Jalan-Jalan ke Tarakan, Jangan Lupa ke Konservasi Bekantan

Dalam muhibah singkat kami ke Tarakan, kota paling padat di Kalimantan Utara, bersyukur sempat singgah ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan di pusat kota berpopulasi sekitar 300 ribu jiwa itu.

Kawasan konservasi seluas 22 hektar ini menjanjikan kesejukan di tengah panasnya kota. Kayu ulin menghampar sebagai jembatan mengunjungi sahabat-sahabat kita, nasalis larvatus, alias monyet hidung panjang yang menjadi ikon pariwisata Kota Tarakan.

Pengembangan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan merupakan inisatif dari Walikota Tarakan saat itu, Yusuf Serang Kasim, diresmikan pada 5 Juni 2003. Selain berfungsi sebagai paru-paru kota Tarakan, mangrove juga sebagai benteng hijau untuk melindungi kota dari abrasi.

“Terkait bekantan, awalnya hanya ada empat ekor, kini lebih dari 40 ekor,” kata Syamsul Arief, petugas kawasan konservasi.

“Sesekali terlihat spesies khusus, ekor panjang. Tapi hati-hati kalau melihat mereka makan, jangan didekati, nanti kabur. Bekantan ini pemalu,” urainya.

Dijelaskan, makanan utama bekantan berupa pucuk daun mangrove atau pucuk bakau yang memang tumbuh subur di kawasan ini. Tapi, setiap pukul 9 pagi dan 3 sore, petugas menghidangkan makanan tambahan berupa pisang kapok di area tertentu. Bisa dipastikan, pada jam-jam itu, para bekantan mendatangi ‘meja makan’ mereka.

Kerajaan Bekantan di kawasan konservasi ini dipimpin oleh dua pejantan bekantan besar, bernama ‘John’ dan ‘Michel’. Merekalah penguasa istana konservasi ini.

Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa, dan hutan pantai di Pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak, dan Brunei). Bekantan menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 ekor.

Tiket mengunjungi Konservasi Bekantan hanya Rp 5 ribu untuk dewasa dan bisa menarik lebih dari 200 wisatawan di akhir pekan.

“Kami berharap ke depan perawatan di sini lebih terjaga. Akses jalan, jembatan dan taman bacaan bisa lebih diperhatikan lagi,” kata Syamsul Aris.

Jadi, jika berkunjung ke Tarakan, jangan lupa mampir ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan di Jalan Gajah Mada. Di pusat kota nan terik, ada oase untuk kita menghirup udara segar dan bertemu fauna nan langka!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *