Akhirnya ketegangan itu membuncah. Berbuah kemenangan dan kelegaan besar. Senin malam, 5 Oktober 2026, saya menikmati drama Timnas Indonesia menghadapi Thailand di gelaran Final FIFA ASEAN Cup 2026 dari restoran di Hotel Artotel kawasan Gelora Bung Karno (GBK).
Kehabisan tiket pertandingan, lalu nonton bareng di layar besar depan Patung Bung Karno. Karena tak leluasa di kawasan Plaza Selatan GBK itu, akhirnya mencari tempat nobar yang nyaman, dan masuklah ke hotel yang dulu bernama ‘Hotel Atlet Century Park‘ itu.
Deg-degannya terasa bener. Dari gol Dean James, balasan Thailand lewat Sanron Iklas, drama extra time, berbalik ketinggalan 1-2 dari sepakan Peeradol Chamrasamee, gol penyama Elkan Baggott, sampai akhirnya adu penalti. Skor 2-2 selama 120 menit, lalu menang 4-2 melalui adu penalti. Indonesia pun tercatat sebagai juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026.

Tentu saja, kemenangan ini pantas dirayakan.
Suporter berpesta. Jalan-jalan Jakarta dipenuhi konvoi. Bendera Merah Putih berkibar. Presiden Prabowo Subianto bahkan hadir langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan ikut menyaksikan drama pertandingan hingga tuntas.
Tidak ada yang salah dengan kegembiraan itu.
Sepak bola memang bukan sekadar 22 orang mengejar bola. Ia adalah emosi, identitas, kebanggaan, bahkan bagi sebagian orang menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mengatakan: “Ini Indonesia saya.”
Tetapi justru karena itulah, setelah pesta selesai, kita perlu bertanya.
Apakah yang menjadi juara hanya Timnas Indonesia, atau sepak bola Indonesia secara keseluruhan?
Trofi yang mengakhiri dahaga. Orang menyebut kemenangan ini mengakhiri dahaga panjang Indonesia.
Jika ukurannya adalah sepak bola putra di SEA Games, memang benar. Emas terakhir diraih Indonesia di Manila pada 1991. Artinya, ada rentang 35 tahun hingga 2026. Bahkan ketika Indonesia kembali meraih emas pada SEA Games 2023, turnamen sepak bola putra SEA Games sudah menggunakan format kelompok usia, sehingga konteksnya berbeda dari tim senior.
Ada pula Piala Kemerdekaan 2008 yang dimenangi timnas senior Indonesia. Tetapi kemenangan itu terjadi dalam keadaan yang tidak biasa: Libya meninggalkan pertandingan final setelah babak pertama, sehingga Indonesia dinyatakan menang 3-1.
Maka, kemenangan atas Thailand kali ini memang punya arti khusus.
Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi juara turnamen FIFA ASEAN Cup.
Tetapi justru di sinilah pertanyaan berikutnya muncul. Apakah kita cukup puas dengan trofi? Ketika sebelas starter lahir di luar Indonesia
Ada satu pemandangan yang bagi saya lebih menarik daripada pesta juara.
Lihatlah starting XI Indonesia di final. Emil Audero. Kevin Diks. Elkan Baggott. Justin Hubner. Calvin Verdonk. Joey Pelupessy. Thom Haye. Luke Vickery. Ragnar Oratmangoen. Ole Romeny. Mitchell Baker.
Sebelas pemain yang menjadi starter itu merupakan pemain kelahiran luar Indonesia. Komposisi tersebut mencerminkan besarnya peran pemain diaspora dan pemain yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia dalam proyek Timnas saat ini.
Dan jangan salah. Saya tidak sedang mengatakan mereka bukan orang Indonesia.
Mereka adalah pemain Timnas Indonesia. Mereka mengenakan lambang Garuda. Mereka menyanyikan Indonesia Raya. Mereka berjuang memenangkan pertandingan untuk Indonesia.
Titik.
Masalahnya bukan pada kewarganegaraan mereka. Masalahnya adalah apa yang terjadi pada sistem pembinaan sepak bola kita ketika jalan tercepat menuju prestasi justru semakin bergantung kepada pemain yang dibentuk oleh sistem sepak bola negara lain?
Di final, pemain yang berkembang dari sistem sepak bola domestik seperti Rizky Ridho, Egy Maulana Vikri dan Rayhan Hannan baru masuk dari bangku cadangan.
Sekali lagi, ini bukan kritik kepada mereka.
Justru sebaliknya. Saya khawatir kepada sistem yang membuat talenta lokal harus menjadi penonton di bangku cadangan ketika negara sedang merayakan prestasi tertinggi sepak bolanya.
Dan ironisnya, masalah itu bukan hanya terjadi di Timnas
Coba kita lihat kompetisi domestik. Regulasi BRI Super League 2025/2026 memperbolehkan klub mendaftarkan maksimal 11 pemain asing dan menurunkan maksimal tujuh pemain asing sekaligus di lapangan. Bahkan untuk musim 2026/2027, aturan 11 pemain asing tetap dipertahankan, sementara kewajiban memainkan pemain U-23 WNI sebagai starter minimal 45 menit dihapus.
Paradoks sepak bola Indonesia
Di satu sisi kita ingin Timnas Indonesia semakin kuat. Di sisi lain, ruang kompetisi bagi pemain Indonesia untuk mendapatkan menit bermain di klub juga harus diperhitungkan.
Para pemain timnas tidak jatuh dari langit. Mereka lahir dari kompetisi. Mereka tumbuh dari akademi. Mereka mendapatkan menit bermain. Mereka gagal. Mereka dicadangkan. Mereka belajar. Mereka berkembang. Kemudian mereka dipanggil Timnas. Kalau mata rantai itu putus, dari mana generasi berikutnya akan datang?
Jangan sampai kita hanya memenangkan pertandingan, tetapi kalah dalam pembinaan
Kita sering mengukur kemajuan sepak bola dari ranking FIFA, jumlah kemenangan, trofi dan lolos turnamen.
Semua itu penting. Tetapi sepak bola nasional memiliki dua fondasi yang tidak kalah penting: kompetisi domestik dan pembinaan usia dini.
Timnas adalah puncak piramida. Bukan fondasinya. Kalau puncaknya bagus tetapi fondasinya rapuh, cepat atau lambat masalah akan muncul.
Hari ini kita mungkin mempunyai banyak pemain diaspora berkualitas. Besok juga mungkin masih ada.
Tetapi apakah sepuluh atau lima belas tahun lagi kita akan memiliki cukup pemain Indonesia yang lahir, tumbuh dan ditempa oleh sistem sepak bola Indonesia?
Itulah pertanyaan yang jauh lebih penting daripada siapa yang mengangkat trofi malam ini.
Jangan salah memahami diaspora Saya justru tidak anti-diaspora.
Sebaliknya. Pemain diaspora bisa menjadi jembatan pengetahuan.
Mereka membawa pengalaman dari akademi Eropa, budaya latihan yang berbeda, disiplin profesional, teknologi sport science, nutrisi, dan standar kompetisi yang lebih tinggi.
Mereka bisa menjadi katalis.
Tetapi katalis bukan fondasi.
Kalau diaspora datang untuk memperkuat Timnas sekaligus menjadi jembatan pengetahuan bagi generasi lokal, kita mendapatkan dua keuntungan.
Tetapi kalau diaspora hanya menjadi jalan pintas untuk mengejar trofi, sementara akademi lokal, pelatih usia muda, kompetisi usia dini dan kesempatan bermain pemain lokal tidak dibenahi, kita hanya sedang memindahkan masalah ke masa depan.
Kita mendapatkan prestasi.
Tetapi belum tentu mendapatkan ekosistem.
Di sinilah “roti dan sirkus” menjadi relevan
Saya teringat istilah klasik Romawi:
panem et circenses.
Roti dan sirkus.J
Ungkapan yang berasal dari satire Juvenal itu kerap digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat menggunakan pemenuhan kebutuhan material dan tontonan untuk meredakan kegelisahan publik. Dalam konteks modern, konsep tersebut tidak berarti setiap hiburan atau olahraga otomatis merupakan alat politik. Yang penting adalah pertanyaan mengenai fungsi dan konteksnya.
Karena itu saya tidak ingin terburu-buru mengatakan:
“Kemenangan Timnas adalah sirkus politik.”
Tidak sesederhana itu.
Presiden Prabowo hadir di GBK, bersorak dan menyaksikan langsung kemenangan Indonesia. Itu adalah fakta. Presiden juga menyatakan kemenangan tersebut bersejarah dan pemerintah menyiapkan dukungan bagi Timnas.
Tetapi kehadiran seorang presiden di pertandingan sepak bola tidak dengan sendirinya membuktikan adanya agenda pengalihan perhatian politik.
Yang lebih menarik justru adalah pertanyaan kepada kita semua:
Apakah kita sebagai publik akan berhenti pada euforia kemenangan, atau menggunakan kemenangan ini sebagai momentum untuk menagih pembenahan sepak bola secara lebih serius?
Sebab jika setelah konvoi, pesta, sorak-sorai dan bonus selesai kita kembali melupakan akademi sepak bola, lapangan latihan, kompetisi usia dini, kualitas pelatih dan kesempatan bermain pemain lokal, maka kita sendiri yang menjadikan trofi itu sekadar tontonan.
Trofi berubah menjadi sirkus.
Bukan karena pemerintah menyulapnya menjadi sirkus.
Tetapi karena publik berhenti bertanya setelah melihat pertunjukan.
Jangan biarkan trofi membius kita
Sepak bola memang boleh menjadi hiburan.
Bahkan harus.
Di tengah hidup yang semakin berat, harga kebutuhan yang naik-turun, pekerjaan yang tidak selalu mudah, dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, masyarakat memang membutuhkan kegembiraan.
Malam tadi kita mendapatkannya dari Timnas.
Dan itu sah.
Tetapi negara tidak boleh berhenti pada kemampuan memberikan kegembiraan.
Begitu pula publik.
Jangan sampai kita begitu puas melihat Garuda mengangkat trofi sehingga lupa bertanya:
Siapa yang akan mengangkat trofi sepuluh tahun lagi?
Apakah anak-anak yang sekarang berlatih di akademi sepak bola di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Papua, NTT, Maluku dan daerah-daerah lain?
Atau kita akan kembali mencari pemain yang sudah jadi dari luar negeri?
Pertanyaan ini bukan untuk memusuhi diaspora.
Justru sebaliknya.
Kita membutuhkan diaspora dan pemain naturalisasi sebagai penguat. Tetapi kita tidak boleh menjadikan mereka sebagai pengganti pembinaan.
Karena negara yang memiliki sepak bola kuat bukan hanya negara yang mampu membeli atau mendatangkan pemain bagus.
Negara dengan sepak bola kuat adalah negara yang mampu memproduksi pemain bagus.
Indonesia boleh berpesta. Setelah itu, mari bekerja
Jadi, malam tadi saya ikut bersorak.
Saya ikut tegang ketika penalti.
Saya ikut lega ketika penalti Thailand gagal masuk. Satu membentur tiang, dan satu lagi diselamatkan gemilang oleh Emil Audero Mulyadi.
Dan saya ikut bangga ketika Indonesia akhirnya menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026.
Tetapi hari ini, setelah pesta selesai, saya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana:
Apakah sepak bola Indonesia juga juara?
Kalau jawabannya belum, maka jangan berhenti pada trofi.
Perbaiki kompetisinya.
Perkuat akademinya.
Perbanyak lapangan.
Perbaiki kualitas pelatih usia dini.
Berikan menit bermain kepada pemain Indonesia.
Bangun sistem scouting nasional.
Dan jadikan pemain diaspora bukan jalan pintas, melainkan jembatan menuju standar sepak bola yang lebih tinggi.
Sebab Timnas adalah hasil dari sebuah sistem.
Kalau sistemnya sehat, prestasi akan terus lahir.
Kalau sistemnya sakit, kita mungkin masih bisa menang hari ini.
Tetapi akan terus bergantung pada keajaiban, kebetulan, atau jalan pintas.
Dan saya kira, setelah menunggu 35 tahun untuk merasakan kembali kebanggaan seperti ini, Indonesia layak mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sebuah malam kemenangan.
Indonesia tidak hanya membutuhkan timnas yang juara.
Indonesia membutuhkan sistem sepak bola yang membuat kita tidak perlu menunggu 35 tahun lagi untuk merayakan juara.

