Jangan ke Grobogan kalau tak menikmati swike.
”Utang saya lunas neh kalau mas Jojo sudah makan swike di sini,” kata seorang sahabat di ibu kota Kabupaten Grobogan itu saat akhirnya kami tiba di ’Swike Asli Purwodadi Cik Ping’, kawasan Jalan Kolonel Sugiono.
Hahahaha… padahal saya tak pernah merasa mensyaratkan harus makan swike di kuliner yang jadi julukan kota berjarak dua jam dari Semarang ini. Purwodadi Kota Swike.

Swike atau Swikee merupakan hidangan kaki kodok khas Tionghoa Indonesia. Hidangan ini dapat disajikan dalam bentuk sup, digoreng, atau ditumis. Nama ’Swikee’ berasal dari dialek Hokkian yakni sui (air) dan ke (ayam), yang bisa jadi sebagai eufimisme menyebut katak sebagai ’ayam air’.
Bahan utamanya adalah kaki katak (terutama dari ’kodok hijau’) dengan bumbu bawang putih, jahe, pasta kedelai yang difermentasi (tauco), garam, dan merica. Setelah disajikan, bawang putih goreng dan seledri cincang dapat ditambahkan. Swikee biasanya disajikan dengan nasi putih. Di Indonesia, swike dikenal sebagai kuliner khas Purwodadi, Grobogan, dan Jatiwangi, Majalengka.

Ya, menarik memang menikmati makanan khas sebuah daerah. Tapi, tak terlalu mandatory juga. Di Jogja, mendiang ibu mertua kerap membeli swike di warung tenda tak jauh dari Tugu. Juga saat kami sekeluarga di Semarang, pernah menyantap ‘Swike Untung’ di kawasan Gajah Mada.
Alasan lain, ya karena tidak semua orang menganggap swike halal untuk dimakan. Solidaritas pada kawan lain.

Eh, ternyata, baru tahu. Swike itu tak harus katak, yang identik dengan haram. Kebanyakan mazhab utama dalam Islam seperti mazhab Syafi’i, Hanafi dan Hambali secara jelas melarang konsumsi daging kodok. Sementara Mazhab Maliki memperbolehkan mengkonsumsi kodok tetapi hanya untuk jenis tertentu, yaitu hanya kodok hijau yang biasanya hidup di sawah, sementara kodok-kodok jenis lain yang berkulit bintil-bintil seperti kodok budug tidak boleh dikonsumsi karena beracun dan menjijikkan.
Di Purwodadi ini baru tahu, ternyata swike itu lebih pada jenis masakannya. Terutama elemen tauco yang kuat. Bagi yang terhalang aturan, ada varian masakan swike menggunakan daging ayam atau entok sebagai pengganti daging kodok, sehingga bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan. Selain halal, rasa gurih dan teksturnya pun mirip daging kodok. Bedanya, kalau swike katak seporsi Rp 35 ribu, maka swike ayam dihargai Rp 27 ribu.

Restoran ini berdiri sejak 1901. Sejumlah tokoh yang pernah mampir di situ pun dipajang. Termasuk t-shirt Jokowi. Apakah beliaunya makan swike juga?
“Belum tentu. Karena tulisannya kan ’Kenang-Kenangan dari Presiden Jokowi saat Kunjungan di Grobogan, 5 Januari 2022’. Mungkin saja diberikannya di pendopo kabupaten,” kata kawan lain.
Di samping rumah makan Cik Ping, deretan warung swike mudah ditemui di kota kecil berpenduduk 140 ribu jiwa ini. Kalau Kabupaten Grobogan secara total, penduduknya 1,4 juta orang. Kabupaten dengan luasan daerah terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Cilacap. Menyusul kemudian Blora, Wonogiri, dan Brebes.

Menurut Shanty Tjandra Wati (54) atau akrab disapa Cik Ping, , awal mulanya, sebelum tahun 1900, generasi pertama sesepuhnya itu berdagang swike dengan berkeliling berjalan kaki mengangkat pikulan di wilayah Purwodadi. Hingga akhirnya nasib baik menghantarkan leluhurnya bernama Kong Giring itu untuk berjualan swike dengan mangkal di rumah yang saat ini menjadi rumah makan ‘Cik Ping’.
”Untuk mengenangnya, pikulan itu masih dipergunakan di warung. Kami adalah generasi kelima. Kami buka cabang di Jalan Imam Bonjol, Semarang sejak 1997 dan di Jalan Diponegoro, Yogyakarta sejak 40 tahun lalu,” terang Cik Ping dikutip Kompas.com.

Reputasi rumah makan ’Cik Ping’ yang menyajikan panganan kodok hijau di Purwodadi bukan isapan jempol belaka. Dalam kurun sehari, rumah makan yang berada di jantung kota Purwodadi ini bisa menghabiskan 50 kilogram paha kodok hijau yang telah diramu.
”Swike kami istimewa pada tauconya. Kami juga memilih kecap yang berkualitas untuk memadukan rasa manis pada kuah. Untuk yang berselera pedas, kami sediakan ulek’an cabai,” pungkas Cik Ping. Salib berdaun palem dan foto Romo Kardinal Suharyo -saat masih menjabat Uskup Semarang- terpasang di situ.

Bersama kawan-kawan Bawaslu Kabupaten Grobogan, Bu Ketua Fitria Nita Witanti dan anggota Amal Nur Ngazis , anggota KPU Provinsi Jawa Tengah Muhammad Machruz, anggota KPU Grobogan Agung Sutopo, pegiat Pemilu Masykur Hafidz, dan Tenaga Ahli DPR Salman Nasution, kami menikmati swike dari berbagai varian itu. Termasuk juga kripik kulit kodoknya.
”Kalau ke Grobogan jangan tergesa,
Nikmati kuliner di malam hari.
Swike Purwodadi enaknya terasa,
Bikin rindu ingin kembali lagi…”


