Tak perlu waktu lama bagi Arif untuk pindah jalur dari karyawan menjadi pengusaha. Buka warung makan spesialis Bebek Surabaya jadi pilihannya.
Enam bulan setelah lepas jadi karyawan sebuah start-up milik pemerintah, Arif Rochman baru mendapat ide untuk berjualan bebek goreng. Perantau asal Surabaya -daerah asal nasi bebek ‘ditemukan’- ini awalnya merasa, masakan isteri tercintanya, Wiwik Hidayati, enak juga untuk disantap. Ia pun terpikir untuk mengkomersialkan masakan rumahan itu.
”Kemudian kami bikin tester. Beberapa masakan bebek goreng kami kirim ke rekan-rekan dekat rumah, sembari minta review dan masukannya,” ungkap sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Dokter Soetomo Surabaya angkatan 2000 ini.

Respon positif datang. Agustus 2025, ayah satu anak ini mendaftarkan usahanya ke berbagai marketplace daring. Hanya berjualan online, pesanan mengalir deras. Terutama saat jam makan siang. Baik dari rumah, maupun karyawan kantor, seperti sebuah rumah sakit tentara di kawasan Veteran, Jakarta Selatan.
Ada yang sekali pesan sampai 26 item. Semua hanya ditangani isterinya sebagai chief tunggal. Demikian order terus bertambah, terhitung dari stok bebek mentah yang dibelinya. ”Awalnya hanya beli tiga ekor bebek per hari, sekarang bisa lebih dari 10 ekor,” ungkapnya.

Arif bisa tersenyum. Kebangkitan finansialnya mulai nampak, setelah setengah tahun bekerja apa saja demi menyambung hidup, usai tak lagi berstatus ‘gajian bulanan‘.
”Saat itu freelance apa saja saya ambil,” kenangnya. Tapi, secercah asa dari bebek goreng online membuatnya urung pulang kampung ke Jawa Timur.
Memasuki 2026, ekonomi global dan domestik boleh jatuh bangun, tapi Arif justru melihatnya sebagai tantangan. Per 6 April, ia membuka warung makan di kawasan Pondok Pinang Raya, Jakarta Selatan. Persis di belakang resto ‘Kebuli Sultan’. Kali ini, usahanya berkembang tak hanya menu pesan antar tapi melayani makan di tempat (dine-in).

”Banyak pelanggan bertanya, kapan ada warungnya, jadi bisa sekalian nongkrong,” ucapnya.
Buka dari jam sebelas pagi hingga sembilan malam, brandingnya ‘Bebek Cak Kaji‘. ”Yang membedakan di sini ada bumbu kuning khas Bebek Surabaya. Kalau Bebek Madura biasanya bumbunya hitam,” jelasnya.

Bumbu kuning merupakan campuran rempah aromatik khas yang kaya kemiri, kunyit, jahe, dan ketumbar, menghasilkan rasa gurih meresap dengan tekstur lembut. Bumbu ini wajib mengandung kemiri sangrai, kunyit bakar, serta bumbu cemplung (daun jeruk, serai, lengkuas) untuk menghilangkan bau amis bebek. Selain itu, ada juga sambal bawang dan sambal matah khas Bali.
Di ‘Bebek Cak Kaji’ nasi bebek seporsi dihargai Rp 28 ribu, sementara nasi bebek paha full Rp 38 ribu, nasi ayam negeri Rp 28 ribu dan nasi ayam pejantan Rp 30 ribu. Selain itu ada pula varian bebek mercon, bebek sayap, bebek paha atas, dan ati ampela. Pilihan sayurnya, baik bayam maupun jukut seharga Rp 5 ribu per porsi. Jukut merupakan istilah Sunda untuk sayuran atau rumput, yang kini populer sebagai jukut goreng—selada air goreng garing berbumbu gurih.

Selepas Lebaran, Arif membenarkan terjadi perubahan harga bahan baku cukup signifikan. “Plastik kemasan makanan yang biasa per paket Rp 40 ribu kini naik tak tanggung-tanggung jadi Rp 70 ribu,” terangnya.
Selain itu, harga ayam potong per kilogram juga naik sekitar Rp 5 sampai Rp 7 ribu. “Kalau daging bebek tidak naik harganya, tapi ukurannya dari pasar mengecil,” tambah Wiwik.

Kopi Tubruk Cak Kadi
Di kedai ‘Bebek Cak Kaji’ Arif tak sendiri. Ia ditemani sahabatnya, Cak Kadi Riyanto. Kadi, sesama perantau Surabaya, piawai meracik kopi. Maka, mereka berkolaborasi dalam kedai ’Kopi Kata’.
”Kopi itu yang penting tak hanya minumnya, tapi sebagai teman ngobrol,” ungkap Kadi, mantan karyawan sebuah perusahaan operator telekomukasi.

Awalnya, sebagai pencinta kopi ia menikmati kopi di banyak lokasi. ”Kemudian saya beli alat peramu kopi sendiri, karena kalau dipikir-pikir, terus minum di kafe bikin boncos juga,” ceritanya.
Dari situlah ia mengenal berbagai jenis seduhan kopi. Termasuk V60, metode seduh kopi manual (manual brew) teknik pour-over yang menggunakan alat berbentuk kerucut menyerupai huruf ‘V’ dengan sudut 60 derajat dan kertas filter.

Alat ini, yang dikembangkan oleh Hario Jepang, memiliki alur spiral di dalam dripper yang berfungsi memaksimalkan ekstraksi dan menghasilkan kopi yang bersih, aromatik, serta menonjolkan karakteristik rasa unik biji kopi.
Di Kedai Kopi Kata yang jadi satu dengan Bebek Cak Kaji, tersedia berbagai biji kopi dari asalnya: Temanggung, Bali Kintamani, Garut, Kerinci, Sidikalang, Ciwidey, Gayo, Lampung, dan lain-lain.

“Meski memang pada dasarnya kopi itu hanya ada dua jenis, Arabika dan Robusta. Tapi setiap jenis kopi dari tiap daerah punya karakter tersendiri,” kata Kadi yang juga Sarjana Ilmu Komunikasi Unitomo.
Arabika (Coffea Arabica) dikenal dengan cita rasa kompleks, asam, dan aromatik, sementara Robusta (Coffea Canephora) lebih pahit, kental, dan tinggi kafein. Keduanya berbeda dalam genetika, ketinggian tanam, dan karakteristik rasa.

Arabika menawarkan profil rasa yang lebih beragam (buah, bunga, manis), sedangkan Robusta cenderung pahit, cokelat, dan kacang-kacangan. Beda yang lain, Robusta memiliki kafein lebih tinggi (2,2–2,7%) dibandingkan Arabika (1,1–1,7%).
Kopi Arabika tumbuh baik di dataran tinggi (di atas 1000 mdpl) dengan suhu sejuk, sementara Robusta tumbuh di dataran rendah dan lebih tahan penyakit. Sementara biji Arabika lebih lonjong dengan garis tengah melengkung, sedangkan Robusta lebih bulat dengan garis tengah lurus
”Ternyata untuk sampai kita minum, runtutan kopi itu banyak sekali. Dari dipetik hingga disajikan bisa berbagai rasa berbeda. Padahal, dari satu jenis kopi yang sama,” jelasnya.
Kadi pun ingin mengedukasi anggapan bahwa kopi tak baik untuk lambung. ”Kalau kopi saja tanpa gula akan aman-aman saja. Justru kopi itu khasiatnya menguatkan jantung,” pungkasnya.
Selamat terus menggoreng bebek, ayam pejantan dan menyeduh kopi untuk duo Cak Kaji dan Mas Kadi, semoga jadi peruntungan baru di Jakarta!


