Kamis malam di Semarang. Ternyata kota ini bukan hanya kota lumpia, tahu gimbal, wingko, dan nasi ayam.
Kota ini juga semakin ramai dengan tempat-tempat ngopi yang menawarkan pengalaman berbeda.
Ada coffee shop yang menjual kopi. Ada yang menjual suasana. Ada yang menjual tempat untuk bekerja.
Ada pula yang entah bagaimana, membuat kita datang untuk ngopi tetapi akhirnya betah berjam-jam.
‘Antara Kata’ Coffee di Jalan Ahmad Yani adalah salah satunya.
Letaknya di Jalan Ahmad Yani No. 162, kawasan Karangkidul, Semarang Tengah. Lokasinya juga relatif dekat dengan Simpang Lima sehingga cukup mudah dijangkau kalau sedang berada di pusat Kota Semarang.
Dan saya termasuk yang terkesan ketika mampir ke sini. Bukan karena tempatnya harus disebut paling mewah. Justru karena ‘Antara Kata’ terasa seperti coffee shop yang tahu satu hal penting: orang datang ke kafe bukan hanya untuk minum kopi.
Orang datang untuk bertemu. Untuk ngobrol. Untuk bekerja. Untuk membaca. Untuk menunggu seseorang. Atau kadang-kadang, untuk melarikan diri sebentar dari keributan hidup.

Ruang yang membuat kita tidak buru-buru pulang
Begitu masuk, kesan yang terasa adalah ruang yang punya karakter.
Ada nuansa industrial yang dipadukan dengan sentuhan modern. Interiornya dihiasi mural-mural yang menarik dan membuat ruang tidak terasa monoton. Ada pilihan tempat duduk dengan karakter berbeda: bangku panjang, meja dan kursi biasa, area lesehan, sampai kursi tinggi bergaya bar.
‘Antara Kata’ juga memiliki area yang terbagi untuk pengunjung non-smoking dan smoking. Ini penting.
Karena bagi sebagian orang, ngopi itu tidak harus ditemani asap rokok. Bagi sebagian lainnya, mungkin justru sebaliknya.
Yang menarik, desain ruangnya membuat orang bisa memilih gaya nongkrong masing-masing.
Mau ngobrol berdua? Bisa.
Mau bertemu teman? Bisa.
Mau membawa laptop dan mengejar deadline? Bisa.
Mau duduk sendiri sambil menikmati kopi dan memandangi orang lalu-lalang? Juga bisa.
Salah satu ulasan tentang ‘Antara Kata’ bahkan mencatat pengalaman pengunjung yang betah mengerjakan tugas di sana. Sumber lain menyebut tempat ini sebagai salah satu kedai yang nyaman untuk menghabiskan waktu cukup lama.
Jadi, mungkin memang bukan kebetulan kalau namanya ‘Antara Kata’. Sebab di tempat seperti ini, kata-kata memang mudah muncul.
Kata-kata dalam percakapan. Kata-kata dalam pekerjaan. Kata-kata dalam buku. Atau mungkin kata-kata yang selama ini belum sempat kita ucapkan kepada seseorang.
Kopinya tidak mau biasa-biasa saja
Kalau hanya ingin kopi susu biasa, tentu banyak tempat lain. Tetapi Antara Kata menawarkan sesuatu yang lebih berani.
Daftar menunya memperlihatkan banyak kreasi kopi dengan kombinasi rasa yang cukup unik.
Ada kelompok Classic Coffee, kemudian Coffee Twist, Signature Black, Signature White, hingga Signature Blend. Ada pula signature mocktail dan tea.

Untuk signature black, misalnya, ada:
- Black Citrus — cold brew dengan citrus, vanilla, dan rosemary.
- Unicorn Tears — cold brew dengan lychee, apple, lemon, dan magic.
- Red Light District — cold brew, citrus, sparkling tea, dan rose.
- Aurora — cold brew, orange, dan lychee.
- The Duck King — cold brew, rose, palm sugar, dan orange.
- Foamy Geisha — cold brew dengan vanilla, lychee, dan orange.
- Cocoronotomo — cold brew dengan coconut dan cheese foam.
- Area 51 — cold brew, sakura, rose, coconut water, soda, dan lime.
Nama-namanya saja sudah membuat penasaran.
Minum kopi di sini sepertinya bukan lagi sekadar pertanyaan:
“Mau kopi hitam atau kopi susu?”
Tetapi:
“Hari ini kita mau mencoba rasa yang mana?”
Untuk kategori signature white, ada antara lain Uncle Coffee, Brown Brulee, Gliyer-Gliyer, Pinky Momo, sampai kreasi cold brew chocolate hazelnut dengan cheese foam.
Sedangkan bagi yang tidak terlalu ingin bermain dengan kopi, tersedia pula pilihan signature blend seperti Regally Blonde, Flamango, Eisai Rinzai, Skip Jack Joe, St. Cheese Factory, Alpenliebe Frosty, Ferrero Jose, dan Ritz Chigga.
Harga minuman yang tercantum dalam daftar menu online saat ini berada di kisaran puluhan ribu rupiah, dengan sejumlah signature coffee sekitar Rp39.600–Rp49.500. Harga tentu bisa berubah mengikuti kebijakan kedai.
Jangan datang hanya untuk kopi
Ini bagian yang saya suka dari Antara Kata. Kalau datang dalam keadaan lapar, kita tidak harus mencari tempat makan lain.
Menunya cukup serius.
Ada snack, snack bowl, pasta, sandwich, comfort food, European favorite, skillet, makanan Indonesia, sampai kategori legendary menu.
Untuk pasta, misalnya, tersedia Aglio Olio with Lapchiong, Penne Al Tono, dan berbagai pilihan lainnya.
Untuk sandwich ada Double Decker Sandwich dan Schnitzel and Egg.
Sedangkan comfort food antara lain Moshi-Moshi Mushroom Rice, Grilled Chicken with Butter Rice, Waroeng Nasi Campur with Chicken Cutlet, dan berbagai jenis Japanese Omurice.
Kalau ingin makanan yang lebih berat, ada Gyu Tan Don, Garlic Gyu Don, Antarakata Sop Buntut, Indonesian Grilled Half Chicken, JayS Fried Chicken, hingga BBQ Beef Brisket.
Bahkan makanan Indonesia pun tidak ditinggalkan. Ada Soto Betawi H. Willy, ayam bakar, sop buntut, dan pilihan nasi lainnya.
Untuk dessert, tersedia antara lain Red Velvet Cake, Cheese Cake, dan Bomboloni.
Artinya sederhana: datang untuk kopi, tetapi bisa pulang setelah makan lengkap.

Ada kopi, ada makanan, ada cerita
Yang membuat sebuah coffee shop bertahan sebenarnya bukan hanya kopinya. Bukan hanya desain interiornya. Bukan pula sekadar karena Instagramable.
Yang paling penting adalah apakah tempat itu berhasil membuat orang merasa nyaman. ‘Antara Kata’ tampaknya memahami hal tersebut.
Seorang pengunjung pernah menggambarkan tempat ini nyaman untuk nongkrong dan berbicara dengan teman. Pengunjung lain menyebutnya cocok untuk mengerjakan tugas. Ada pula yang secara khusus memuji suasana dan ambience-nya.
Dan saya kira, di situlah kekuatan ‘Antara Kata’. Ia memberi ruang. Ruang untuk kopi. Ruang untuk makanan. Ruang untuk pekerjaan. Ruang untuk pertemanan. Dan tentu saja, ruang untuk percakapan.
Sebab kadang-kadang, yang kita cari ketika masuk ke sebuah kedai kopi sebenarnya bukan kopi. Kita mencari teman bicara. Atau mencari waktu untuk berbicara dengan diri sendiri.

Semarang dan budaya ngopi
Semarang sedang tumbuh menjadi kota yang semakin menarik bagi para pencinta kopi. Coffee shop bermunculan di berbagai sudut kota.
Namun ‘Antara Kata’ punya satu kelebihan: ia bukan pendatang baru yang sekadar ikut tren coffee shop kekinian. ‘Antara Kata’ sudah dikenal sebagai bagian dari lanskap kedai kopi Semarang dan memiliki lebih dari satu lokasi.
Itulah mungkin mengapa suasananya terasa lebih matang. Tidak terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya kekinian.
Ia hanya menyediakan tempat yang nyaman, kopi yang kreatif, makanan yang lengkap, dan ruang bagi orang-orang untuk berlama-lama.
Dan justru karena itulah, saya bisa memahami kenapa seseorang bisa berkata:
“Saya tadinya cuma mau ngopi.”
Tetapi dua jam kemudian masih duduk di tempat yang sama.
Masih dengan kopi di meja. Masih dengan obrolan yang belum selesai. Masih dengan laptop yang sesekali dibuka. Dan masih belum punya alasan untuk pulang. Karena pada akhirnya… Ada banyak tempat ngopi di Semarang.
Tetapi tidak semua tempat ngopi membuat kita ingin tinggal lebih lama.
‘Antara Kata’ adalah salah satu tempat yang membuat saya mengerti bahwa kopi hanyalah awal dari sebuah pertemuan. Setelah kopi datang, muncul percakapan. Setelah percakapan, muncul cerita. Setelah cerita, kadang muncul tawa.
Dan setelah semuanya selesai, kita baru sadar:
ternyata yang kita nikmati hari itu bukan cuma secangkir kopi.
Kita menikmati waktu.
Dan bukankah dalam hidup yang semakin sibuk ini, waktu yang bisa kita habiskan dengan nyaman bersama orang lain adalah salah satu kemewahan yang paling mahal?


