Lima kali ke Padang, belum pernah ke Bukittinggi. Kali ini, misi ini tertuntaskan.
Perjalanan memakan waktu lebih dari tiga jam. Nyaris lima jam bahkan.
”Kita harus berangkat pagi, Mas Jojo, ada portal buka tutup di kawasan Tanah Datar sebagai imbas kerusakan jalan dampak bencana banjir bandang akhir tahun lalu,” kata Jovan Primayando, yang mendampingi perjalanan dari Santika Padang ke Bukittinggi.
Beruntung, kami tiba di lokasi ’buka tutup’ itu sebelum jam delapan. Karena setelah itu akses jalan tak bisa dilewati dan full untuk konsentrasi pengerjaan dengan alat berat hingga jam lima sore.
Pun juga kembali mengalami stuck traffic jam karena kami jalan di Senin, ’Hari Pasar’ di Pasar Koto Baru, Tanah Datar. Pasar sayur mayur dan aneka kebutuhan lain di Kecamatan X-Koto ini dikenal sering menyebabkan kemacetan parah di jalan nasional karena tata letaknya, menjadikannya titik transit penting yang memerlukan solusi relokasi atau penataan ulang.
Selain Tanah Datar, dari Padang ke Bukittinggi kami melewati Kabupaten Padang Pariaman, Padang Panjang, dan sebagian Agam. Diawali dari Jalan Tol Padang-Sicincin, jaraknya hanya 36 kilometer tapi tarifnya Rp 50.500.
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan, atau sekitar 90 km arah utara dari Kota Padang. Kota ini berada di tepi Ngarai Sianok dan dikelilingi dua gunung, yakni Gunung Singgalang serta Marapi.
Bukittinggi merupakan kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948-1949 yang dipimpin Syafruddin Prawiranegera selaku Ketua PDRI/Menteri Pertahanan/ Menteri Penerangan/Menteri Luar Negeri ad interim.
Kota ini pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock Parijs van Sumatra. Bukittinggi dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya proklamator Bung Hatta dan pejabat Presiden Republik Indonesia Assaat Datuk Mudo.
Ikon Jam Gadang
Jam Gadang menjadi ikon kota Bukittinggi. Jam Gadang adalah menara jam ikonik setinggi 26-27 meter yang dibangun tahun 1926-1927 di pusat Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Sebagai simbol kota dan destinasi wisata utama, menara ini unik karena menggunakan mesin jam langka buatan Jerman (Vortmann Recklinghausen) yang serupa dengan Big Ben di London, serta angka empat Romawi yang ditulis ’IIII’.
Gadang artinya besar. Gede. Jam Gadang menjadi lokasi peristiwa penting pada masa sekitar kemerdekaan Indoesia, seperti pengibaran bendera merah putih (1945), Demonstrasi Nasi Bungkus (1950) serta pembunuhan 187 penduduk setempat oleh militer atas tuduhan terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (1959).
Salam untuk Uda dan Uni di Sumatera Barat, khususnya di kota sejuk nan penuh sejarah, Bukittinggi…

