“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia Diberkatilah orang yang mengandalkanTUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!“
Latar belakang kisah ini terjadi saat Yerusalem dikepung Raja Babel Nebukadnezar, tetapi Zedekia, Raja Yehuda, lebih mengandalkan pada aliansi politik dengan Mesir daripada datang kepada Tuhan.
Zedekia mengabaikan Firman Tuhan yang disampaikan Nabi Yeremia, menjadi bukti kemerosotan rohani nan dalam dengan tidak mempercayai Tuhan.
Kemerosotan rohani bak bom waktu yang akan meluluhlantakkan hidup kita. Krisis yang terjadi akan menyingkapkan siapa sandaran kita.
Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia. Kegagalan, kekurangan, perpecahan, dan kesialan akan menjadi bagian hidup seseorang.
Mengandalkan manusia berarti menjadikan daging dan kekuatan. Dalam konteks Yehuda, mereka mempercayai kalkulasi politik, namun meninggalkan Tuhan dan lebih kepada percaya manusia.
Kenyamanan, kekuasaan, dan jabatan dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Maka, orang yang meninggalkan Tuhan bak semak yang hidup di padang belantara. Yehuda nampak kuat secara politis, tapi kering secara rohani.
Ketika krisis datang, ke mana arah iman kita?
Sebaliknya, diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan. Mejadikan Tuhan sebagai sandaran hidup. Percaya bukan berarti tidak realistis, tetapi iman sejati melihat kekuasaan Tuhan lebih dahsyat daripada kekuatan lain. Ibarat pohon ditanam di tepi aliran air. Tetap hijau daunnya, tidak khawatir di tengah panas dan tahun kering, tapi terus menghasilkan buah.
Iman tidak meniadakan krisis, iman tetap eksis di tengah-tengah krisis. Kita menghadapi Nebukadnezar kita yakni ketidakpastian ekonomi, krisis rumah tangga, tekanan tempat kerja dan lain-lain. Prinsip iman Tuhan tidak berubah, diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.

