Memang cara mengajar saya di kelas ‘Jurnalisme Global’ Unika Atma Jaya belum sefrontal Prof Rhenald Kasali. Beliau sangat terkenal dengan instruksi hari pertamanya di mata kuliah Pemasaran Internasional Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia.
“Pada akhir kuliah, kalian harus kumpulkan tugas cerita bepergian ke negara yang asing, tanpa bantuan dari teman dan sanak saudara. Bukan negara yang biasa berbahasa Inggris,” begitu arahannya.
Dan Prof Rhenald akan menolak tegas bila ada mahasiswa yang bertanya, “Pergi ke luar negeri? Dari mana duitnya?”
Tak boleh ada visi dan cita-cita besar mentok karena terbentur tembok: tidak ada dana. Cemen. Maka, mahasiswa pun berupaya segala cara. Side job, jualan pakaian thrifting dan cara-cara lain demi bisa trip abroad dan lulus matkul itu.
Selain itu, mereka harus menjadi relawan dan terlibat dalam kegiatan sosial atau membantu siapa pun yang membutuhkan.
”Tujuannya, keluar dari zona nyaman dan membuat perubahan,” kata Prof Rhenald.
Tak berani meminta mahasiswa senekat itu. Tapi terpikir, bagaimana agar teman-teman GenZ ini bisa berwawasan internasional selepas kelar dari matkul ini.
Saat Ujian Tengah Semester, assignment khususnya: semua harus pergi ke at America di Pacific Place. Bikin tulisan dari sana. Belajar mengenal Amerika Serikat yang tak sampai sekilometer dari kampus.
Saat Ujian Akhir Semester, diundi. Tugas individu. Ada yang jadi pecinta jejepangan visit ke Japan Foundation, belajar budaya Jerman di Goethe Institut, mengenal kultur Belanda di Erasmus Huis ke perpustakaan Prancis di IFI Thamrin, melongok Italia di IIC Jakarta, atau makin menyukai Korea dengan datang ke KCC.
Well done. Semua mengumpulkan tugas ‘jalan-jalan keliling dunia’ di Jakarta.
Semoga sukses ya di next perjalanan hidup selanjutnya. Semoga beneran Go Internasional, jelalahi bumi ini, kumpulkan sebanyak-banyaknya stempel visa di paspormu, kalahkan dosenmu yang baru dapat cap imigrasi 18 negara!

