Ciwiks Day: Bandung yang Tidak Mainstream

Tim Produksi TV UMN ini mengeksplorasi Bandung dan Lembang untuk menyuguhkan kisah perjalanan liburan akhir tahun. Apa kelebihan dan kekurangan tayangan mereka?

Pada Ujian Akhir Semester Mata Kuliah TV Production Universitas Multimedia Nusantara 2017/2018, Yenny Oktavia , Devina Yusan, Yuliana, Vivi Hartini, dan Immanuela Harlita memilih nama program ‘Ciwiks Day’ Para perempuan gaul ini memilih ‘girls day out’ mereka dengan jalan-jalan ke Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, untuk mengeksplorasi daerah-daerah wisata yang tak ekstrem.

Pilihan tempatnya menarik juga. Segmen pertama, Yuliana sebagai host mengajak ‘Sahabat Ciwi’ menuju Museum Pendidikan Nasional milik Universitas Pendidikan Nasional di kawasan Setiabudi, Sukasari, Bandung. Sayang, saat berada di ruang audio visual, mereka hanya sendiri, tak ada pengunjung lain yang ada di sana. Mungkin karena museum itu memang sepi pengunjung, atau kurang riset?

Nana bersemangat menceritakan bahwa untuk masuk ke museum UPI itu cukup dengan membayar lima ribu perak. Sayang, ia tak menunjukkan bukti tiket, yang sangat menarik kalau di-shoot sebagai ‘gimmick’.

Dua kelemahan ini –sepi pengunjung dan tiket- mereka perbaiki dalam tayangan segmen dua di ‘Taman Kota Mini’ Lembang. Gambar-gambar anak belajar jadi petugas pemadam kebakaran dan main kuda-kudaan memperkaya tayangan.

Kritik lain, masih klasik, Chargen alias ‘character generator’ seharusnya bisa muncul lebih sering. Apalagi di tempat wisata yang menyajikan banyak spot/permainan berbeda-beda.

Selain sisi kurang, apresiasi pada kreativitas mereka ditujukan saat mencoba mengambil variasi gambar. Misalnya saat Nana berpose di lokasi spot ‘lobang foto’ dan memilih mengenakan busana/wardrobe berbeda. Keren!

Di segmen satu ini, secara konten, isi cerita yang akan disampaikan presenter sebenarnya sangat menarik, untuk menceritakan ada apa saja sih di dalam museum itu. Namun, konten menarik itu serasa kurang bunyi karena setelah menonton tayangan, tak cukup bisa mengajak pemirsa untuk datang ke museum itu. Padahal, salah satu tujuan sebuah tayangan televisi dibuat yakni agar pemirsa tertarik pergi ke tempat yang ditampilkan. Misalnya, saat ada shot yang sangat singkat –hanya dua shot- menjelaskan ada miniatur mobil listrik, tapi Nana tidak menjelaskan lebih jauh terkait mobil itu.

Dari segi teknis, secara visual pengambilan establish shot museum kurang wide, namun pengambilan gedung sudah baik tinggal pakai tripod yang bagus aja biar tidak shacking. Selain itu, transisi antar visual kurang, tidak ada intercut yang menarik, dan ada beberapa shot yang tidak fokus, seharusnya bisa diperbaiki lagi. Biasakan mengecek fokus dulu sebelum mulai merekam.

Masukan untuk presenter harus jelas menggunakan asesoris seperti tas. Harus ada maksud dan tujuannya. Karena kalau dari sisi visual, hal itu bisa menggangu. Berbeda mungkin kalau ia membawa kamera, sekaligus bisa membuat ‘gimmick’ dengan kamera yang dibawa bisa lebih menarik, daripada memakai tas.

Segmen pertama, seharusnya bisa lebih fokus kepada hal yang paling menarik di dalam museum pendidikan itu sehingga usai menyaksikan tayangan, pemirsa memiliki keinginan datang ke sana.

Segmen kedua di Kota Mini Lembang, pertama muncul, yang pertama dilihat adalah Nana dengan tas kuning dan celana robeknya. Tentu ini sangat menggangu karena dalam dunia tv penggunaaan asesoris harus ada maksud dan tujuannya. Hindari pakaian tak proper, seperti memakai celana robek, karena karya kita ditonton oleh orang lain. Meski maksudnya mungkin agar terlihat gaul.

Secara konsep, konten segmen dua menarik sekali ke lokasi, bisa menjual imajinasi sehinnga orang yang menonton ingin datang ke tempat ini. Namun, penyajian di sini terlalu banyak yang dibahas sehingga tidak fokus. Seharusnya, pilih saja dua atau tiga tempat yang dibahas sehinga lebih padat dan fokus.

Masukan lain di Lembang, audio sangat kurang  untuk taping di lokasi outdoor dan tidak memakai tripod. Selain itu, terlalu banyak gambar reporter yang dari belakang, sedangkan untuk detail hampir tidak ada.

Ada beberapa hal menarik di lokasi taman mini ini, misalnya ada ‘gimmick’ berfoto bareng dengan pengunjung. Seharusnya dalam editing, bagian ini diperbanyak, boleh sampai lima foto, misalnya.

Segmen ketiga, di pusat kuliner lereng Gunung Anteng. Pertama muncul videonya sudah menarik dan bagus dengan mewawancarai pengunjung, namun pertanyaannya terlalu kaku. Next, kalau mau membuat adegan seperti itu lebih baik narasumbernya di persiapkan dulu, dengan diberi tahu pertanyaannya.

Secara visual, kekurangannta tampak karena selain tidak memakai tripod, kebanyakan gambar reporter yang dari belakang. Kalau memang tekadnya mau seperti moving shoot atau travel shot, minimal membawa monopod agar gambar stabil.

Pemberian grafis soal jam buka hingga harga makanan sangat baik karena menambah informasi kepada penonton. Untuk detail makanan juga bagus, hanya sebaiknya shot makanan diperbanuak.

Sebagai penutup, menggunakan vlog menujukkan kekinian, kids jaman now banget, sekaligus untuk memperkenalkan kru yang lain.

Membuat bagian ‘behind the scene’ juga upaya kreatif sebagai penutup tayangan, meski sebenarnya bisa dibuat lebih banyak lagi.

Kisah di balik layar

Yenny Oktavia, cameraperson dan penulis naskah memaparkan, mereka merasa memiliki perjuangan yang cukup sulit dalam pengerjaan karya ini. “Kami memilih tema travelling, dan butuh waktu yang cukup lama liputan di bandung yakni empat hari tiga malam,” ungkapnya. Berbagai kendala dihadapi, terutama saat spot yang direncanakan ternyata tak sesuai harapan. Begitu pun saat berhadapan dengan masalah teknis editing dan penyimpanan gambar.

Kesan pada saat mengerjakan tugas produksi tv untuk UAS menurutnya sangat menyenangkan dan penuh perjuangan. Yenny mendapatkan banyak pengalaman baru dan pelajaran baru. Walaupun mengalami banyak hambatan pada saat liputan, di sini juga kami mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. “Pesannya adalah kami harus lebih teliti lagi pada saat mengecek data hasil liputan, setiap selesai liputandan saat memindahkan data harus bener- bener di cross check,” simpulnya.

Campers lainnya, Devina Yusan,  juga bercerita tentang ‘riak-riak peliputan’ misalnya perselisihan dalam tim. “Kami harus berjuang keras untuk mengatasi energi negatif dalam tim,” paparnya. Ia pun mendapatkan banyak pengalaman baru dengan adanya teman-teman yang seperti itu, serta merasakan bahwa rasa kasel sudah untuk dikontrol jika emang sudah keterlaluan.

Ia berprinsip, dengan adanya kerjasama dan dukungan satu sama lain di dalam kelompok dan buang ego masing-masing, pasti semua berjalan dengan lancar.

Sang host program, Yuliana, menuturkan, mereka memilih Bandung, namun dengan spot yang selama ini jarang dikunjungi publik, seperti Ranca Upas, Stone Garden, China Town (Kota Cina tersembunyi di Bandung), Museum Nasional UPI, Taman Kota Mini, Lembang, dan Lereng Gunung Anteng.

Terjebak macet dalam perjalanan pulang 14 jam dari Bandung ke Gading Serpong pun memberinya pengalaman berkesan. “Dari sini saya bisa belajar dari karakter teman saya sekelompok yang berbeda-beda, dan belajar mengerti mereka,” jelasnya.

Vivi sebagai editor, dan penulis naskah mengungkapkan, mereka sempat terpikir pergi ke Kalimantan Barat. Namun karena terlalu jauh, maka pilihan pun jatuh ke Bandung. “Lalu, kami mulai brainstorming bersama-sama untuk mencari pembahasan tiap segmennya. Segmen pertama tentang pendidikan, segmen kedua tentang informasi wisata, dan segmen ketiga tentang kuliner,” jelasnya. Mereka pun lalu mulai menentukan tempat-tempat yang ada di Bandung.

Sebagai koordinator editor, Vivi mengambil pelajaran, agar setiap selesai melakukan take video, langsung dipreview terlebih dahulu. Selain itu, peliputan harus dilakukan dengan persiapan yang matang, termasuk surat-surat dan dokumen resmi. “Jangan pernah memikirkan ego masing-masing, tapi menyelesaikan apapun itu harus dengan kepala dingin,” katanya bijak.

Juru kamera Nela Josephine menceritakan, perjalanan yang ditempuh selama hampir enam jam lamanya terbayar sudah dengan pemandangan indah nan elok bersama sejuknya cuaca yang ada di sana.

Shooting pun dapat berjalan dengan baik walau sempat terkendala dengan terdapatnya pengunjung-pengunjung lain yang seringkali menghalangi host saat sedang take. “Kami pun harus mengulang kembali engambilan gambar agar terlihat bagus dan pas sesuai dengan komposisi yang ada,” tuturnya.

Problem kekompakan tim memang ada. “Kami sempat saling menyalahkan satu dengan yang lain. Namun, kendala-kendala ini dapat kelompok kami langsung atasi,” kenangnya terkait masalah stok gambar yang hilang. Mereka mencari jalan keluar yaitu dengan melakukan proses liputan ulang dari awal hingga akhir.

“Kami pun juga mengubah rundown serta destinasi-destinasi tempat liputan yang kami hendak tuju. Kami mengubah segala konsep yang sudah dibuat dengan menjalankan plan B agar perjalanan kami ke Bandung selama 4 hari 3 malam tidaklah sia-sia,” bebernya.

Setelah diselidiki, ternyata terdapat kesalahan pengaturan di salah satu kamera yang digunakan untuk mengambil gambar master, yaitu gambar utama kami sehingga mau tidak mau mereka harus mengulang liputan kembali dari awal.

Secara keseluruhan, Nela sangat senang dan mendapat begitu banyak pengalaman baru di dunia jurnalistik.

“Pelajaran yang saya dapatkan adalah jangan cepat puas akan hasil yang sudah didapat, teliti dalam memback-up data, dan selalu miliki beberapa option planning pada saat meliput di daerah yang lumayan jauh dari tempat kita tinggal,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *