Sunday Service GMS Puri: Aspek Penting dalam Pernikahan

Bulan Februari, tema GMS kembali terkait tema kasih, temasuk tentang pernikahan.

Hadir di Ibadah Sore GMS Puri pukul 15.00 WIB, Pendeta Chandra Subekti dari GMS Cikarang membawakan tema ’ Aspek Penting dalam Pernikahan’.

”Pernikahan tak punya jalan kembali. Seperti transaksi di toko elektronik, aturannya jelas: barang yang sudah dibeli tak bisa dikembalikan,” kata Chandra.

Ia mengingatkan, Alkitab isinya adalah janji-janji Allah. Satu-satunya ciptaan Allah berjanji adalah di depan altar pernikahan. ”Masak janji cuma sekali gagal?” ungkapnya.

Chandra mendasarkan Firman Tuhan dari Kidung Agung 2:10-12.

”Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita.“

Aspek pertama pernikahan: Komunikasi

Chandra bertanya, “Ada yang pernah tinggal di kost-kostan? Tinggal bersama seperti kost beda dengan hidup bersama seperti kost-kostan. Karena itu, jangan lakukan ‘silent treatment‘ pada pasangan kita.“

Ia menegaskan, kita tak bisa menyelesaikan pernikahan karena tidak cinta. Sama seperti kita tak akan menjual mobil kita hanya karena bensinnya habis.

”Komunikasi penting untuk kelangsungan hubungan pernikahan. Uang tak bisa membeli kebahagiaan.Uang bisa membeli house tapi tak bisa membeli ’home’ keluarga. Sama seperti meja makan bisa membeli makanan tapi tak bisa membeli komunikasi,” urainya.

Tujuan berkomunikasi untuk menjalin hubungan bukan searah seperti menyampaikan ’voice note’ dalam percakapan ponsel.

Persoalan ‘unfinished business’ yang belum selesai di masa lalu bisa merusak pernikahan. Selain itu, juga ekspektasi tinggi pada pasangan juga bisa membahayakan.

”Yang namanya standar -seperti juga standar motor- itu selalu di bawah. Tidak mungkin standar itu di atas,“ selorohnya.

Dalam hubungan pernikahan, masalah preferensi bisa diganti, tapi hal prinsipal tidak bisa. “Karena itu, komunikasi dengan memenangkan ego akan merusak. Sebaliknya, kita harus mendukung sendukung satu sama lain, dan saling mendoakan dengan melibatkan Tuhan,” jelasnya.

Beda dua hape

Chandra menganalogikan lelaki dan perempuan ibarat oldphone dan smartphone.

Oldphone punya karakter memori terbatas dan kecil, aksesoris minim, tetapi kuat dan tahan banting.

”Sebaliknya, smartphone punya ciri memori besar, aksesoris banyak serta bisa multitasking,” ungkapnya.

Aspek kedua pernikahan: Masa transisi

Berpijak dari Kidung Agung 2:11, aspek penting pernikahan kedua setelah komunikasi adalah ’masa transisi’. Setiap musim pernikahan adalah transisi, karena itu komunikasi adalah jembatan pernikahan dalam setiap transisi.

”Musim boleh berganti pasangan tak boleh berganti. Banyak orang gagal bukan karena salah pilih pasangan tapi karena gagal di masa transisi,” tukasnya.

Sementara itu, ’tanah kita’ pada ayat 12 bicara tentang teritori. ”Tanah kita berarti kepunyaan bersama. Tak ada milikku dan milikmu,” simpulnya.

Musim memangkas bermakna membersihkan untuk menghasilkan buah lebih baik. ”Jangan tinggalkan Tuhan dalam pernikahan. Pernikahan tidak pernah mati karena konflik, tapi karena konflik yang dibiarkan,” pesannya.

Pernikahan yang kuat membutuhkan kemampuan untuk berubah dan adaptasi di setiap musim.

”Penjaga pernikahan terbaik adalah firman Tuhan. Dan, hadiah terbaik pernikahan adalah holyness, kekudusan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.