Hari ini kaki terarah mengikuti Ibadah GMS Central Park, Minggu 1 Maret 2026, pukul 17.00 WIB. Sudah lama tak ke sini. Firman Tuhan streaming dari Seminar Keluarga Senior Pastor Philip Mantofa.
Ibadah keempat mengambil tema ’Pernikahan, Perceraian dan Pernikahan Kedua’ Dasarnya dari Matus 19:1-10.
”Pernikahan sudah ada sebelum pemerintahan, kebudayaan dan masyarakat atau gereja ada. Pernikahan itu idenya Allah. Tujuan pernikahan adalah holyness bukan hapiness,” tegasnya.
Pastor Philip menekankan, dalam pernikahan, pikiran kita seharusya bukan lagi ”am i happy?”, tapi “am i faithful?”
Ayah tiga anak ini menekankan, kemesraan tidak diciptakan untuk coba-coba. Kemesran diciptakan untuk waktu yang lama.
Ia menggarisbawahi, sesuai Matius 19:6, Tuhan benci perceraian. ”Ada Plan B yang Tuhan izinkan, meski itu bukan inisiasi dari Tuhan,” jelasnya. Termasuk di sini maksudnya ’perceraian karena perzinahan’ yang merupakan ’kehendak bebas’.

Beberapa poin penting disampaikan di sini:
Pertama, pernikahan adalah rancangan Allah bukan ide manusia.
Kedua, Tuhan membenci perceraian dan menganggapnya sangat serius. ”A divorce may be permitted, but it might not be celebrated. Why look forward to the next one?” tanyanya.
Philip menambahkan dari I Korintus 7:12-14. Hidup ini terlalu pendek dibanding kekekalan. Sebelum cerai, harus ada pertobatan, pengampunan dan ‘pastoral conselling’.
“Apakah sudah fight memperjuangkan rekonsiliasi itu?”
Ketiga, hati yang lembut menyembuhkan apa yang hati keras runtuhkan.
Keempat, pernikahan kedua membutuhkan hikmat yang khusus dan tidak boleh gegabah.

Philip memaparkan, pernikahan kedua memerlukan ekstra bagasi, yakni luka lama yang yang tak bisa tertutup lama,
perbandingan-perbandingan ketimpangan, serta ’spiritual curse’.
“Am i heal from my first? Apakah hubungan ini kujalin dalam takut akan Tuhan, apakah memuliakan Tuhan. Jangan pakai pernikahan pertama untuk menyembuhkan apa yang tidak sembuh pada pernikahan pertama, itu namanya pelarian,” ingatnya.
Kelima, kasih karunia Allah lebih besar daripada pernikahan manusia.
”Suatu saat kita tak akan hidup seperti kawin mengawinkan tapi kita hidup seperti malaikat. Hidup dalam koridor kebenaran, sempurna bangkit dari kehancuran,” pungkasnya.
Selengkapnya di sini.


