Beberapa waktu lalu, saat melakukan perjalanan ke Tiongkok dan menginap di Hotel Ju Chun Yuan, Fuzhou, saya dibuat cukup terkejut ketika melihat ‘pelayan’ yang berbeda dari biasanya.
Bukan manusia.
Melainkan robot produksi Hantewin.
Robot ini bertugas mengantarkan makanan atau pesanan lain dari lobby menuju kamar tamu. Tinggal menerima perintah, membawa pesanan, kemudian berjalan sendiri menuju lantai dan kamar yang dituju.
Saya pun berpikir…
Keren? Jelas!
Teknologi seperti ini membuat pelayanan hotel menjadi lebih cepat, efisien, dan menarik.
Tapi kemudian muncul pertanyaan lain:
Kalau teknologi seperti ini semakin banyak diterapkan, bagaimana dengan tenaga kerja manusia?
Di Indonesia, sektor hotel, restoran, logistik, hingga berbagai jenis pelayanan masih menjadi sumber pekerjaan bagi begitu banyak orang.
Kalau pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia mulai digantikan robot, apakah ini berarti semakin sedikit lapangan pekerjaan?
Atau justru teknologi akan menciptakan jenis pekerjaan baru yang hari ini belum kita bayangkan?
Mungkin persoalannya bukan sekadar “robot atau manusia”.
Tetapi bagaimana kita memastikan bahwa ketika teknologi berkembang begitu cepat, manusianya juga ikut berkembang.
Karena robot boleh semakin pintar.
Tetapi jangan sampai manusia justru semakin kehilangan kesempatan untuk bekerja.
Menurut Anda, kalau robot seperti ini diterapkan di Indonesia, apakah lebih banyak manfaatnya atau justru menjadi ancaman bagi tenaga kerja?
Video taken by: @saragihandar
Editng by: @anggria_ranuva
