Oleh Agustinus ‘Jojo’ Rahardjo
*tulisan ini dibuat Senin siang, 26 Oktober 2026, sesaat setelah mendarat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pesawat Airbus A-320 Pelita Air dari Jakarta mendarat dengan selamat, namun kabut tipis masih menyelimuti Bumi Banua.
Sepak bola ternyata bukan sekadar urusan sebelas pemain melawan sebelas pemain. Bukan hanya soal gol, kartu merah, keputusan VAR yang kontroversial, atau wasit yang kerap menjadi sasaran sumpah serapah suporter.
Ada kalanya, sepak bola menjadi panggung bagi suara kemanusiaan. Bahkan, ketika suara itu tak cukup keras terdengar dari ruang-ruang kekuasaan.
Kali ini, yang bersuara adalah para suporter sepak bola Indonesia. Mereka tidak sedang memprotes harga tiket, buruknya performa pelatih, atau manajemen klub yang pelit membeli pemain.
Mereka sedang memprotes kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebuah tragedi lingkungan yang bukan hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga merampas hak masyarakat untuk menghirup udara bersih.
Pada pertandingan Persib Bandung melawan Persik Kediri, 18 Oktober 2026, di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, sejumlah spanduk dibentangkan di tribun Bobotoh.
Pesannya singkat, tetapi menohok. ’All Eyes on Karhutla.’ ‘No Forest, No Future. Fuck Greed.’ ‘Langit Seharusnya Biru.’
Tiga pesan yang lebih tajam daripada tendangan bebas dari luar kotak penalti.
Terutama kalimat terakhir dari pendukung tim ’Pangeran Biru’:. Langit Seharusnya Biru.
Sederhana sekali. Tidak membutuhkan kajian akademis beratus-ratus halaman untuk memahaminya. Langit memang seharusnya biru, bukan kelabu oleh asap kebakaran. Anak-anak seharusnya menghirup udara segar, bukan partikel berbahaya yang masuk ke paru-paru.
Dan hutan seharusnya menjadi warisan kehidupan, bukan korban keserakahan.

Ketika Rivalitas Berhenti di Garis Lapangan
Yang menarik, kepedulian terhadap karhutla tidak hanya datang dari Bobotoh.
Sebelumnya, banner kritik mengenai Karhutla di Kalimantan dan Sumatera pertama kali dikibarkan oleh North Legion di kandang Persita saat pertandingan pekan kelima Super League 2026–2027. Saat itu ’Pangeran Cisedane’ menang 3-2 atas Persija, 17 Oktober 2026.
Suara serupa juga muncul dari The Jakmania, kelompok suporter Persija Jakarta, ketika mendukung Macan Kemayoran dalam laga tandang menghadapi Persita Tangerang. Juga saat laga kandang menjamu Arema di Stadion Patriot Chandrabaga, Bekasi, 21 Oktober 2026.
The Jakmania Dukuh Zamrud, Bekasi membentangkan banner bertuliskan ’All Eyes on Karhutla’, berbuntut respons dari sejumlah steward yang mendatangi mereka dan meminta banner tersebut diturunkan.
Saat ditanya mengenai alasan pelarangan tersebut, para steward disebut tidak mampu memberikan penjelasan secara jelas dan hanya mengaku menjalankan tugas.
Editor: Desy Selviany
Sementara itu, Bonek, pendukung Persebaya Surabaya, menunjukkan solidaritas dengan membagikan 30 ribu masker di Stadion Gelora Bung Tomo. Aksi solidaritas bertajuk “One Man One Mask” ini digelar oleh Bonek dan Bonita (pendukung Persebaya Surabaya) saat pertandingan melawan PSS Sleman, 18 Oktober 2026.
Ragam komunitas suporter dari berbagai kota dengan sejarah, karakter, dan rivalitas yang berbeda.
Dalam urusan sepak bola, mereka mungkin sulit duduk semeja. Warna kebanggaan mereka berbeda. Nyanyian tribun mereka berbeda. Bahkan, sejarah persaingan mereka terkadang menyisakan luka.
Namun, ketika bicara tentang keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan, ternyata ada sesuatu yang lebih besar daripada rivalitas.
Boleh berbeda warna jersey, tetapi kita menghirup udara dari langit yang sama.
Inilah wajah sepak bola yang sesungguhnya. Sepak bola sebagai kekuatan sosial, bukan sekadar industri hiburan yang menjual tiket, hak siar, dan merchandise.
Bobotoh, Jakmania, Laskar Benteng Viola, dan Bonek sedang memperlihatkan bahwa komunitas suporter bisa menjadi bagian dari masyarakat sipil yang kritis, peduli, dan mampu menggerakkan solidaritas.
Mereka bukan hanya penonton pertandingan. Mereka juga warga negara yang memiliki hak untuk menyuarakan kegelisahan.

Solidaritas yang Melintasi Batas Negara
Kepedulian terhadap kebakaran hutan dan lahan Indonesia juga mendapat perhatian di media sosial internasional, termasuk respons empatik dari akun-akun yang berkaitan dengan komunitas klub sepak bola besar dunia.
Sejumlah klub sepak bola internasional yang menyuarakan dukungan dan simpati atas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia melalui media sosial.
Manchester United (Inggris) mengunggah pesan ‘Mendoakan dan Menguatkan’ dengan harapan wilayah Indonesia segera pulih.
Liverpool (Inggris): Mengirimkan pesan solidaritas menggunakan semboyan khasnya, ‘You’ll Never Walk Alone, Indonesia’.
Sassuolo (Italia): Menyampaikan pesan ’Kami bersama Indonesia’ serta doa agar api segera padam.
Atletico de Madrid (Spanyol): Mengunggah pesan ’Cepat pulih Indonesia’ disertai dukungan bagi masyarakat dan petugas di lapangan.
Borussia Dortmund (Jerman): Menyerukan pesan ’Stop Karhutla. Protect the Earth/ serta mengajak menjaga lingkungan.
Leeds United (Inggris): Menyampaikan simpati dan dukungan kepada masyarakat Indonesia yang terdampak karhutla.
LOSC Lille (Prancis): Turut menyuarakan kepedulian dan solidaritas bagi warga yang terdampak kabut asap serta kebakaran
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana sepak bola memiliki jaringan solidaritas yang luar biasa luas.
Sepak bola memiliki bahasa universal. Orang mungkin tidak memahami bahasa Indonesia atau Sunda, tetapi mereka memahami pesan tentang hutan yang terbakar, udara yang tercemar, dan kehidupan manusia yang terancam.
Di sinilah kekuatan sepak bola sebagai instrumen komunikasi publik.
Stadion tidak lagi sekadar menjadi arena pertandingan. Tribun menjadi ruang ekspresi sosial. Suporter menjadi penyampai pesan. Media sosial memperluas gaungnya.
Dan sebuah persoalan lingkungan yang mungkin sebelumnya dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, mendadak menjadi perhatian publik yang lebih luas.
Bukankah ini sesuatu yang patut diapresiasi?
Di tengah stereotip bahwa suporter sepak bola identik dengan keributan, fanatisme berlebihan, dan konflik antarkelompok, mereka justru sedang memberikan pelajaran tentang empati.
Mereka menunjukkan bahwa mencintai klub sepak bola tidak harus membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap persoalan bangsanya.
Pemerintah Jangan Sampai Kalah Cepat dari Suporter
Namun, di balik kebanggaan terhadap solidaritas suporter, ada pertanyaan yang jauh lebih serius.
Bagaimana respons pemerintah?
Ketika suporter sudah mengangkat spanduk, membagikan masker, dan menggerakkan percakapan publik, negara seharusnya hadir dengan tindakan yang jauh lebih nyata.
Karhutla bukan persoalan baru di Indonesia. Setiap kali musim kemarau datang, ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali menghantui berbagai wilayah.
Asap mengganggu kesehatan masyarakat. Aktivitas pendidikan dan ekonomi dapat terganggu. Ekosistem rusak. Satwa kehilangan habitat. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak menanggung akibatnya.
Masalahnya, kita tidak bisa terus-menerus memperlakukan karhutla sebagai bencana musiman yang cukup direspons dengan konferensi pers, kunjungan pejabat, atau pernyataan bahwa situasi sedang ditangani.
Publik membutuhkan transparansi mengenai luas wilayah terdampak, kualitas udara, penanganan korban, penyebab kebakaran, serta perkembangan penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Pemerintah pusat dan daerah harus bergerak cepat, bukan hanya ketika asap sudah viral di media sosial.
Pencegahan harus dilakukan sebelum api membesar. Pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran harus diperkuat. Perusahaan maupun individu yang terbukti melakukan pembakaran secara melawan hukum harus ditindak tanpa pandang bulu.
Jangan sampai masyarakat mendapat kesan bahwa pemerintah lebih sigap merespons kritik di media sosial daripada memadamkan sumber persoalannya.
Api di hutan tidak bisa dipadamkan dengan siaran pers. Asap tidak bisa diusir dengan pencitraan.
Dan paru-paru rakyat tidak bisa dilindungi hanya dengan janji.
Sepak Bola, Suara Rakyat, dan Masa Depan Hutan
Sejarah menunjukkan bahwa sepak bola berkali-kali menjadi medium perjuangan sosial.
Dari kampanye antirasisme, solidaritas bagi korban bencana, hingga tuntutan keadilan dan perdamaian, komunitas sepak bola telah membuktikan bahwa kekuatan mereka melampaui pertandingan selama 90 menit.
Kini, suporter Indonesia sedang menambahkan satu isu penting dalam gerakan tersebut: keselamatan lingkungan.
Tentu saja, spanduk tidak otomatis memadamkan kebakaran. Nyanyian tribun tidak serta-merta mengembalikan hutan yang hilang. Pembagian masker juga tidak menyelesaikan akar persoalan karhutla.
Namun, semua gerakan besar selalu membutuhkan suara yang memulai.
Dan suara itu kini datang dari tribun sepak bola. Juga di media sosial.
Pemerintah semestinya tidak memandangnya sebagai gangguan, apalagi sekadar ekspresi emosional suporter. Justru suara-suara ini harus dibaca sebagai alarm sosial bahwa masyarakat semakin sadar terhadap hak mereka atas lingkungan hidup yang sehat.
Lebih jauh, federasi, operator liga, dan klub-klub sepak bola Indonesia bisa ikut mengambil peran. Kampanye lingkungan, edukasi pencegahan karhutla, penggalangan solidaritas, hingga kolaborasi dengan komunitas pelestari alam dapat menjadi gerakan bersama.
Bayangkan jika setiap stadion di Indonesia menjadi ruang kampanye untuk menjaga lingkungan. Bayangkan jika jutaan penggemar sepak bola ikut menyuarakan pentingnya melindungi hutan.
Dampaknya bisa jauh lebih luas daripada sekadar unggahan viral.
Akhirnya, kita patut mengangkat topi untuk Bobotoh, Jakmania, Bonek, dan seluruh komunitas sepak bola yang menunjukkan kepeduliannya.
Mereka mengingatkan kita bahwa ada pertandingan yang jauh lebih penting daripada perebutan tiga poin di klasemen.
Pertandingan melawan keserakahan. Melawan perusakan lingkungan. Melawan ketidakpedulian.
Dalam pertandingan ini, tidak boleh ada yang sekadar duduk di bangku cadangan. Terutama pemerintah.
Sebab, kalau para suporter sudah berteriak dari tribun, mestinya para pemegang kekuasaan tidak perlu menunggu peluit panjang untuk mulai bertindak.
Langit seharusnya biru. Bukan abu-abu. Apalagi hitam karena keserakahan.
Dan untuk menyelamatkannya, kita membutuhkan lebih dari sekadar sebelas pemain. Kita membutuhkan seluruh bangsa. Tak sebatas retorika.
Ditayangkan di https://www.iddaily.net/jojorahar/ketika-tribun-sepak-bola-berteriak-langit-seharusnya-biru/

