Kotamobagu, artinya ‘kota yang baru’. Empat jam perjalanan mobil dari Manado.
Lipu’ Naton adalah frasa dalam bahasa Mongondow Sulawesi Utara, yang berarti ‘Kampung Halaman Kita’.
Sulawesi Utara totalnya terdiri dari sebelas kabupaten dan empat kota. Kota Kotamobagu lahir dari pemekaran Kabupaten Bolaang Mongondow, dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2007 pada 2 Januari 2007. Kota kotamobagu sebelumnya berstatus sebagai ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow yang kemudian dipindahkan ke Lolak. Jumlah penduduk Kotamobagu sekitar 125 ribu jiwa.
Ingatan saya melayang mundur pada awal 2000-an, saat menjadi jurnalis sepak bola di Surabaya dan mengenal tiga tim Sulawesi Utara ada di kasta tertinggi sepak bola tanah air. Persma Manado, Persmin Minahasa, dan Persibom Bolaang Mongondow. Di era APBD masih dipakai sebagai sumber pendanaan klub sepak bola, tiga klub itu kerap bertandang ke Stadion Gelora 10 November maupun Stadion Gajayana Malang. Dan, kini pun saya bisa membayangkan bagaimana Persebaya Surabaya saat away ke Stadion Gelora Ambang, kandang Persibom. Perlu sekitar empat jam perjalanan dari Manado.
Berbeda dengan Persma dan Persmin, karena kawasan Bolaang Mongodow mayoritas muslim, saat itu Persibom banyak merekrut pemain dari Ternate seperti Fandy Mochtar, kiper Ade Mochtar, Safrudin Rasyid, Rizal Tomagola, dan striker Quetly Alweny. Selain itu, tim berjuluk ‘Fajar Bulawan’ ini sempat punya pemain asing asal Chile Javier Rocha, Fernando Soler dari Argentina serta pemain lokal macam Leo Saputra, Sahari Gultom, dan Rivky Mokodompit.
Terima kasih Kotamobagu dan Bolaang Mongondow Raya atas memori indahnya…


