Soto Ayam Pak Wito Jelang Bandara Semarang

Soto Ayam Dargo Pak Wito sangat strategis letaknya. Setelah mendarat dari Bandara Ahmad Yani, maupun jelang take-off, lokasi terbaik mengisi perut di sini.

Di Surabaya, ada Soto Cak Choirul yang tak jauh dari Bandara Juanda. Lokasinya di Jalan Delta Mandala, Semambung, Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Memudahkan bagi yang mau makan jelang atau setelah terbang.

Sementara itu, di Semarang, berkibarlah Soto Ayam Dargo Pak Wito nan legendaris. Menggelari diri ’Masternya Soto’, lokasi Soto Pak Wito di Blok D Ruko bizzpark, Jl. Madukoro Raya No.6 – 8, Kec. Semarang Barat. Sekitar tujuh menit saja menuju bandara terbesar di Provinsi Jawa Tengah itu.

”Cocok sih makan di situ. Pas jelang ke Bandara,” kata Bayu dan Rizal, sahabat dari Bawaslu Jawa Tengah dan Semarang, yang pagi tadi mengantar ke Bandara Juanda. Sayang, pagi tadi kami tak mampir. Masih jam intermittent fasting.

Dua hari sebelumnya, saya makan di sana. Memesan soto dan nasi ayam dipisah. Minum kelapa dari batoknya, beserta jajanan masa kecil.

Warung soto pertama berada di Jalan Dargo, kemudian pindah ke Jalan Hasanuddin. Pelanggan setia soto Pak Wito menyebut warung ini dengan Soto Ayam Dargo. Nama inilah yang selanjutnya digunakan sampai saat ini.

Sekarang, warung soto Pak Wito sudah memiliki sekitar 9 cabang lain yang tersebar di beberapa kawasan di Semarang. Hidangan soto di sini memiliki kuah bening dengan aroma rempah yang begitu khas.

Isiannya berupa nasi, soun, tauge, suwiran daging ayam, bawang putih goreng, dan taburan bawang merah. Porsinya memang tidak besar, tetapi cukup untuk mengenyangkan perut dengan rasa yang begitu lezat.

Sebagai pelengkap, tersedia pula gorengan dan satai sebagai lauk, seperti satai kerang, telur puyuh, telur ayam rebus, tahu, bakwan jagung, tempe, dan masih banyak lagi. Harganya juga cukup terjangkau, menjadikannya pilihan kuliner murah meriah di Semarang.

Radar Semarang menulis, Djoyo Suwito adalah pendiri warung soto ayam Pak Wito. Saat awal merintis usaha kuliner berkuah ini, Suwito mangkal di emperan Pasar Dargo Semarang. Kini, di tangan generasi kedua, Setyo Budi Rahayu, soto ayam Pak Wito berkembang pesat, meski pada 1998 lalu sempat terpuruk bahkan tutup. “Awal mula saya mencoba buka usaha sendiri sekitar tahun 1992 untuk meneruskan usaha bapak saya, Pak Djoyo Suwito. Saat itu masih berjualan di emperan juga, bahkan tahun 1998 sempat tutup karena krisis moneter,” cerita Setyo Budi.

Setyo ini menjelaskan, bumbu soto yang ia buat adalah resep rahasia dari sang ayah. Memang butuh penanganan khusus agar cita rasanya tidak berubah. Hampir 30 tahun Setyo Budi membuka usaha, tak sedikit pun resep soto yang diturunkan orang tuanya ini berubah. Soto Ayam Pak Wito, referensi kuliner saat mampir di Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.