Mengemas Liputan ‘Kereta Langit’ dan ‘Kampung Pluralisme’

Pesan penting mereka dapatkan dari proses liputan ini: Banyak riset dan bergerak cepat siapkan segala sesuatu yang mungkin bakal dibutuhkan. Surat izin peliputan, misalnya.

Jefri Rolando, Umair Rizaludin, Jeremiah Harvest, Natasya Delasari, dan Diana Valencia menyajikan dua topik menarik dalam project Ujian Tengah Semester Produksi Program TV Universitas Multimedia Nusantara.

Mereka mengawali tayangan ‘Pagi Nusantara’ dengan duo Jeremiah dan Diana dari Newsroom UMN. Sayangnya, dibandingkan dengan kelompok lain yang mengambil blocking lokasi serupa, mengapa televisi di newsroom itu tak dinyalakan? Demikian pula meja-meja di lingkar redaksi juga dibiarkan kosong. Seandainya suasananya dibuat ‘hidup’, maka sudah mirip benar dengan kondisi live Liputan 6 SCTV yang mengambil background newsroom di Senayan City.

Paket pengantar live Skytrain dikemas apik, meski memang tanpa wawancara pejabat terkait. No problem. Vox pop yang didapat pun cukup banyak. Empat orang, diambil di bandara, maupun di atas kereta yang sedang berjalan.

Sesi live Natasya pun luar biasa keren. Sebagai reporter pemula, ia tampil percaya diri, ditambah visual pendukung sangat kaya, dan template CG ala ‘Seputar Indonesia’ RCTI. Penambahan grafis sebagai insert menambah nilai jual pada sesi live ini. Catatan ada pada sedikit ‘selip lidah’ saat Natasya mengantarkan grafis peringkat, seharusnya ia menyatakan ‘peringkat bandara terbaik di dunia’, namun disebutnya ‘bandara terbaik di Indonesia’.

Laporan Khas dari Kampung Sawah menunjukkan keseriusan mereka. Diambil malam hari, mereka mengatasi keterbatasan tata cahaya dengan kekuatan konten. Hanya saja, saat mencoba menjelaskan SOT narasumber yang tertelan natural sound, harusnya tak perlu diberi subtitle seperti nonton film di bioskop. Cukup berikan CG yang sesuai dengan ucapannya.

Closing dalam paket ‘and finally’ juga menarik, tentang persahatan anjing dan bebek. Meski pengantarnya agak missed nih. Dalam komik Walt Disney, yang bersahabat dengan Pluto bukanlah Donald Duck, tapi Gufi.

Gerak cepat

Anchor dan reporter Diana Valencia menyatakan happy melakukan peliputan untuk mata kuliah ini. “Cukup menyenangkan dan memberikan banyak pengalaman serta wawasan baru,” ungkapnya. Proses peliputan di tempat-tempat baru seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Kampung Sawah menyadarkannya bahwa riset sebelum melakukan liputan itu penting.

Jeremiah selain sebagai presenter juga ikut meliput ke Bandara Soekarno Hatta sebagai juru kamera. Tak tanggung-tanggung, mereka sampai empat kali bolak-balik seperti seterikaan, dari kampus ke bandara tersibuk di Indonesia itu. “Menurut opini saya, peliputan 1-2 kali sesungguhnya sudah cukup. Kendala yang kami temukan adalah kurangnya persiapan dan koordinasi saat melakukan peliputan, sehingga semua berjalan terburu-buru. Masalah lainnya adalah ketidaksiapan dari segi surat pengantar kampus,” paparnya.

Perjuangan saat meliput juga diungkapkan Jeffri, reporter on-cam dalam PTC (piece to camera) di soft news Kampung Sawah. “Proses pengambilan gambarnya yang berjarak cukup jauh dan dilakukan secara kontinuitas sehingga membuat saya sedikit lelah, khususnya ketika harus ke Bekasi,” kenangnya. Selain itu, kendala lain, Jeffri belum pernah in frame jadi seorang repoter. “Kami sampai membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk mengambil gambar saya sedang reporting,” kisahnya.

Natasya, reporter live saat liputan di Bandara Soekarno-Hatta mengambil banyak pelajaran saat terbentur masalah perizinan. “Dari pengalaman liputan ini, saya mendapat pelajaran penting bahwa lebih baik jika kami gerak lebih cepat dan selalu siap sedia membawa surat izin liputan. Terkadang faktor keberuntungan juga penting untuk mendapat posisi live report terbaik,” ungkapnya.

Adapun ketua kelas Umair menyoroti perannya sebagai cameraperson dan pengisi suara paket. “Sebagai campers, peliputan Skytrain sangat memberikan pengalaman dan ilmu, bagaimana cara pengambilan gambar pada ruang yang sempit, contohnya saat take dalam  gerbong yang sedang jalan,” katanya.

Sementara itu, sebagai pengisi voice over, Umair pun perlu re-take atau rekaman berulang-ulang dan naskah yang berkali-kali direvisi juga karena pemilihan kata yang tidak tepat dan karena banyak kesalahan kata. “Solusinya adalah perbanyak latihan dan pemanasan mulut agar lancar kerika menyebutkan sesuatu,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *