Makin lengkaplah perjalanan ke Sumatra Barat kali ini, dengan berjumpa sahabat pewarna dan penulis senior nagari yang memang terkenal dengan kekayaan dan sejarah sastrawinya.
Di The Atmosphere SkyLounge, rooftop cafe Hotel Santika Padang, kami berbincang. Ada Lenggogeni, wartawati senior harian Singgalang yang mengoleksi berbagai penghargaan.
“Sekarang saya juga mengelola media online sendiri. Sumbarmaimbau dot com namanya,” ungkap Lenggogeni. Maimbau berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti memanggil, mengajak, atau menyerukan. Istilah ini sering digunakan dalam konteks mengundang, memanggil orang, atau menjadi bentuk ajakan sungguh-sungguh. Dalam konteks adat, maimbau bisa berarti panggilan atau pemberitahuan.

Nama Lenggogeni berasal dari Puti Lenggogeni: Legenda Perempuan Minangkabau. Dalam cerita rakyat Minang, Puti Lenggogeni dikenal luas sebagai sosok putri bangsawan yang cantik, bijaksana, dan memiliki peran penting dalam dinamika sosial dan budaya.
Kami sama-sama terhubung sebagai alumnus International Visitor Leadership Program (IVLP) sebuah program dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang menerbangkan orang-orang pilihan mengikuti perjalanan hampir sebulan ke tanah ’embahnya demokrasi’ itu.
Selain itu, berteman hot coffee latte dan teh hangat di resto lantai 10 salah satu hotel terbaik di Padang ini, ada juga pemimpin redaksi Padang Ekspress, Tandri Eka Putra. Ia kerang disapa dengan ’Abenk’. ”Karena banyak orang ingatnya Tanri Abeng, mantan Menteri BUMN yang dikenal sebagai manajer satu miliar itu,” kisahnya.

Urusan peserta IVLP, Abenk jauh lebih lama lagi. Ia berangkat ke negeri Abang Sam pada 2007, tak lama setelah meliput bencana di Sumatra Barat dan terkoneksi dengan konsul jenderal AS di Medan.
”Saat itu, tema programnya tentang Pendidikan Dasar. Ada empat jurnalis Indonesia yang ikut, saya bersama rekan dari Majalah Hai, Suara Pembaruan danTabloid Sabili,“ kenang Abenk.
Yose Hendra dan Buku Mitigasi Bencana
Tak lama, hadirlah sahabat lawas. Yose Hendra. Jurnalis Media Indoneisa di Padang ini memberi hadiah buku karyanya; Mitigasi Kultural, Pengetahuan Lokal Kebencanaan Masyarakat Sumatra Barat.
Buku setebal 272 halaman yang diterbitkan dari Program Dana Indoesiana Kementerian Kebudayaan ini jadi pas konteksnya usai bencana banjir besar menghajar Sumatra akhir tahun lalu.

”Di Sumatra Barat, bencana bukan sekadar definisi dalam kamus. Ia hadir sebagai kenyataan yang saban waktu menorehkan jejak luka. Dari gempa, tsunami, banjir bandang (galodo), longsor, kebakaran hutan, hingga cuaca ekstrem,” kata Yose.
Pemimpin redaksi Langgam.id itu menjelaskan, fakta-fakta itu membuat Sumatra Barat kerap disebut sebagai ‘supermarket bencana’ perumpamaan yang menggambarkan sebuah ruang yang rentan diterpa nyaris segala rupa musibah.

”Bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan ruang belajar. Bahwa ingatan yang dirawat akan melahirkan ketangguahan, dan kearifan yang dipelihara akan menuntun generasi mendatang untuk hidup lebih selaras dengan lingkungannya,” kata Master Humaniora dari Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Andalas dengan tesis ’Sejarah Penanganan Gempa Bumi Sumatra Barat 1926 dan 2009’ ini.
Senang memelihara persahabatan dengan Uda-Uni penulis dan jurnalis hebat dari Ranah Minang. Semoga sehat selalu dan terus berkarya yang berdampak bagi kemanusiaan…


