Injil Kemakmuran,” ungkapnya.

Peta rohani kita bukan sukses, karena kalau kita sungguh-sungguh bekerja, maka kecukupan akan diberikan. Tapi bagaimana menjadi serupa dengan Yesus.

Fuji mengingatkan, semua kisah dalam Perjanjian Lama adalah bayangan, gambaran perjalanan rohani kita menuju Kanaan, agar kemaksimalan kita makin dewasa menjadi serupa dengan Yesus.

Selain itu, Ayub 5:17 menjadi bahasannya.

”Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”

”Kalau Anda serius dengan hubungan Anda dengan Tuhan, pertimbangkan hal ini. Tuhan tak hanya menghibur kita tapi juga mendidik kita,” ucapnya.

Ia mencontohkan, banyak orang mengadopsi anak jalanan kecewa karena anak itu kembali ke jalanan akibat tak bisa diatur.

“Banyak anak Tuhan tak bisa dididik karena tak mau diatur. Padahal, Ibrani 12:5-11 menyatakan Tuhan bekerja melalui didikan,” ungkapnya.

Selain itu, Tuhan juga bekerja melalui peringatan, dan juga teguran atau koreksi.

Apa bentuk disiplin Bapa ketika kita menganggap enteng didikan Tuhan?

Pertama, Kehadiran Tuhan menjadi pasif. Meski demikian, diamnya Tuhan bukan berarti meninggalkan kita.

Hanya saja, Ia tak ’involved’. Ia hadir, tak meninggalkan kita, tapi diam.

Seperti zaman Imam Eli di masa Israel bejat, termasuk imam dan keluarganya. Firman dan penglihatan jarang.

Kedua, Tuhan membiarkan kita mengalami konsekuensi dari perbuatan kita akibat ketidaktaatan.

”Ingat, pengampunan tidak menghapus konsekuensi,” jelasnya.

Fuji pun menjelaskan dua hal, yakni ’bias atribusi motif’, yakni kecenderungan psikologis kita untuk salah menilai alasan di balik perilaku seseorang, seringkali dengan mengaitkannya pada karakteristik internal (kepribadian, kemampuan) daripada faktor eksternal (situasi, konteks), seperti ketika kita berasumsi pengemudi lain jahat karena memotong jalan, padahal ia mungkin terburu-buru ke rumah sakit. Ini adalah bias kognitif yang memengaruhi cara kita memahami diri sendiri dan orang lai.

Dan juga ’asimetri atribusi motif’ adalah fenomena psikologis di mana orang cenderung secara bias menganggap motif kelompok luar sebagai negatif (kebencian, permusuhan) sementara menganggap motif kelompok sendiri sebagai positif (cinta, afiliasi), bahkan ketika tindakan keduanya serupa, sehingga memperburuk konflik antar kelompok dan menghambat solusi damai. Intinya, kita menilai motivasi orang lain secara pesimis dan motivasi diri sendiri secara optimis, seperti sulit melihat orang lain termotivasi cinta saat kita sendiri mudah melihat cinta sebagai motivasi diri.

”Hati-hati dengan menghakimi orang,“ tegasnya.

Akhirnya, sikap apa yang perlu dihindari dalam menghadapi didikan Tuhan?

Pertama, jangan anggap enteng.

Kedua, jangan putus asa.

”Jangan tinggalkan Tuhan saat ditegur. Jangan ’baper’. Jangan juga jadi ’bebal’, agar kita tak dianggap sebagai anak-anak gampang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.