Setelah mendapat anugerah keselamatan oleh Kristus, hidup kita tak boleh terfokus pada diri sendiri. Sebaliknya, panggilan kita juga harus tertuju kepada lingkup sekitar yang lebih luas, terkhusus panggilan untuk bangsa Indonesia.
Pendeta Audy Wuisang menekankan pesan itu saat memimpin ibadah pembukaan Rapat Kerja Nasional Pengurus Nasional Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Kristen Indonesia (PNPS GMKI) di Wisma Kinasih, Bogor, Jumat, 17 April 2026.
Senior GMKI Tomohon itu juga menyampaikan agar kita harus selalu menjadi insan yang senantiasa bersyukur, tak membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
”Janganlah seperti kisah burung gagak, yang iri melihat angsa berbulu putih nan bersih. Karena ingin bulu hitamnya jadi putih seperti angsa yang selalu berendam di kolam, gagak itu menyiksa diri berendam lama di kolam yang sama, dengan harapan bulunya akan jadi seputih angsa,” ungkap Audy.

Barangkali, lanjut Audy, kita kerap berpikir bagai sang gagak. Merasa kemanusiaan dan bahkan eksistensinya kurang jelas dan kurang bermakna.
”Kegalauan gagak, seringkali menjadi kegalauan kita juga. Apalagi, media untuk membandingkan semakin canggih, meluas, dan hidup yang tampil dalam kemasan medsos. Hidup digambarkan semua oke, indah, dan serba wah, sangat jauh dari pergumulan serta perjuangan orang-orang yang tak terperhatikan,” jelasnya.
Berdasar II Korintus 5:17, Audy menyatakan, gereja dan PNPS GMKI tidak bisa berpikir selamat sendiri dan membiarkan orang lain merasa tersesat dan menangis sendiri. ”Tugas kita adalah tugas ke dalam, membangkitkan serta membaharui manusia lama menjadi manusia baru, dan juga menemukan kemanusiaan kita kembali,” urainya.
Audy menggarisbawahi tugas kita menabur damai, membangun kemanusiaan dan relasi antar manusia tanpa pamrih. ”Tanpa maksud beroleh dukungan politik, tanpa niat supaya suksesdi Pemilu, dengan tanpa niat untuk kepentingan pribadi. Menanam benih damai, pastilah menuai sukacita,” pungkasnya.
Kotbah pembuka Audy Wuisang disambut Ketua Umum PNPS GMKI 2025-2028 William Sabandar yang menekankan organisasi ini merupakan organisasi besar.

“Kadang kita merasa kecil, lalu membandingkan diri bak gagak melihat merak. Tapi, sebenarnya kita ini organisasi besar. Kumpulan senior dari organisasi gereja dan organisasi mahasiswa yang paling tua, mengingat Christelijke Studenten Vereeniging op Java (CSV) yang menjadi cikal bakal GMKI telah berdiri sejak 1932 dan bahkan persiapannya sejak 1895,” kata William Sabandar.
Senior GMKI Makassar itu lalu menjabarkan ’Filosofi 1-3-5-9’ yang diusungnya. Satu visi bersama, tiga misi sesuai anggaran dasar, lima strategi dan sembilan ujung tombak dalam sembilan bidang kepengurusan.
Visi utama PNPS yakni ’bersatu melayani lewat peran senior GMKI se-tanah air untuk menghadirkan damai sejahtera bagi Indonesia’ yang dijabarkan dalam tiga misi utama.
Pertama, mempererat komunikasi, kolaborasi, dan kebersamaan (3K).
Kedua, mendorong kemandirian daya dan dana (2D) bagi GMKI.
Ketiga, menjadikan PNPS sebagai platform penggerak (2P) bagi senior-senior GMKI untuk mengisi berbagai ruang di pemerintahan, politik, bisnis dan posisi strategis lain.
”Di sini kami memiliki lima strategi. Dimulai dengan menjadikan Perkumpulan Senior GMKI sebagai rumah besar sehingga semua senior merasa nyaman, kemudian menjadi pusat kajian, Bible Study, pusat doa, spiritualitas dan kajian pembangunan,” urai William.

PNPS Tak Boleh Jakarta Sentris, Harus Kuat di Cabang
Selain itu, CEO MRT Jakarta 2016-2022 itu menegaskan strategi PNPS mendukung transformasi GMKI menjadi organisasi modern dan mandiri, menggerakkan peran nyata Senior GMKI dalam pembangunan sehingga suara kenabian membuat umat Kristen dihargai secara nyata seperti saat republik ini diciptakan.
Strategi terakhir yang juga sangat penting yakni kehadiran PNPS dan Pengurus Cabang Perkumpulan Senior (PCPS) di daerah.
”PNPS tidak boleh menjadi organisasi yang terlalu berpusat di Jakarta. Kehadiran senior GMKI harus terasa di setiap daerah di mana senior berada. Strategi PNPS harus menempatkan PCPS sebagai ujung tombak pengorganisasian, pelayanan, kaderisasi senior, penguatan jaringan Kristen lokal, dan dukungan terhadap cabang-cabang GMKI,” kata William berapi-api.
Bersama Sekjen PNPS Jeirry Sumampouw, William menggarisbawahi agar GMKI bisa independen sehingga tidak mudah dipengaruhi berbagai kelompok kepentingan. ”Hal itu hanya bisa terwujud kalau seniornya juga independen secara dana dan daya,” tegasnya.

Lebih dari 20 PCPS hadir dalam Rakernas I PNPS 2025-2026 ini, di antaranya Pengurus Cabang Ambon, Toraja Utara, Jakarta, Salatiga, Makassar, Jayapura, Seram Bagian Barat, Morowali Utara, Sorong, Tanjungpinang, Depok, Pekanbaru, Tobelo, Ternate, Jailolo, Bacan, Saumlaki, Morotai, Sofifi, Bandung, Tiakur, Bitung, Manado, Minahasa Selatan, Minahasa, dan Bolaang Mongondow Utara.
Dua cabang baru resmi dikukuhkan pada Rakernas ini. PCPS Bacan Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara dipimpin Leonar Hana Salaudin-Jeffrison Pureng dan PCPS Saumlaki Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku dipimpin Pendeta Rony Tamaela-Roy Lutuyali.

