Sudah jauh-jauh ke Sumatra Barat, sekalianlah mampir ke Ngarai Sianok. Telusuri juga Lubang Jepang nan penuh sejarah. Merinding!
Ngarai Sianok merupakan sebuah Lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan Kota Bukittinggi dengan Kabupaten Agam. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan Ngarai Koto Gadang sampai ke Nagari Sianok Anam Suku, berakhir di Kecamatan Palupuh, Agam.

Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah dengan latar belakang Gunung Singgalang dan Pegunungan Bukit Barisan sehingga menjadi salah satu objek wisata andalan provinsi Sumatera Barat.
Mengapa diberi nama Ngarai Sianok? Eits, tidak ada hubungannya samsek dengan nama mantan Perdana Menteri Kamboja Norodom Sihanouk. Masyarakatnya memberi nama Sianok, yang dalam bahasa Minang artinya Si Pendiam (Si Anok), karena kondisi dan suasana ngarai tersebut tenang dan damai.

Di Ngarai Sianok sisi Bukittinggi, tak jauh dari Istana Bung Hatta, terdapatlah Lubang atau Gua Jepang. Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan.
Lubang Jepang baru ditemukan pada awal tahun 1950 dan dijadikan tempat wisata sejak 1984. Saat ditemukan, pintu terowongan ini berukuran 20 cm dengan kedalaman 64 m. Lubang tersebut dulunya digunakan sebagai tempat untuk melindungi diri dari bahaya serangan udara. Lubang ini dibangun oleh Hirotada Honjyo berdasarkan instruksi Letjen Moritake Tanabe Panglima Divisi ke-25 AD Bala Tentara Jepang untuk membuat lubang perlindungan yang terletak di Ngarai.

Bersama pemandu wisata, Uda Parta, saya dan Dani Manik menelusuri Lubang Jepang dari pintu Taman Panorama Ngarai Sianok hingga lubang keluarnya dekat jalan raya.
Terowongan ini memiliki panjang 1.400 meter, berbentuk berliku, dan lebarnya sekitar 2 meter. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan khusus, seperti ruang pengintai, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.
Sebuah heritage yang luar biasa!


