New Normal di Masa Pandemi: Selamat Menempuh Kebiasaan Baru

“Dan, perlu saya ingatkan, jangan sampai terjadi gelombang kedua, the second wave. Oleh sebab itu, kita harus beradaptasi dengan Covid.”

Pernyataan tegas Presiden Jokowi itu menjadi pengantar live talk show ‘Rosi’ di Kompas TV bertema ‘Selamat Menempuh Kebiasaan Baru’, Kamis, 18 Juni 2020.

Ucapan selamat menempuh hidup baru, biasa disampaikan kepada pasangan pengantin baru.

Tapi kali ini, ucapan selamat menempuh hidup baru cocok diganti selamat menempuh kebiasaan baru. Bukan untuk pengantin, tetapi untuk kita semua.

Bulan Mei lalu, Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge menyatakan kompleksitas masalah dan ketidakpastian ada di depan mata seluruh warga bumi karena tidak ada jalur cepat untuk kembali normal.

Artinya kita memasuki periode di mana kita perlu menyesuaikan langkah dengan cepat. Dunia terus bergerak untuk menghentikan pandemi, tetapi di sisi lain dunia juga bersiap untuk kebiasaan baru.

Melalui kebiasaan baru, diharapkan kondisi perekonomian dan sosial masyarakat dapat kembali pulih. Seperti apa kebiasaan baru yang harus dipatuhi masyarakat?

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, yang menjadi narasumber utama ‘Rosi’ menjelaskan, kebiasaan baru sebenarnya melakukan hal-hal yang sebenarnya dari tidak biasa jadi biasa. Dulu orang tidak pakai masker, sekarang harus pakai masker. Semua harus diatur dengan protokol kesehatan. Sebelum vaksin penyembuh Corona ditemukan, kita harus berdamai dengan Covid.

“Ibarat kita berdamai dengan dingin lalu kita memakai jaket, demikian pula berdamai dengan Covid ya kita memakai masker,” kata Moeldoko.

Panglima TNI 2013-2015 ini menekankan, sepanjang masyarakat Indonesia memiliki kesadaran dalam kebiasaan baru berdampingan dengan Covid-19, bangsa kita tetap memiliki optimisme tinggi untuk bisa kembali bangkit.

“Tak perlu cemas secara berlebihan. Yang penting kita memiliki kewaspadaan hidup dalam lingkungan tak normal, dalam ketidakpastian seperti saat ini,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Wiku Adisasmito menerangkan, sebanyak 136 kabupaten kota yang termasuk zona kuning atau wilayah penyebaran Corona resiko rendah, diminta bersiap untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Meski diizinkan untuk beraktivitas, masyarakat tetap diminta waspada dan patuh pada protokol kesehatan.

“Beberapa minggu terakhir ini, daerah-daerah dengan risiko sedang berubah jadi ringan. Artinya perkembangannya positif. Tentu semua ini tergantung kemampuan daerah mengendalikan kasus di tempatnya masing-masing,” katanya.

Wiku menekankan arahan Presiden Jokowi bahwa prinsipnya masyarakat harus tetap produktif, tapi juga tidak terpapar oleh Covid.

“Mengapa dua-duanya harus berjalan? Karena kehidupan itu harus terus berjalan, baik secara ekonomi maupun kesehatan, karena Covid itu tidak akan pernah hilang,” urainya.

Dialog live ini juga ‘menghadirkan’ M. Sandi, pedagang grosir di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Sandi mengaku, kondisinya sudah jauh lebih baik bila dibandingkan tiga bulan lalu, kala kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kali pertama diberlakukan.

“Sekarang tiap kios bukanya selang-seling, yang jaraknya berurutan atau sebelah-sebelahan tidak boleh buka bersamaan dalam satu hari,” ungkapnya.

Bahwa Indonesia kini siap menjalani kebiasaan baru juga disampaikan Bupati Tegal Umi Azizah dan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

“Selagi vaksin virus Corona belum ditemukan, maka hidup berdamai dengan Covid-19 adalah pilihan bijak. Bagaimana agar masyarakat tetap produktif tapi tetap aman, kata kuncinya adalah kedisiplinan masyarakat,” kata Umi.

Bupati Tegal kemudian memaparkan berbagai hikmah dari pandemi Covid ini, misalnya ASN bekerja melayani publik secara online, uji KIR melalui Smart Card, serta juga para pedagang yang banyak menjajakan produknya secara daring.

“Tampak sekali bahwa anak-anak muda yang menguasai Teknologi Informasi lebih bisa menjalankan aktivitasnya pada kondisi seperti ini,” pungkasnya.

Adapun Irwan Prayitno menggarisbawahi tiga pesan penting Presiden Jokowi dalam penanganan Covid yakni: testing, tracing dan isolasi. Ditambah satu poin dari Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo, yakni treatment.

Untuk testing, Sumbar melakukan testing secara massif. Tak hanya untuk Orang dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tapi juga Orang Tanpa Gejala (OTG), termasuk para wisatawan dites secara gratis.

Demikian pula secara tracing, dilakukan Swab dalam berbagai level, termasuk keluarga pasien. Sementara isolasi dilakukan dengan karantina sehingga banyak yang sembuh. Untuk ‘treatment’ sesuai pesan BNPP, Sumbar membuat RS khusus Covid.

“Kalau keempat hal itu dilakukan dengan baik, Insyaallah kita bisa mengendalikan Covid-19 sesuai harapan pemerintah untuk menjalani kehidupan produktif dan aman di masa New Normal,” jelas Irwan.

Profesor Wiku dari BNPB menyatakan, kita belum tahu kurva di Indonesia sudah mencapai puncak atau belum dan kapan pandemi ini berakhir.

“Semua daerah menahan laju virus ini, dan kalau secara nasional bergerak menahan, ya pasti tertahan. Kita belum tahu kapan akan berakhir, kecuali kita tanya virusnya dan vurusnya menjawab,” kelakar staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

Di akhir sesi, Moeldoko menyatakan, pemerintah telah bekerja total menangani Covid-19, termasuk menambah anggaran sektor kesehatan, sosial, insentif ekonomi dan juga sektor keuangan seperti pembiayaan sektor UMKM.

Untuk anggaran kesehatan ditambah jadi Rp 87,55 triliun. Anggaran perlindungan sosial jadi Rp 203,9 triliun. Atas menurunnya kinerja ekonomi, pemerintah juga mengeluarkan anggaran insentif Rp 226,7 triliun. Untuk pembiayaan UMKM dan korporasi Rp 168 triliun.

“Jadi, jangan beranggapan pemerintah seolah-olah tidak berbuat sesuatu. Itu sangat tidak benar. Pemerintah bekerja keras sangat total. Mari kita melakukan kebiasaan baru menyesuaikan diri dengan perubahan. Hidup harus terus berjalan,” kata Moeldoko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *