Namanya Immanuel Daniel Setiawan. Mahasiswa Semester 3 Ilmu Komunikasi, Unika Atma Jaya. Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, Immanuel memilih untuk tidak menyerah.
Ia tetap kuliah. Tetap belajar. Tetap berproses. Tetap berani tampil dan menyampaikan gagasan.
Kisah Immanuel bukan hanya tentang perjuangan seorang mahasiswa menghadapi keterbatasan.
Ini juga tentang kesempatan.
Sebab, sehebat apa pun semangat seseorang, perjuangan akan menjadi jauh lebih berat jika lingkungan di sekitarnya tidak memberikan ruang.
Di sinilah kita melihat pentingnya kampus inklusif.
Kampus bukan hanya tempat bagi mereka yang dianggap ’sempurna’ secara fisik. Kampus seharusnya menjadi ruang bagi siapa pun untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan, mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan masa depan.
Unika Atma Jaya menunjukkan bahwa mahasiswa difabel bukan sekadar ’diterima’, tetapi harus diberi ruang untuk bertumbuh dan berprestasi.
Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depan seseorang bukanlah keterbatasannya. Tetapi seberapa besar kesempatan yang diberikan, seberapa kuat kemauannya untuk berjuang, dan seberapa jauh lingkungan di sekitarnya mau berjalan bersama.
Immanuel mengajarkan satu hal sederhana kepada kita:
Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bermimpi.
Dan bagi kita yang tidak memiliki keterbatasan yang sama, mungkin tugas kita bukan untuk merasa kasihan.
Tugas kita adalah memastikan tidak ada siapa pun yang kehilangan kesempatan hanya karena ia berbeda.
Salam dari kampus inklusif.
Salam dari perjuangan Immanuel nan menginspirasi. ????
Video by @anastasya_joyce
Special Appearance: @iyoanirawan
Edited by @iya.n_
