Disruption: Mari Hadapi Guncangan Model Bisnis Baru

Resensi buku terbaru Rhenald Kasali. Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 2 Juli 2017.

Kita hidup dalam dunia yang sudah berubah jauh. Sudah amat berbeda bergerak maju, setidaknya dibandingkan era di mana kebanyakan dari generasi kelas menengah kita (yang saat ini berusia 40-50an tahun) masih ada di usia sekolah. Zaman di mana mesin ketik berbunyi ‘ting…!’ jelang kertas berakhir. Era di mana pengiriman berita dilakukan dengan faksimili, pos, atau telpon di wartel. Atau masa di mana telepon rumah masih menjadi barang mewah, yang membutuhkan waktu antrean berbulan hingga tahunan hingga pihak Telkom mengabulkannya.

Continue reading “Disruption: Mari Hadapi Guncangan Model Bisnis Baru”

Resensi Koran Tempo Minggu: Imagined Persebaya

Imagined Persebaya: Bukan Sekadar Sejarah Sepak Bola

Persebaya yang dilahirkan 18 Juni 1927 boleh saja (sementara) tiarap, tapi buku ini membuktikan kebesaran perjalanan klub kebanggaan Arek Suroboyo yang fanatisme ‘pemiliknya’ bahkan melebihi hooligan Inggris.  
ktm1Dimuat di Koran Tempo, Minggu 2 Agustus 2015
Penulis                        : Oryza Ardyansyah 
Penerbit                     :  Buku Litera, Yogyakarta
Cetakan Pertama    :  2015, xviii+322 halaman
ISBN                            :  978-6027-636-85-9
 
Legalitas Persebaya, klub kebanggaan Surabaya, menjadi salah satu penyebab konflik antara pemerintah –dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga- dengan PSSI, yang berujung pada sanksi FIFA melarang Indonesia dalam pentas sepakbola internasional. Munculnya ‘duplikasi’ Persebaya, antara yang kini berusia 88 tahun serta tim balita, menimbulkan kemarahan bonek, yang kemudian mengganggu Kongres PSSI di Surabaya bulan lalu, demi upaya menghidupkan kembali roh Persebaya Surabaya.  

Continue reading “Resensi Koran Tempo Minggu: Imagined Persebaya”

Figur Fergie, Kepemimpinan Sang Legenda

Tak bisa disangkal, Alex Ferguson merupakan sosok yang paling mewarnai Liga Inggris. Banyak pelajaran bisa diambil dari gaya kepemimpinannya.

Buku kisah sukses Fergie. Pelajaran manajemen kepemimpinan.
Buku kisah sukses Fergie. Pelajaran manajemen kepemimpinan.

Mereka yang cukup mengenal saya pasti paham, betapa saya berada di garis depan para pendukung Liverpool. Dan mereka yang mengenal seluk-beluk sepakbola pun pasti mahfum, Liverpool dan Manchester United, dua klub dari kota bertetangga, merupakan dua kutub amat berseberangan. Rival berat, musuh bebuyutan. Tapi, demi belajar soal leadership and communication style, tak ada salahnya membahas figur Sir Alex Ferguson, ikon MU alias tim ‘Setan Merah’.

Buku terbitan Kanisius ini punya tebal 156 halaman, cukup tipis untuk merangkum karakter Fergie sebagai legenda yang memimpin MU selama 26 tahun dalam 1.500 pertandingan dan mencetak 2.769 gol demi terciptanya branding kepercayaan publik akan merk MU. Deretan gelar yang dimilikinya menunjukkan parameter kuantitatif keberhasilannya: satu gelar juara dunia antar klub, dua Liga Champions, 1 Piala Winners, 13 Liga Primer, 5 Piala FA, 4 Piala Liga, 10 Community Shiled, dan 1 Piala Super Eropa.

Continue reading “Figur Fergie, Kepemimpinan Sang Legenda”

Syair-syair dari Padang Sabana

Tayang di Koran Tempo Minggu, 7 Juni 2015

resensiKTJudul Buku           : Antologi Puisi

“Gemerisik Ilalang Padang Sabana”

Penulis                  : Agust Dapa Loka

Kata Pengantar    : Dr. Anies Baswedan

Editor                            : Emanuel Dapa Loka

Tebal                    : XXI+96 Halaman

Penerbit                : Altheras Publishing, Jakarta, 2015

Ada yang unik dari penerbit buku ini. Dalam pengantar penerbit tersua judul Selamat Datang Kembali, Puisi. Pertanyaannya, ke manakah gerangan genre susastra bernama puisi itu? Rupanya, penerbit menyadari bahwa setidaknya, dalam sepuluh tahun terakhir ini, sudah sangat jarang penerbit, terutama penerbit besar menerbitkan buku puisi.

Continue reading “Syair-syair dari Padang Sabana”

Gaza, Perlawanan dan Kehormatan: Faisal dan Bukunya yang Bercerita

Ini buku ketiga, tapi inilah masterpiece seorang Faisal Assegaf, yang kini mempopulerkan istilah ‘Hamaslovers’ di Indonesia.

Gaza, buku ketiga Faisal Assegaf. Enak dibaca dan bercerita.
Gaza, buku ketiga Faisal Assegaf. Enak dibaca dan bercerita.

Saya mengenal Faisal Assegaf sebagai seorang kawan seperguruan di Tempo, sebuah institusi terhormat di ranah jurnalisme Indonesia. Dia kerap mengaku bukanlah murid yang baik di ‘sekolah’ itu. Jarang datang rapat, dan tingkahnya seenak sendiri. Tapi, soal proses dan hasil kadang tidak mesti seiring dan sebangun. Di balik kebengalannya itu, Faisal membelalakkan mata para penggede saat wawancara eksklusifnya muncul di koran keesokan hari. Ia bukanlah seorang yang banyak omong, tapi dari bicaranya yang sedikit itu, orang haruslah percaya. “Ramos Horta kalau ke Jakarta selalu telpon gue, Jo,” itu salah satunya. Tak ada nada sombong di sana.

Dan, untuk menunjukkan kehebatannya, bacalah halaman-halaman belakang buku ‘Gaza, Simbol Perlawanan dan Kehormatan’. Mengapa halaman belakang? Karena di halaman 172-174 itulah tertera daftar bagaimana Faisal mewawancarai narasumbernya, baik saat bersua maupun melalui sambungan telepon.

Continue reading “Gaza, Perlawanan dan Kehormatan: Faisal dan Bukunya yang Bercerita”

Benci dan Rindu Sepak Bola Indonesia

Ini sebuah buku, tepatnya kumpulan tulisan, dari seorang yang sepuluh tahun berada di panggung belakang sepak bola Indonesia. Tulisannya ‘renyah’, ‘gurih’, dan ‘basah’.

Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut. Wujud Benci tapi Rindu pada Sepak Bola Indonesia.
Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut. Wujud Benci tapi Rindu pada Sepak Bola Indonesia.

Secara personal, saya tak kenal dengan Miftakhul F.S alias Fim, pria asal Mantup, Lamongan, yang tahun ini genap sepuluh tahun mengabdi sebagai wartawan olahraga di Jawa Pos. Fim hadir di Surabaya, saat saya memutuskan meninggalkan kota itu menuju Jakarta. Sepertinya, kami pernah sekali bertemu dalam jarak cukup dekat, saat berada di ruangan Komisi Disiplin PSSI, mendengarkan keputusan yang digedok Hinca Panjaitan.

Kala itu, saya masih berkarya sebagai jurnalis Radio CVC Australia di Jakarta, status yang membuat saya –tanpa disadari- juga ada di even-even sepakbola besar di mana Fim juga berada, antara lain pagelaran Putaran Final Piala Asia 2007 dan Final AFF 2008 di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan.

Continue reading “Benci dan Rindu Sepak Bola Indonesia”

Get Lost: Tersesatlah Menuruti Kata Hati

Sebuah mini novel yang memiliki multiguna: filosofi kehidupan, romansa, dan panduan destinasi perjalanan beserta kebudayaan lokalnya.

Get Lost. Kisah seorang lajang dalam perjalanan dan pencarian.
Get Lost. Kisah seorang lajang dalam perjalanan dan pencarian.

Diterbitkan 2013 oleh Bhuana Sastra BIP, fiksi karya Dini Novita Sari ini mengangkat kisah Lana, lajang, pekerja keras di ibukota, dan penyuka perjalanan yang mencari di mana hatinya tertambat.

Sesuai dengan niatnya membuat novel berbasis journey, bab-babnya terbagi menurut lokasi perjalanan. Diawali dari Bali, sebagai oase pelepas kepenatan dari pekerjaan di Jakarta. Di sini tip bepergian murah ditampilkan dengan sederhana: memesan tiket jauh-jauh hari, dijemput kenalan dari dunia maya yang belum pernah bersua sebelumnya, hingga memilih akomodasi dan tujuan wisata yang tak biasa.

Continue reading “Get Lost: Tersesatlah Menuruti Kata Hati”

Pelajaran Bahasa dari #kelaSelasa

Buku rangkuman evaluasi nan berisi yang menjadi tradisi Tempo sebagai sebuah institusi bergengsi. Maunya menjadi pedoman jurnalistik dengan gaya nge-pop. Sayang kalau terjebak menjadi buku pelajaran bahasa.

Buku kelaSelasa. Referensi baru dunia penulisan. (Foto: Twitter #kelaSelasa)
Buku kelaSelasa. Referensi baru dunia penulisan. (Foto: Twitter #kelaSelasa)

Sebagai sebuah media yang berusia hampir setengah abad, Tempo menjadi patokan publik karena banyak hal. Akurasi beritanya, eksklusivitas isu, pendalaman topik, narasumber kelas utama, jurnalis pantang menyerah, hingga soal gaya bahasa yang berbeda. Aneka kelebihan Tempo itulah, termasuk mengkritisi bahasa kekinian di sekitarnya, menjadi ‘daging’ utama buku rangkuman Bagja Hidayat, salah seorang jurnalis senior Tempo, dari kelas Amarzan Loebis, jurnalis lain yang berlipat kali lebih senior, setiap hari –umumnya- Selasa.

Bagja menulis poin-poin penting ucapan Amarzan tidak dalam coretan kertas yang mudah hilang dan kerap tulisannya susah dibaca oleh si penulis sendiri. Alumnus Fakultas Kehutanan IPB ini memilih mencuitkan setiap ada pernyataan menarik dari sang mentor ke ranah twitter. Untuk mempermudah ‘memanggilnya’ kembali, ia memberi kode atau tagar #kelaSelasa. Dari cuitan-cuitan yang dikumpulkannya, pemilik akun @hidayatbagdja kemudian mengelompokkan dalam berbagai kluster penulisan seperti angle, reportase, wawancara, outline, lead, teknik membuat kalimat, bahasa, kutipan, judul, dan penyuntingan.

Continue reading “Pelajaran Bahasa dari #kelaSelasa”

Man Shabara Zhafira, Perjuangan Berbekal Kesabaran

Saya tergolong telat membaca buku kedua dari seri triloginya Ahmad Fuadi. Tapi, tetap saja menghadirkan inspirasi luar biasa.

Dua mantra yang menjadi intisari Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Menara memberi makna kuat bagi perjalanan setiap orang yang mendamba kesuksesan dan berangkat dari titik nol penderitaan. Setelah ‘man jadda wajada’ –siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh akan berhasil- menjadi kekuatan di novel pertama, kemudian muncul ‘mantra’ kedua: man shabara zhafira, siapa yang sabar akan beruntung.

Continue reading “Man Shabara Zhafira, Perjuangan Berbekal Kesabaran”

Karena Bekerja Bukan Sekadar Mencari Makan

Lewat buku #Passion2Performance, Rene Suhardono membuktikan betapa passion sangat berpengaruh terhada kinerja karyawan.

Buku terbaru Rene. Passion saja tak cukup.
Buku terbaru Rene. Passion saja tak cukup.

Saya merasa mendapat sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan, bisa hadir dalam peluncuran buku ketiga Rene Suhardono Canoneo, carreer coach yang mengirim email dengan sapaan langsung berisi undangan launching #Passion2Performance.

Di lantai dua sebuah kafe di kawasan Kebayoran Baru, Rene membuka acara persis seperti halaman awal salah satu sisi buku itu. Kata bijak dari Kuntoro Mangkusubroto yang mencuplik pidato 27 tahun silam, saat Kuntoro hadir kali pertama sebagai Dirut PT Batubara Bukit Asam. Continue reading “Karena Bekerja Bukan Sekadar Mencari Makan”