Kebingungan di Surajaya, Menyoal Ketegasan Sang ‘Wakil Tuhan’ di Lapangan

Nabi Sulaiman alias Raja Salomo seharusnya hadir di Stadion Surajaya, Lamongan, pada Senin malam, 29 Juli 2019.

Laga lanjutan Liga 1 mempertemukan tim ‘Laskar Jaka Tingkir’ Persela Lamongan melawan tamunya, si ‘Pesut Etam’ Borneo FC. Masuk injury time. Tuan rumah unggul 2-1. Comeback setelah sempat tertinggal 0-1 dari gol Renan da Silva di menit ke-19.

Babak kedua berjalan separuh pertandingan, kira-kira di menit ke-70, tim asuhan Nil Maizar membalik keadaan. Alex dos Santos Goncalves membayar kecewanya membuang peluang di babak perdana. Dua gol diborongnya lewat penalti serta satu lagi via open play. Gawang Nadeo Argawinata dua kali bobol dan kiper pun diganti oleh eks penjaga gawang Persebaya Alfonsius Kelvan.

Masuk menit-menit akhir babak kedua itulah, keributan terjadi. Kiper Persela Dwi Kuswanto mengamankan bola dari duel udara.  Bola ditangkap tanpa pelanggaran, namun ia kemudian tampaknya kesal pada Wahyudi Setiawan Hamisi, gelandang Borneo FC.  Bisa jadi karena kesal merasa diganggu saat perebutan bola di udara, Dwi mencari Wahyudi dan menanduk kepalanya. Wahyudi terguling jatuh.

Di sinilah petaka terjadi. Wasit Wawan Rapiko mengeluarkan kartu merah bagi Dwi Kuswanto. Fair, karena ia melakukan pelanggaran konyol, yang sesungguhnya sangat tak periu. Membenturkan jidatnya ke jidat lawan sama sekali bukan tindakan terpuji. Apalagi untuk pertandingan resmi yang disiarkan live televisi dan banyak ditonton anak-anak. Untuk adilnya, Wahyudi pun diminta pula pergi dari arena.

Yang menarik, Wawan tak hanya mengusir kedua pemain itu, tapi juga menunjuk titik putih sebagai hukuman untuk Persela. Hukuman penalti di menit akhir, poin penuh Persela di kandang pun terbayang akan sirna.

Hukuman penalti tanpa insiden perebutan bola alias ‘off the ball’ membuat pelatih, pemain, dan pendukung Persela meradang. Nil Maizar, sang pelatih baru pujaan LA Mania datang mengintimidasi wasit asal Pekanbaru itu. Suaranya dari sisi Stadion Surajaya, Lamongan, terdengar keras sampai televisi yang saya tonton di Menteng, Jakarta Pusat.

“Di mana pasalnya, di mana aturannya, ada pemain menanduk lawan lalu kena penalti?” begitu kira-kira teriakan pria yang dua kali bertarung sebagai calon legislator DPR Partai Nasdem dari daerah pemilihan Sumatera Barat itu.

Charis Yulianto, asisten pelatih Borneo FC yang mantan pemain Persela pun ikut memanaskan suasana. “Ini urusan wasit sama pemain, bukan sama pelatih,” kata mantan bek tengah timnas itu.

Maka, pertandingan terhenti cukup panjang. Sampai akhirnya keputusan penalti diterima. Persela memasukkan kiper cadangan Dian Agus hanya untuk mencoba menahan tendangan penalti pemain Borneo. Dan Dian, sang kiper senior itu, gagal. Lerby Eliandry melesakkan bola di menit 90 + 27 untuk menyamakan skor jadi 2-2.

Akhirnya, Wawan benar-benar meniup peluit panjang di menit ke-122. Tak hanya pertandingan terlama di Liga 1, tapi bahkan mengalahkan laga terlama Premier League atau Liga Inggris. Asal tahu saja, rekor pertandingan terlama Liga Inggris dipegang Arsenal vs West Ham United di musim 2012-2013, yakni 102 menit 58 detik.

Mayoritas pencinta sepakbola setuju. Kekonyolan dan kedunguan kiper Dwi Kuswanto layak dikartu merah. Tapi tidak dengan hukuman penalti. Saat Wawan berniat menunjuk penalti itulah ia berada pada kebimbangan kelas berat. Mau tetap menghukum penalti tuan rumah, bakal terus diprotes seluruh tim dan penonton di Surajaya. Tapi, mau membatalkan penalti, pasti pemain Borneo yang akan marah-marah padanya. Di sinilah, perlu kebijakan sekelas Sulaiman saat menghadapi dua perempuan berebut satu bayi yang hidup, sementara bayi lain telah meninggal.

Di sisi lain, jika merujuk dari ‘rules of the game’ internasional, keputusan wasit Wawan dapat dibenarkan. Ada aturannya jika terjadi ‘violent conduct’. Setidaknya berkaca dari aturan FA alias ‘PSSI’-nya Inggris, salah satu federasi sepakbola tertua di dunia.

“In addition, a player who, when not challenging for the ball, deliberately strikes an opponent or any other person on the head or face with the hand or arm, is guilty of violent conduct unless the force used was negligible.”

Dan jelas, hukuman bagi sang pelanggar ada dua opsi: tendangan bebas langsung atau bisa juga hukuman penalti.

Yurisprudensinya pun ada. Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, 31 Juli 2018.
Saat itu Timnas U-16 asuhan Fachri Husaini mengalahkan Myanmar 2-1. Satu-satunya gol tim tamu diciptakan lewat penalti Zaw Win Thein di menit ke-72. Penalti ini diberikan karena kiper Ernando Ari Sutaryadi dianggap melanggar pemain Myanmar Thaw Zin Htet meski sebenarnya Thaw lah yang menghalang-halangi. Tapi wasit Amdillah Zainuddin dari Brunei menilai Ernando sengaja menjatuhkan pemain lawan yang kemudian diprotes keras kubu Indonesia.


Di Surajaya, Wawan kukuh menghukum penalti Persela. Tapi, ia tampak kurang firm menjaga wibawa idiom ‘keputusan wasit adalah mutlak’. Tampak bimbang saat didorong-dorong, dan bahkan dikepung ofisial Persela dan Borneo di sisi lapangan. Usai pertandingan, para pemain Persela mengejar-ngejarnya, dan para penyusup pun ikut turun ke lapangan untuk meluapkan amarahnya. Di media sosial kemudian bertebaran meme untuk meledek Wawan yang begitu culun dibentak-bentak oleh Nil Maizar. Kata ledekan itu, yang begini ini tidak akan terjadi pada Pierluigi Collina, wasit legendaris Italia yang bahkan berani menanduk balik orang yang menekannya.

Terbatasnya jumlah wasit di Liga 1 dengan jumlah pertandingan amat padat tentu tak bisa jadi alasan. Kita ketahui, jumlah wasit yang bertugas di Liga 1 kali ini hanya 32 orang (14 wasit tengah dan 18 asisten wasit). Sementara pertandingan terus berjalan ngebut, akibat laga tunda beberapa saat lalu, demi tenggat kelar kompetisi di akhir tahun.

Maka, rasa sedih atas kisah sepakbola kita pun kembali terjadi, setelah sehari sebelumnya laga final kedua Piala Indonesia urung digelar di Stadion Andi Mattalata, Matoangin, Makassar.

Semoga kasus Wawan Rapiko ini jadi pelajaran berharga. Khususnya wasit lebih memperdalam pengetahuan tentang ‘rules of the game’, menjaga wibawa diri, serta tak lupa manajemen pertandingan yang lebih tegas. Jangan sampai alasan kecapekan akibat padatnya jadwal atau masalah kurangnya jaminan keamanan menyebabkan kualitas pertandingan jadi berkuang.

Jika hal-hal seperti ini tidak diperbaiki, kita bukan hanya memerlukan tayangan VAR (video assistant referee) yang diputar seribu kali, tapi bisa jadi, benar-benar membutuhkan kehadiran Nabi Sulaiman alias Raja Salomo untuk menggantikan peran pengadil di lapangan.

Oleh: Agustinus ‘Jojo’ Raharjo, penggemar sepakbola. Sehari-hari menjadi Tenaga Ahli Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden dan pengurus Badan Olahraga Profesional Indonesia. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *