Andri El Faruqi, Jalur Direktur Eks Kontributor

Senang bertemu kawan lama di Padang. Pernah dalam ikatan koprs satu media yang sama -meski pada kurun waktu tak pernah beririsan- dan juga berada pada satu kapal organisasi profesi.

Andri El Faruqi datang membawa dua oleh-oleh dalam kedua tangannya. Teh Taluak khas Padang dan Martabak Mesir. Di lobi hotel itu, ia menonton live siaran BRI Super League, Persijap Jepara memukul Persebaya 3-1.

“Sebenarnya saya berharap Persebaya yang menang, agar Semen Padang bisa lebih aman dari ancaman degradasi,” kata ayah satu puteri itu. Sehari sebelumnya, tim ‘Kabau Sirah’ ditahan Malut United 2-2 di Stadion Haji Agus Salim.

Dulu, pria berambut panjang digelung ala bek tengah Liverpool Virgil van Dijk ini banyak dapat ‘rezeki’ dari liputan sepak bola. Maklum, sebagai kontributor Tempo di daerah, tak ada gaji pasti yang diterima. Besar kecilnya pemasukan bulanan didapat dari akumulasi berita yang tayang pada sebulan itu. Liputan sepak bola seperti sebuah jaminan pasti tayang karena mengundang minat tinggi pembaca.

Pada 2018-2021, alumus IAIN (kini Universitas Islam Negeri) Imam Bonjol ini juga menjadi Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang. Tapi, kini ia sudah mundur dari organisasi profesi yang berdiri sebagai respons atas tekanan kebebasan pers era Orde Baru. Kami pun tertawa kala mengenang tiba-tiba masuk dalam ’Grup WA Bernama Aneh’ itu. Apakah kami dianggap pensiun sebagai orang idealis karena mundur dari organisasi profesi ini?

”Ndak enak, Mas. Posisi kan sudah di manajemen, bukan jurnalis liputan lagi,” kata Andri yang kini beratribut CEO alias Direktur Utama Langgam.id. Seperti namanya, media online ini punya langgam sendiri dalam mengemas pemberitaan, menonjolkan kearifan alam dan budaya di Sumatera Barat, ingin hadir sebagai referensi Indonesia dari seluruh pelosok negeri.

Tak salah, berita-beritanya tak melulu hard news, tapi lebih kepada tulisan mendalam. Tengoklah judul bernuansa histori: ’Sepasang Lingga Yoni, Ujung Pangkal Kedatuan Sriwijaya’.

Atau bacalah feature kebencanaan nan amat menggugah: ’Kisah Penjual Es Krim Cari Istri yang Hilang saat Galodo, Bawa Sehelai Foto dari Posko ke Posko’. Anda tahu apa makna diksi ‘galodo’? Itulah kata dalam Bahasa Minang yang merujuk pada banjir bandang.  Bukan sekadar air yang meluap, galodo benar-benar menggambarkan bagaimana derasnya air hingga membawa sejumlah material beripa lumpur, batu, pasir, hingga kayu dalam waktu singkat. Istilah ini awalnya lahir dari pengalaman kolektif masyarakat Minang yang berdampingan dengan alam. Galodo bukan hanya nama sebuah bencana, melainkan juga bentuk peringatan tentang kekuatan alam yang tak bisa dianggap remeh.

Karya lain lahir dari pemimpin redaksi Langgam, Yose Hendra, dengan tajuk ‘Sipora, Pulau Kecil, Beban (Bencana) Ekologis Besar’. Tulisan Yose begitu mengalir, seolah kita dibawa ke salah satu nusa di Kepulauan Mentawai yang rajin terlanda banjir akibat deforestasi.

“Beda dengan dulu jadi wartawan tinggal nulis. Sekarang tiap akhir bulan harus mikir gimana menggaji karyawan. Dalam kondisi darurat, ya direktur dan pemrednya yang tidak gajian dulu,“ kisah pendiri Aliansi Pers Mahasiswa (Aspem) Sumatera Barat itu. Langgam punya delapan kepala yang menggantungkan hidup keluarganya di sana. Media ini berumur tujuh tahun, sama dengan usia Alesha, putri tunggal Andri.

“Sebelum pandemi Covid, kami ber-15 orang. Namun, setelah ada refocusing anggaran, kami pun mulai merampingkan barisan satu per satu. Kebijakan efisiensi pemerintah sejak tahun lalu makin memukul media daerah macam Langgam ini,” ucapnya. Dari balik kemudi, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Sumbar ini pamit. Tapi, kami bersepakat untuk ‘basuo baliak‘, berjumpa lagi.

Langgam tak pernah menyerah. Di depan kantornya dekat Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi Padang, Andri dan kawan-kawan berjualan nasi campur. Setelah libur di awal puasa, ’diversifikasi usaha’ itu akan buka lagi, Senin, 23 Februari esok. Saya berjanji datang dan makan di sana.

Tarimo kasih kudapan, minuman, dan inspirasinya. Jan manyarah, Pak Dirut!

Leave a Reply

Your email address will not be published.