Di salah satu sudut Pantai Air Manis, lima kilometer dari Kota Padang, terdapatlah batu yang bentuknya menyerupai tubuh manusia seperti sedang bersujud. Oleh masyarakat setempat, spot ini disebut Batu Malin Kundang.
Konon, hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah dan anak laki-lakinya yaitu Malin Kundang. Keduanya hidup di desa Pantai Air Manis yang terletak di Padang, Sumatera Barat.
Mereka hidup berdua dalam kemiskinan sejak kematian ayah Malin. Malin pun berniat untuk merantau ketika kapal besar datang berlabuh.
Mande Rubayah mengizinkan anaknya pergi meski berat hati.

Hingga suatu hari, kapal besar berlabuh di Pantai Air Manis. Mande Rubayah melihat seorang pemuda bersama istrinya di kapal. Ia pun langsung memeluk pemuda itu erat-erat, seakan takut kehilangan anaknya lagi.
”Malin, anakku, mengapa begitu lamanya kau meninggalkan ibu?” Sebelum Malin menjawab, istrinya sudah meludah.
”Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Bukankah dulu kau bilang ibumu adalah seorang bangsawan sederajat denganku?”
”Hai, Perempuan tua! Ibuku tidak sepertimu, miskin dan kotor!” kata Malin sambil mendorong lagi Mande Rubayah hingga terkapar pingsan.

Ketika Mande Rubayah sadar, kapal itu telah berlayar menjauh dari bibir pantai. Perih hatinya seperti ditusuk saat sang anak bersikap demikian kepadanya.
Mande Rubayah enangis dan berdoa kepada Tuhan, ”Ya Allah, Yang Maha Kuasa, jika dia bukan anakku, akan ku maafkan perbuatannya tadi. Tapi jika memang benar dia anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu.”

Badai besar menghantam kapal yang dinaiki Malin Kundang. Kapal itu hancur berkeping-keping, terhempas ombak hingga ke pantai.
Hikayat Malin Kundang fiktif, tentu saja. Batu yang dipercaya sebagai tubuh Malin Kundang yang membatu di Pantai Air Manis adalah hasil buatan manusia. Pembuatnya adalah Dasril Bayras dan Ibenzani Usman pada tahun 1980-an.
Keduanya membuat wujud batu yang berasal dari legenda terkenal di masyarakat setempat itu agar menarik perhatian orang-orang sehingga bisa berkunjung ke kawasan ini.

