Sampaikan Kuliah Umum di Universitas Sam Ratulangi, Ketua Umum GAMKI Ajak Anak Muda Sulawesi Utara Jadi Aktor Utama Penggerak Transformasi Bangsa

Pemuda saat ini tidak hidup di ruang hampa, tapi harus hadir untuk memberi makna. Untuk itu, anak muda Indonesia harus berani berperan dan berani membuat sejarah.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat menegaskan pesan itu saat menjadi narasumber kuliah tamu bertopik ‘Peran Generasi Muda dalam Mendorong Transformasi Sosial dan Ekonomi Indonesia’ di Universitas Sam Ratulangi, Manado, Rabu, 29 April 2026.

Sahat meguraikan, pada 2030-2040, Indonesia diprediksi mengalami masa bonus demografi., yakni keadaan dengan jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

”Sangat disayangkan kalau anak muda tidak bisa memanfaatkan tahun-tahun penuh peluang emas yang tak akan terulang ini. Kita bukan penonton sejarah, tapi sebaliknya kita adalah aktor utama penggerak transformasi di bangsa ini,” kata Sahat.

Untuk itu, Sahat memaparkan ’Formula Empat C’ yang harus dimiliki anak muda menuju kesuksesan.
Pertama, Calling atau Panggilan.
”Temukan apa yang jadi visi dan panggilan hidup kita. Dan baiknya pilihan itu bisa kita tentukan sebelum lulus dari kampus,” jelasnya.

Kedua, Competence atau Kompetensi.
“Miliki kompetensi yang bisa didapat, baik di kelas, dan juga terlebih yang dari luar kelas. Dengan berorganisasi, teman-teman bisa kuasai ‘soft skill‘ seperti public speaking, kemampuan bekerja sama, bagaimana menyelesaikan masalah dan lain-lain,” ungkapnya.

Ketiga, Confidence atau Keyakinan.
“Kita harus yakin pada diri kita. Mimpi kita ke depan, seseorang itu dilihat bukan dari golongannya, keturunannya dan lain-lain, tapi kemampuannya. Yakinlah pada skill kita,” urainya.

Kempat, Character Watak.
“Sebagus apapun kita memiliki kompetensi, tapi kalau tak punya karakter dan integritas yang baik, kita tak akan bisa dipercaya lagi,” simpulnya.

Belajar dari pengalamannya berkunjung ke Tiongkok, Sahat mengajak mahasiswa menjadikan kampus sebagai ruang kolaborasi dan inovasi. ”Indonesia ke depan tergantung bagaimana kita menghasilkan inovasi baru yang bisa dilahirkan dari mahasiswa-mahasiswa Universitas Sam Ratulangi saat ini,” kata Sahat.

Menjawab pertanyaan mengapa banyak lulusan kampus tak memenuhi kebutuhan dunia kerja, Sahat mendorong agar sarjana tak hanya memiliki penguasaan akademis, tapi juga unggul kemampuan vokasionalnya. ” Harus ada inovasi baru sehingga sumber daya kita bisa bekerja di sektor riil yang ada. Ingat, dunia kerja tak hanya teori, tapi juga penting mengimplementasikan ilmu secara praktis,” tukasnya.

Dekan Fakultas Ilmu dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Ferry Daud Liando mengapresiasi kehadiran Sahat Sinuratnya yang disebutnya sebagai tokoh muda nasional. ”Ini kesempatan kita saling berbagi pengalaman. Mari belajar bagaimana cara seorang Sahat berkarir dan melenggang di negeri ini,” kata putra Minahasa Selatan itu.

Senada dengan itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Yudhi Dien berharap kuliah umum ini dapat memberi wawasan untuk mahasiswa Unsrat meraih sukses di masa datang.

”Kami percaya, event ini bukan yang terakhir, tapi awal dari sesuatu yang besar. Menjadi awalan cerita untuk masa depan lebih baik,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.