Sendiri dan ‘Lorong Waktu‘

Buku ke-24 Tere Liye yang saya tuntaskan. Berkisah tentang kesendirian seorang lelaki 70 tahun yang shock ditinggal meninggal isteri yang dicintai banyak orang.

Bambang tertegun saat isterinya, Susi, meninggal. Empat anak perempuannya kembali ke rumah dari berbagai penjuru dunia. Keluarga yang sukses, dengan kenangan indah. Dari jatuh bangun gagal berusaha, berakhir sukses sebagai pengusaha teknologi otomatis.

Latarnya tahun 2050. Saat dunia sudah lebih canggih. Mobil listrik di mana-mana, dan ponsel setipis kertas.

Selanjutnya, setelah semua tamu pergi, yang ada adalah kehampaan bagi Bambang. Hingga akhirnya, di sela ketidakikhlasan kepergian isterinya, ia mencari ‘mesin waktu’ untuk bisa kembali bertemu mendiang Susi. Jembatan merah, tempat ikonik pertemuan dengan Susi menjadi pilihan pintu ke masa lalu itu.

Di situlah cerita-cerita imajinatif berlangsung. Bertebal-tebal halaman. Absurd tapi seolah nyata. Kenyataan pahit kehilangan belahan jiwa menjadi fondasi novel setebal 320 halaman yang rilis Oktober 2024 ini.

Pesan moral dari ’Sendiri’ antara lain:

Kesendirian bukan selalu kesepian

Sendiri bisa menjadi ruang untuk mengenal diri, menata hati, dan memahami hidup dengan lebih jernih. Tidak semua “sendiri” itu buruk—kadang justru menumbuhkan.

Mengenal diri adalah perjalanan penting

Tokoh-tokohnya merefleksikan bahwa sebelum memahami orang lain dan dunia, seseorang perlu berdamai dengan dirinya sendiri.

Kekuatan lahir dari dalam

Kebahagiaan dan keteguhan tidak selalu datang dari orang lain. Kita bisa menemukan kekuatan dari prinsip, harapan, dan iman dalam diri.

Ikhlas dan menerima proses hidup

Ada fase kehilangan, penantian, atau jarak dalam hidup. Pesan moralnya: terima proses itu dengan lapang, karena setiap fase membentuk kedewasaan.

Harapan selalu ada

Meski merasa sendiri, hidup tetap bergerak ke depan. Selalu ada peluang untuk bahagia dan menemukan makna baru.

Bagi saya, yang sangat percaya konsep ‘lorong waktu’ dalam kehidupan, novel ini menggambarkan filosofi itu. Kita berjalan dalam lorong-lorong mesin waktu kita masing-masing. Dengan pilihan bebas berbagai pintu di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.