Pendeta Muda Dede Sutanto dari GMS Gandaria mengisi pelayanan mimbar di GMS Puri. Salah satunya di Ibadah Jam 11, berjudul ’Api yang Selalu Menyala-nyala’.
Dasar Firman Tuhan dari Imamat 6:9-13.
“Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana.
Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.“
Dede memaparkan, ada beberapa poin agar kita bisa menjaga api mezbah jangan sampai padam. Karena api Tuhan itu harus selalu membara dalam hidup kita.
Pertama, Mempersembahkan yang harum bagi Tuhan.
Caranya, dengan seluruh hidup kita. Saat ini sudah tak lagi menyajikan korban bakaran, tapi memberi persembahan dari hidup kiita keseharian kita. Kita memberi yang terbaik sesuai Roma 12:2, tidak serupa dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaharuan budi, sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Untuk memberikan persembahan yang harum, kia harus menjaga pikiran, mulut, dan hati. Menjaga agar hidup dalam kekudusan yang Tuhan mau.

Paulus menyampaikan dalam Galatia 2:20, ”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Kita harus meminta kekuatan yang dari Tuhan, karena kekuatan manusia terbatas. Minta kekuatan dan berkat dari Allah, agar hidup dalam daging ini menjadi hidup karena iman.
Kedua, Api harus terus menyala. Seperti imam yang menaruh api setiap pagi, maka kita harus punya hubungan akrab dengan Tuhan. Doa yang harus selalu dua arah. Hubungan makin dekat, makin intim, dan kepekaan yang membawa kita makin erat.
Diperlukan juga komunitas rohani, serta kewajiban untuk melayani. Pelayanan akan menjadi kekuatan iman kita, memback-up kita agar api itu tak padam. Seperti pagar agar kita tak bisa keluar dari ketaatan.Ibaratnya, setiap pagi imam harus menaruh kayu, sehingga api dan doa penyembahan itu tak menjadi padam.
Ketiga, Jangan suka ’on off’. Karena kalau ’off’, gelap, kita akan mudah tersandung dosa apapun. I Tesalonika 5:19 mengingatkan, ”Jangan padamkan roh.”
”Kalau api kita padam, pasti nyasar, itu kesempatan iblis masuk,” ingatnya.


