Ini adalah Taman Tugu Soekarno, di Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah. Setidaknya dua kali Presiden pertama Indonesia menyatakan tekadnya memindahkan ibukota negara.
Sejak 1957, Bung Karno, sang arsitek pendiri bangsa, meramalkan pertumbuhan ekonomi dan populasi di provinsi jakarta dan pulau jawa tidak akan terkendali.
Palangka Raya dibangun pada tahun 1957 melalui Undang- Undang Darurat no. 10/1957 tentang pembentukan daerah Swatantra tingkat I Kalimantan Tengah) dari hutan belantara yang dibuka melalui Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan, sebagian wilayahnya masih berupa hutan, termasuk hutan lindung, konservasi alam serta hutan lindung tangkiling.
Kota Palangka Raya merupakan kota dengan wilayah terluas di indonesia atau setara 3,6 kali luas Jakarta.
Monumen ini diresmikan Gubernur Kalimantan Tengah saat itu, Teras Narang, pada 2015. Bung Karno berpesan, ’Jadikanlah Kota Palangka Raya sebagai modal dan model.’ Harapan itu disampaikan saat Soekarno pertama kali menancapkan tonggak pembangunan Palangka Raya pada 17 juli 1957.
Kota baru ini kemudian diberi nama Palangka Raya atau Palangkaraya. ‘Palangka’ mempunyai arti gandar atau tempat yang suci diturunkan dari langit ketujuh, dan ‘Raya’ artinya besar, sehingga artinya tempat suci yang amat besar.
Beberapa pertimbangan menjadikan Palangka Raya sebagai pusat pemerintahan tidak lepas dari fakta bahwa Kalimantan merupakan pulau terbesar di Indonesia, paling aman dari gempa dan gunung meletus, serta letaknya di tengah-tengah gugus negara kesatuan Republik Indonesia.
Pertimbangan lain, menghilangkan sentralistik Jawa. selain itu, pembangunan di Jakarta dan Jawa adalah konsep peninggalan Belanda. Soekarno ingin membangun ibukota dengan konsepnya sendiri. bukan peninggalan penjajah.
Palangkaraya juga memiliki Sungai Kahayan, dan Soekarno memiliki visi memadukan konsep transportasi sungai dan jalan raya, seperti di negara-negara maju.
Untuk mewujudkan pemindahan ibukota ke Palangka Raya, Soekarno menceritakan idenya kepada beberapa orang insinyur asal Rusia yang lantas membangun jalan raya di lahan gambut.
Jalan Tjilik Riwut kini menjadi salah satu jalan terpanjang di Indonesia sepanjang 241 kilometer.
Jalan Tjilik Riwut –diambil dari nama pahlawan nasional yang juga Gubernur pertama kalimantan tengah- putera Dayak Naju yang pernah berkeliling Kalimantan tiga kali.
Jalan Tjilik Riwut dimulai dari kilometer nol Palangka Raya (Bundaran Besar Palma) melewati Kabupaten Katingan ada daerah namanya Kasongan, kelahiran Tjilik Riwut.
Namun, sayang sekali, seluruh proyek pemindahan ibukota akhirnya terhenti sama sekali seiring pergantian kekuasaan dari Soekarno kepada Orde Baru Soeharto pada 1965.
Selain itu, karena kita memiliki proyek-proyek besar di Jakarta, ada Ganefo, Conefo, yang kemudian membangun GBK, Gedung DPR, Tugu Selamat Datang Bundaran HI dan lain-lain, sehingga rencana pemindahan ibu kota itu tidak terjadi di Palangka Raya.
Jalan Tjilik Riwut terbentang hingga Polres Sampit, melalui tiga daerah kabupaten yang berada di Kalimantan Tengah: Palangka Raya, Katingan, dan Kota Waringin Timur.
Seluruh jalan Palangka Raya dibuat lurus-lurus dan menuju satu bundaran besar di pusat kota. jalan-jalan ini bisa diperlebar sampai empat belas jalur guna pendaratan pesawat MIG buatan Uni Soviet untuk bersiap menghadapi serangan dari Inggris.
Proses pembangunan jalan dilakukan dengan mengeruk tanah gambut kemudian dilakukan pengerasan.
Inilah Bundaran Talawang, artinya perisai atau tameng dalam Bahasa Dayak.
Keterbukaan, pluralisme dan toleransi menjadi kata kunci keunggulan provinsi berjuluk ‘Bumi Tambun Bungai ini’.
Kalimantan Tengah menganut falsafah ‘Huma Betang’, yang artinya bahwa suku, agama, dan ras yang ada merupakan kesatuan yang membentuk keluarga dalam rumah besar Kalimantan Tengah.
Salam dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah…
