Minggu, 7 Juni 2026, 13.00 WIB hadir di Ibadah ketiga GMS Puri. Dari Bali, Pendeta Samuel Muji menekankan betapa Tuhan mau bertemu dengan ’orang-orang gagal’.
Yohanes 21 mengisahkan perjumpaan ketiga Tuhan Yesus dengan murid-muridNya setelah kebangkitan. Saat itu, Yesus menjumpai Petrus, Yohanes, Yakobus, Tomas, dan murid-murid lain yang kembali menjadi nelayan.
”Mereka itu sebenarnya orang yang gagal. Gagal menjaga kepercayaan pada Tuhan. Tapi, Tuhan sabar. Ia datang kepada orang gagal, dengan hati seorang bapak yang datang pada kita,” ungkapnya.
Yohanes 21:7, maka murid yang dikasihiYesus itu berkata kepada Petrus: ”Itu Tuhan.” Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau.
Di sini teladan Petrus menunjukkan, kalau Anda gagal jangan menjauh dari Tuhan. Ia akan mempercayai kita lagi. Petrus angsung tak sabar untuk berjumpa dengan Tuhannya. Tuhan yang pernah dikhianati dan disangkalnya.
Beberapa poin tentang kasih yang memulihkan:
Pertama, kasihnya selalu mencari bahkan di saat kita menjauh. Di konteks ini, mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tak layak dipertahankan. Orang-orang yang diminta berjaga-jaga sejam saja dengan Tuhan pun tak bisa.
Kedua, kasihNya menerima kembali sekalipun pernah dikecewakan. ”Ia bisa saja menjadi kecewa, tapi Ia tak memilih untuk kecewa,” ungkap Samuel.
Ketiag, kasihNya tidak menghakimi justru memulihkan. Di momen ’api arang’, Petrus ingat saat ia menyangkal Yesus bersama penjaga Bait Allah yang berdiang mencari kehangatan, Yohanes 18:18
”Itulah momen ia mengkhianati Tuhan, tapi hati Tuhan selalu mencari oenag terhilang,” tegasnya.
Keempat, kasih yang memulihkan adalah kasih yang menyembuhkan, bukan menjatuhkan. Karena itu, sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: ”Simon, anak Yohanes, pakah engkau mengasihi Akulebih dari pada mereka ini?”
Tuhan Yesus menyapanya dengan Simon, bukan Petrus, atau Kefas. Seolah-olah ia berkata, ”Aku ingat kanu Simon, sebelum kamu mengalami kegagalan.”
Kelima, kasihNya mempercayai, bahkan di saat kita tidak menunjukkan kesetiaan, bahkan dalam kegagalan.


