Hadapi Disrupsi Teknologi, DPP GAMKI Soroti Pentingnya Ketahanan Kognitif dari Jerat Algoritma

Terima kasih ilmu dan pencerahannya, Chief Isyak Meirobie.

Dalam semangat Sumpah Pemuda kami di DPP GAMKI belajar dari doktor Isyak Meirobie bagaimana agar tidak terjebak permainan algoritma dari ‘mata-mata’ yang selalu ada di sekitar kita.

Mereka yang dengan tak sadar, maupun dengan kesadaran penuh, kita beri ‘makan’ setiap hari dengan gawai kita.

At the end, beri obatnya: setting dengan algoritma positif di ponsel, sebelum tidur. Bukalah konten yang baik-baik -keindahan alam, cerita inspirasi dll- agar dunia kita tak otomatis dijejali konten menyedihkan.

Kita tidak harus paling sering online. Kita harus paling siap berpikir jernih dan bertindak baik.

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) menggelar seminar nasional bertajuk “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Kegiatan yang berlangsung pada 27 Oktober 2026 ini juga mengusung subtema khusus, yakni “Angkatan Muda Kristen Hadapi Jerat Algoritma dalam Kehidupan Berkebangsaan”.

Seminar daring tersebut menghadirkan Rektor Institut Dargantara (Darma Ganesha Nusantara), Dr. Isyak Meirobie, sebagai narasumber utama, dengan dipandu oleh Jojo Rahardjo selaku host.

Memulai presentasinya yang berjudul “Melampaui Jerat Algoritma: Ketahanan Kognitif di Tengah Disrupsi Teknologi”, Isyak memaparkan bahwa evolusi algoritma saat ini telah bergeser menjadi kekuatan utama yang mengubah kebiasaan serta budaya manusia.

“Oleh karena itu, kita harus berpikir jernih dan memilih dengan sadar algoritma yang kita bangun,” ujar Isyak.

Ia mencontohkan, jika di masa lalu seseorang memiliki kebebasan penuh atas berbagai pilihan, kini algoritma justru mempersempit ruang pilihan tersebut berdasarkan pembacaan pola dan kecenderungan digital individu.

“Keterbatasan pilihan itu menjadi semacam echo chambers (ruang gema) yang akan mengamplifikasi algoritma yang kita miliki,” imbuhnya.

Dalam konteks yang lebih luas, amplifikasi secara komunal ini lambat laun akan memengaruhi pembentukan pola budaya masyarakat. Proses tersebut berjalan berbanding lurus dengan semakin banyaknya orang yang terpapar oleh pola algoritma serupa.

Merujuk pada data statistik komunikasi Indonesia yang dirilis pada 2025, sebanyak 230 juta penduduk Indonesia telah tersambung dengan akses internet. Dari jumlah tersebut, 180 juta di antaranya telah memiliki akun media sosial dengan rata-rata waktu akses mencapai 21 jam 50 menit dalam seminggu. Angka ini menunjukkan terjadinya pembentukan algoritma secara masif di tengah masyarakat.

“Masalah utamanya adalah konten seperti apa yang diakses dan berapa lama durasi pengaksesannya. Konten yang positif akan berdampak positif, sedangkan konten yang negatif tentu akan berdampak negatif,” jelas Isyak.

Menutup paparannya, Wakil Bupati Belitung periode 2018–2023 ini mendorong setiap individu agar lebih bijaksana dan kritis dalam mengelola serta membangun algoritma di ruang digital demi menjaga ketahanan kognitif bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.