Destry dan gawang rupiah: Ketika perempuan bersiap menjadi ‘Kiper’ Bank Indonesia

PRIORITAS, 28/7/26 (Jakarta): Ada satu posisi di Republik ini yang sebentar lagi mungkin memiliki sejarah baru. Perempuan di pucuk pimpinan.

Bukan presiden. Kita sudah pernah punya Presiden perempuan. Megawati Soekarno Putri.

Bukan gubernur. Perempuan yang menjadi gubernur sudah cukup banyak. Dari nama Ratu Atut Chosiyah di Banten, dan kini Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur serta Sherly Tjoanda di Maluku Utara.

Bukan pula menteri. Kabinet Indonesia sudah lama akrab dengan perempuan-perempuan yang memegang portofolio strategis. Dari era Maria Ulfah, Supeni, Mien Sugandhi, Yohana Yembise, Sri Mulyani, Retno Marsudi, Tri Risma, Siti Nurbaya, Rini Soemarno, Nila Moeloek hingga saat ini ada Menkomdigi Meutya Hafid, MenPANRB Rini Widayanti, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Fauzi.

Kini, giliran sebuah kursi yang mungkin tidak terlalu sering muncul di baliho, tetapi setiap gerak-geriknya bisa membuat kita mengernyitkan dahi ketika membuka aplikasi mobile banking: Gubernur Bank Indonesia.

Belum pernah ada Gubernur BI perempuan secara permanen sejak Sjafruddin Prawiranegara memimpin Bank Sentral kita pada 1 Juli 1953.

Dan nama yang sedang berdiri paling depan di depan gawang itu adalah Destry Damayanti.

Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri karena alasan pribadi. Jika disetujui DPR, Destry akan menjadi perempuan pertama yang secara permanen memimpin Bank Indonesia.

Jangan sampai bobol

Kalau benar terjadi, sejarah mencatatnya dengan tinta tebal.

Indonesia pernah punya presiden perempuan. Punya banyak menteri perempuan. Punya gubernur perempuan. Sekarang, mungkin sudah waktunya “penjaga gawang rupiah” juga perempuan.

Tentu istilah “penjaga gawang” ini jangan terlalu harfiah. Sebab Gubernur BI bukan kiper sepak bola yang tugasnya hanya berteriak, “Jangan sampai kebobolan!”

Masalahnya, kalau rupiah kebobolan, yang berteriak bukan cuma pelatih.

Bisa investor.

Bisa pengusaha.

Bisa importir.

Dan yang paling rajin mengeluh biasanya rakyat ketika harga barang ikut naik.

Menariknya, sinyal pencalonan Destry justru muncul dengan cara yang khas Presiden Prabowo: sedikit serius, sedikit bercanda, tetapi membuat wartawan langsung memasang radar.

Dalam akad massal KPR subsidi di Kabupaten Batang, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyebut Destry sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Prabowo kemudian mengoreksi dengan gaya santainya, “Pejabat Gubernur BI lho ini… dan nanti bisa jadi Gubernur beneran, tergantung DPR.”

Nah, di Indonesia, candaan presiden kadang-kadang memang punya umur lebih panjang daripada pidato resmi.

Begitu Presiden bercanda soal calon pejabat, wartawan tidak tertawa saja.

Mereka mencatat.

Ekonom menganalisis.

Pasar membaca.

Dan DPR mungkin mulai membuka kalender.

Prabowo kemudian benar-benar mengajukan Destry sebagai calon tunggal. Jadi, kalau sebelumnya dianggap sekadar “kode-kodean”, sekarang kodenya sudah berubah menjadi surat resmi.

Tinggal satu babak lagi: DPR.

Bukan nama dadakan

Kalau ada yang bertanya, “Destry ini siapa?”

Jawabannya sederhana: ia bukan orang yang baru kemarin sore masuk ruang rapat BI.

Destry Damayanti lahir di Jakarta pada 1963. Ia menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia dan kemudian meraih gelar Master of Science bidang Regional Science dari Cornell University, Amerika Serikat, pada 1992.

Menariknya, perjalanan karier Destry justru menunjukkan bahwa ia tumbuh melalui lintasan yang cukup lengkap: akademisi, birokrat, ekonom pasar, perbankan, lembaga penjamin simpanan, lalu bank sentral.

Ia pernah menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi UI. Ia juga pernah bekerja di Kementerian Keuangan pada 1992–1997, kemudian menjadi ekonom di Citibank.

Dari sektor swasta, ia berlanjut menjadi Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia, lalu menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas dan Kepala Ekonom Bank Mandiri.

Jadi kalau pengalaman ekonomi adalah syarat masuk ruang Gubernur BI, Destry datang membawa CV yang cukup tebal.

Bahkan sebelum masuk BI, ia pernah menjadi Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan pada 2015–2019.

Dan pada 2019, pintu BI terbuka.

Destry diangkat menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk periode 2019–2024.

Pada 2024, ia kembali dipercaya menduduki posisi yang sama untuk periode 2024–2029.

Artinya, Destry bukan hanya tahu Bank Indonesia dari luar pagar.

Ia sudah lama berada di dalamnya.

Ia tahu bagaimana kebijakan moneter bekerja, bagaimana pasar keuangan bereaksi, dan—yang tidak kalah penting—bagaimana sebuah keputusan BI bisa diterjemahkan pasar menjadi angka merah atau hijau.

Dari Harvard, Cornell, Citibank sampai BI

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Destry.

Ia tidak dibentuk oleh satu dunia saja.

Ada dunia akademik.

Ada birokrasi.

Ada perbankan swasta.

Ada bank BUMN.

Ada LPS.

Dan akhirnya ada bank sentral.

Bahkan dalam perjalanan awal kariernya, Destry pernah menjadi peneliti di Harvard Institute for International Development.

Jadi, kalau ada yang menyebut Destry sebagai “orang BI”, itu benar, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan dirinya.

Ia adalah ekonom yang pernah melihat perekonomian dari banyak jendela.

Dan mungkin justru itu yang membuat namanya relatif nyaman bagi pasar.

Sebab Bank Indonesia bukan tempat untuk orang yang hanya pintar membaca buku ekonomi.

Di sana orang harus mampu membaca pasar, psikologi investor, inflasi, rupiah, likuiditas, suku bunga, dan—kadang-kadang—headline media.

Yang terakhir ini juga penting.

Salah bicara sedikit, pasar bisa salah paham.

Salah memberi sinyal, rupiah bisa ikut berdebar.

Pasar ternyata tidak panik

Inilah bagian yang paling menarik.

Sebelum nama Destry mengemuka, bursa spekulasi calon Gubernur BI sempat ramai.

Nama Purbaya Yudhi Sadewa beredar.

Nama Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, juga ikut disebut-sebut.

Bahkan publik sempat berspekulasi, jangan-jangan kursi Gubernur BI akan menjadi bagian dari konfigurasi politik-ekonomi pemerintahan baru.

Pasar tentu tidak membaca politik seperti masyarakat membaca gosip.

Pasar membaca risiko.

Dan ketika Perry Warjiyo mendadak mengundurkan diri, kekhawatiran terhadap arah kebijakan BI dan independensi bank sentral memang sempat meningkat.

Tetapi kemudian muncul Destry.

Dan reaksi pasar justru menarik.

Ketika Prabowo resmi mengajukan Destry sebagai calon tunggal, rupiah menguat hingga mencapai level terkuat terhadap dolar AS sejak 18 Juni 2026.

Ini bukan berarti pasar memberikan “cek kosong” kepada Destry.

Bukan pula berarti investor otomatis jatuh cinta kepada semua kebijakan pemerintah.

Tetapi setidaknya ada pesan yang cukup jelas:

Pasar menyukai kepastian.

Dan Destry memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam situasi transisi: kontinuitas.

Ekonom DBS Radhika Rao menilai pencalonan Destry kemungkinan diterima baik pasar karena pengalaman panjangnya di BI dan pasar keuangan. Ia juga dinilai akan melanjutkan arah kebijakan yang ada, terutama menjaga stabilitas rupiah.

Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian bahkan menggambarkan Destry sebagai pembuat kebijakan yang pragmatis, berorientasi pada stabilitas, tetapi tetap memiliki nuansa pro-pertumbuhan.

Bahasa sederhananya: Pasar tidak melihat orang baru masuk ke ruang kendali. Pasar melihat orang lama yang sudah tahu letak rem, gas, dan setir.

Tetapi justru di sinilah ujiannya. Jangan buru-buru memberikan tepuk tangan.

Karena menjadi Gubernur BI bukan sekadar soal apakah rupiah menguat sehari setelah nama diumumkan.

Tantangan terbesar Destry justru ada di depan.

Bank Indonesia menghadapi tekanan untuk membantu mengejar target pertumbuhan ekonomi pemerintahan Prabowo, sementara mandat utamanya tetap menjaga stabilitas moneter dan rupiah.

Di sinilah garis tipis antara koordinasi dan subordinasi menjadi sangat penting.

Koordinasi fiskal-moneter diperlukan.

Bahkan sangat diperlukan.

Tetapi BI jangan sampai berubah menjadi “kasir pemerintah”.

Pemerintah punya agenda pembangunan.

Pemerintah ingin pertumbuhan tinggi.

Pemerintah membutuhkan pembiayaan.

Tetapi bank sentral tetap harus punya keberanian mengatakan:

“Maaf Pak, angka inflasi tidak memungkinkan.”

Atau:

“Maaf Pak, rupiah sedang tidak sehat.”

Atau bahkan kalimat yang paling tidak disukai pejabat:

“Kebijakan ini sebaiknya jangan dulu.”

Itulah sebabnya independensi BI menjadi ujian utama Destry.

Reuters mencatat pasar akan memperhatikan dengan tajam perbedaan antara koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dengan subordinasi bank sentral kepada pemerintah.

Destry sendiri memiliki hubungan kerja yang cukup baik dengan pemerintah dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Itu bisa menjadi kekuatan karena koordinasi kebijakan menjadi lebih mulus.

Tetapi sekaligus menjadi ujian.

Karena pasar akan bertanya:

Apakah Destry akan menjadi mitra pemerintah yang kuat, atau penjaga independensi BI yang kuat?

Jawaban idealnya tentu:

dua-duanya.

Bukan soal gender

Ada simbolisme yang menarik kalau Destry akhirnya disetujui DPR.

Seorang perempuan kelahiran Jakarta 1963 akan menjadi orang pertama yang memimpin BI secara permanen. Sebelumnya memang ada nama Miranda Gultom. Pada 17 Mei -26 Juli 2009, Miranda menjadi Pelaksana Gubernur Bank Indonesia saat Boediono ’pamit’ untuk maju pilpres, menjadi calon wakil presiden mendampingi presiden petahana Susilo Bambang Yudhoyono. Saat tiba waktunya gubernur permanen, Darmin Nasutonlah yang ditunjuk Presiden SBY.

Tetapi sebenarnya ini bukan sekadar soal gender.

Ini tentang kompetensi.

Indonesia tidak membutuhkan perempuan sebagai Gubernur BI hanya karena ingin membuat sejarah.

Indonesia membutuhkan orang terbaik untuk menjaga stabilitas moneter.

Kebetulan, kali ini orang terbaik yang diajukan adalah seorang perempuan.

Dan itu justru lebih sehat.

Sebab kalau nanti ada yang mengatakan, “Destry menjadi Gubernur BI karena perempuan,” jawabannya sederhana:

Tidak. Ia menjadi kandidat karena pengalaman dan kapasitasnya. Tetapi sejarah akan mencatat bahwa ia perempuan pertama yang sampai ke sana.

Itulah bedanya simbol dengan substansi.

Dari ’Kiper Sementara’ menjadi kiper permanen?

Kini Destry sedang berada dalam posisi yang unik.

Awalnya ia hanya Pejabat Gubernur Sementara setelah Perry Warjiyo mundur.

Kemudian Presiden melontarkan candaan bahwa ia bisa menjadi “Gubernur beneran”.

Lalu candaan itu menjadi pencalonan.

Dan sekarang pencalonan itu menjadi resmi.

Tinggal menunggu DPR, yang masih berada pada masa reses hingga Masa Sidang I 2026/2027 dibuka 14 Agustus 2026 nanti.

Kalau DPR menyetujui, maka Destry tidak lagi sekadar menjaga gawang sementara.

Ia akan menjadi kiper utama Republik untuk urusan moneter.

Dan gawang yang dijaganya bukan gawang biasa.

Di sana ada rupiah.

Ada inflasi.

Ada suku bunga.

Ada cadangan devisa.

Ada kepercayaan investor.

Ada pertumbuhan ekonomi.

Dan, tentu saja, ada harapan jutaan orang agar harga kebutuhan sehari-hari tidak ikut “mengikuti pasar”.

Maka, mungkin sudah saatnya kita mengucapkan:

Selamat datang di depan gawang, Bu Destry.

Tapi ingat, ini bukan pertandingan 90 menit.

Ini pertandingan lima tahun.

Dan lawannya bukan satu kesebelasan.

Ada inflasi, gejolak global, dolar AS, perang, arus modal, utang, tekanan politik, dan ekspektasi pasar.

Satu hal lagi: kalau nanti rupiah kebobolan, jangan salahkan sarung tangan kipernya.

Sebab seorang Gubernur BI memang bisa menjaga gawang.

Tetapi seluruh kesebelasan ekonomi—pemerintah, dunia usaha, parlemen, dan pasar—tetap harus bermain sebagai tim.

Sebab rupiah yang kuat tidak lahir hanya dari seorang Gubernur BI yang hebat. Ia lahir dari kebijakan ekonomi yang kredibel, disiplin fiskal, dan kepercayaan bahwa penjaga gawangnya tidak akan disuruh membiarkan bola masuk.

Dan kalau sejarah akhirnya mencatat nama Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia perempuan pertama, barangkali kalimat yang paling tepat bukan sekadar:

“Perempuan akhirnya memimpin BI.”

Melainkan:

“Setelah perempuan memimpin istana, kementerian dan pemerintahan daerah, kini perempuan berdiri di depan gawang rupiah.”

Tinggal kita lihat:

Apakah DPR akan memberikan sarung tangan permanen itu kepada Destry?***

sebagaimana ditayangkan di https://beritaprioritas.com/destry-dan-gawang-rupiah-ketika-perempuan-bersiap-menjadi-kiper-bank-indonesia/

Leave a Reply

Your email address will not be published.