Ibadah II GMS 3 Mei 2026: Tuhan Cinta Orang yang Memberi dengan Sukacita

Mendasari Firman Tuhan dari II Korintus 8 1-9 dan I Raja-raja 17:7-16, Senior Pastor Philip Mantofa menegaskan percuma jadi orang kaya dalam iman dan pengetahuan tapi kikir.

Sifat tak mau memberi bukan hanya membuat nama Tuhan tak dimuliakan, tapi menunjukkan iman orang itu tak asli.

”Persembahan bukan soal materi, jumlah, atau nominal, tapi soal sikap hati yang benar. Jadilah orang Kristen yang berhikmat. Kapan itu berhemat, kapan itu kita dalam posisi untuk memberi,” jelasnya pada Ibadah kedua GMS, 3 Mei 2026.

Giving adalah salah satu sifat Tuhan Yesus dan juga Allah Bapa, yang rela mengaruniakan anakNya yang tunggal. Giving juga bisa dalam bentuk waktu, tenaga, talenta, perhatian dan lain-lain.

Bacaan di Kitab Korintus menunjukkan teladan dari umat Tuhan di Makedonia -di mana di antaranya terdapat kota Filipi dan Tesalonika, yang memberi pelayanan kasih meski sebenarnya sedang mengalami krisis moneter. Namun meski miskin karena mengalami goncangan ekonomi serius, mereka kaya dalam kemurahan.

”Memberi itu kharismata, kasih karunia, dalam memberi tanpa pamrih. Tuhan tak pernah meminta sesuatu yang kita tak punya. Jadilah memberi bukan di saat momen tertentu, karena memberi harus jadi gaya hidup kita,” paparnya.

Sikap yang ditunjukkan umat Tuhan di Makedonia melawan hukum dunia. Biasanya dalam kondisi seret orang jadi pelit. Tapi jemaat di Makedonia justru memberi dalam kekurangan. Mereka tak hanya sampai di titik murah hati tapi juga belajar berkorban bagi Tuhan.

”Segala hidupmu arahnya harus tertuju kepada Yesus. Tidak ada orang yang memberikan dirinya kepada Tuhan menjadi orang kikir. Sebaliknya, tak ada orang yang kekurangan karena hatinya suka memberi,” tegasnya.

Sekalipun memberi adalah perintah Tuhan, tapi perintah itu tidak dijalankan dengan ketakutan, tapi dengan kasih, karena semua hukum Tuhan tergantung pada kasih.


Sama seperti stabil dalam jasmani kita biasa berolahraga, maka untuk stabil secara keuangan kita pun harus rutin dalam gaya hidup memberi.

Memberi dengan sukacita mendatangkan berkat

”Benarkan hati sebelum menikmati rezeki. Allah mengasihi, menunjukkan favour, orang yang memberi dengan sukacita. Orang yang murah hati seperti magnet bagi hadirat Tuhan,” jelasnya.

Pastor Philip menekankan, memberi harus berdasar kebenaran bukan paksaaan, happy saat memberi, happy usai memberi, semua dilakukan dengan sukacita. Tujuan berkat untuk membuat kita rendah hati.

Dari I Raja-Raja 17:7-1 Tuhan bisa memakai berbagai cara untuk memelihara kita. Setelah Tuhan memberi Elia makan lewat mujizat burung gagak membawa daging dan roti, kini Tuhan memakai janda di Sarfat.

”Tuhan bisa memakai berbagai macam cara untuk memelihara kita. Tuhan bisa memakai berbagai macam pemberi, dan setiap pemberi itu mendapat kharisma, panggilan dari Tuhan,” urainya.

Dalam konteks janda di Sarfat ini, memberi bukan karena kelimpahan tapi karena percaya pada Tuhan. Elia mengajari janda itu agar tak mengasihi dirinya sendiri dalam kekurangannya.

Tuhan punya hukum ekonomi yang tak kelihatan. Memberi bukan karena kelimpahan, tapi memberi karena janji Tuhan. Sekalipun kita susah, karunia memberi jangan pernah diambil dari dirimu.

”Kalau sorga melatih, berarti kita adalah anak. Pewaris. Tapi kalau sorga hanya berbelaskasihan, maka anda adalah pengemis,” tukasnya.

Maka, karena perempuan itu tak putus pengharapan dan mengerjakan prinsip kerjaaan Allah, selanjutnya minyak dalam tempayan mengalir tak henti.

Beberapa pelajaran dalam Firman Tuhan ini.

Pertama, memberi kepada Tuhan membetulkan prioritas kehidupan.

Kedua, murah hati itu karena percaya kepada Tuhan, bukan karena kelimpahan.

Ketiga, memberi dalam kekurangan membuka pintu penyediaan Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.